Breaking News

2019 Gelap, akankah 2020 terang?

Reportase Obrolan Seputar Syariah Islam (OBSESI)

Majelis Taklim Inhadul Fikri kembali gelar kajian rutin bulanan bertajuk Obrolan Seputar Syariah Islam (OBSESI). Pada bulan Januari kali ini tema OBSESI yang diketengahkan mengangkat tema 2019 Gelap, akankah 2020 Terang? Kegiatan berlangsung pada hari ahad, 12/1 bertempat di Pontianak.
Andi Suryanto, Panitia pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa tema ini diangkat berkaitan dengan momentum baru berakhirnya tahun 2019 dimana banyak sekali peristiwa yang memperlihatkan kondisi gelap yang melanda negeri ini, khususnya yang menimpa umat Islam, sekaligus harapan bahwa di tahun 2020 ini suasana gelap tersebut berganti terang.

Hadir sebagai narasumber, Habib M. Iskandar AlQadrie, Pimpinan Pondok Pesantren Maulana Shultan Muhammad dan juga Ustadz Muslim Al Banjariy, salah satu pengasuh di Majelis Taklim Inhadul Fikri.

Habib M. Iskandar menyampaikan kondisi negara atau bahkan di dunia ini dipengaruhi oleh dua faktor. Yang pertama ulama dan kedua penguasanya. Jika pada tahun 2019 kita menyaksikan berbagai macam keterpurukan terjadi, bisa jadi karena ulama mulai melenceng dari ajaran Islam. Sebab ulama ini, ujar beliau, ada dua jenis. Ulama yang lurus, yakni tempat kita menimba ilmu, mendengar nasihat, berguru dan lain sebagainya. Juga ada ulama suu (bahasa arab artinya jelek/jahat). Ulama adalah pada hakekatnya berhubungan dengan ilmu dan kebaikan. Harta dan tahta adalah godaan yang bisa menjerumuskan ulama pada kehinaan. Itulah yang disebut ulama Suu

Menurut Habib Iskandar, ulama Suu adalah ulama yang ilmunya serampangan. Orang-orang seperti inilah yang pada akhirnya membawa negeri ini kepada keterpurukan. Banyak kemudian orang yang akhirnya sesat dan menyesatkan karena tergoda harta dan kekuasaan.

Faktor yang kedua adalah umara (penguasa). Hari ini banyak sekali penguasa yang jauh dari Islam. Bahkan menurut Habib banyak sekali penguasa yang risih dengan segala sesuatu yang berbau syar’i. Kenapa 2019 negeri kita terpuruk? Menurut Habib M. Iskandar, banyak sekali kebijakan dari para umara yang dzalim, yang mementingkan dirinya sendiri.

Sementara itu Ust Muslim Albanjariy fokus kepada sistem yang diterapkan oleh penguasa adalah sistem yang batil. Ini harus dievaluasi bersama. Seharusnya hukum Allah diterapkan bukan malah dicampakkan.

Ust Muslim kemudian memaparkan data-data berbagai macam peristiwa yang terjadi pada tahun 2019. Di antaranya sistem politik yang carut marut. Pada tahun 2019 ini, menurut Ust Muslim terdapat 121.993 laporan terkait pemilu bermasalah, juga fakta-fakta korupsi yang makin menggila. Soal kedaulatan,negeri ini secara kasat mata nyaris kehilangan kedaulatan karena di cengkeram China.
Bidang Ekonomi, Indonesai terkena jebakan hutang yang begitu besar. Pada tahun 2019 jumlah hutang kita mencapai 387,6 Juta Dollar yang setara dengan 5,5 triliyun rupiah. Belum lagi soal BUMN yang merugi. Pada tahun 2019 tercatat 23 BUMN berada dalam neraca kerugian.

Sementara itu di bidang Ideologi, menurut Ust Muslim, pada tahun 2019 kemarin radikalisme menjadi kata begitu sering muncul. Umat Islam dicap sebagai teroris, pelaku makar, tidak berbineka, anti NKRI, intoleran, dan sebagainya.

Kesemua itu merupakan buah dari penerapan sekulerisme dimana urusan kehidupan dunia memang harus dipisahkan dari urusan negara. Hal ini diperparah dengan para penyusun kebijakan negara yang dengan mudah bermain-main dengan hukum yang dibuatnya sendiri.

Oleh karena itu ust Muslim mengajak seluruh audience yang hadir untuk mengkaji Islam secara intensif, menerapkan sistem Islam secara kaffah sehingga optimisme di tahun 2020 akan terang adalah sesuatu yang terukur dan dapat benar-benar terwujud.

Leave a Reply