ADAKAH PELUANG BAGI KAUM MUSLIM UNTUK MENDIRIKAN KEMBALI KHILAFAH?

Dunia sedang menyaksikan hiruk-pikuk perang melawan negeri-negeri kaum Muslim yang belum pernah terjadi sebelumnya.”Perang melawan teror”. Semua negara di dunia berpartisipasi tanpa kecuali. Menjarah kekayaan negeri-negeri mereka dan menghancurkan semua asetnya.

Dunia tengah menyaksikan perang proxy. Perang ini dijalankan oleh para antek dan pemimpin tentara bayaran yang hanya mengetahui kepentingan penjajah.

Despotisme, ketidakadilan, penindasan, kelaparan dan kemiskinan terjadi. Sementara itu, rakyat dipimpin oleh seseorang yang jika berbicara bohong, jika berjanji dingkari, jika diberi amanah malah berkhianat, dan jika bertengkar dijadikan sumber perpecahan.

Dunia juga menyaksikan kontrol negara-negara besar atas nasib rakyat. Di antara mereka ada konflik sengit untuk berebut pengaruh dan kepentingan.

Di bawah beban realitas ini timbul sebuah pertanyaan: Apakah sekarang tersedia kesempatan bagi kaum Muslim untuk mendirikan kembali Khilafah?

Yang membuat upaya ini sulit adalah bahwa Khilafah bukanlah sembarang negara, melainkan alternatif peradaban yang mengancam eksistensi kapitalisme. Konflik dengan Khilafah adalah konflik peradaban. Konflik eksistensi yang mustahil dikompromikan. Konflik ini tidak akan berakhir kecuali dengan melenyapkan yang lain dari eksistensinya, sebab ini merupakan konflik ideologis.

Jadi, adakah kesempatan untuk mendirikan kembali Khilafah atau tidak?

Sebelum menjawab, kami ingin menyebutkan bahwa kaum Muslim wajib berjuang untuk menegakkan Khilafah dalam setiap keadaan. Kami yakin bahwa Allah Satu-satunya Pemilik dan Pemberi kemenangan. Jika Dia menginginkan sesuatu, Dia berfirman, “Jadilah! la pun jadi!”

Kewajiban kita hanyalah berjuang dan bertawakal kepada-Nya. Kemudian kita yakin bahwa janji-janji Allah tentang kemenangan dan kekuasaan pasti akan diberikan (Lihat: QS an-Nur[24]: 55).

Dengan demikian pembahasan terkait kekuatan materi dan kondisi internasional harus didahulukan demi kesadaran akan realitas internasional. Demikian pula persyaratan untuk mendirikan pemerintahan dan negara, juga untuk mempersiapkan setiap hal yang dibutuhkan untuk tujuan yang benar dan permusuhan besar. Termasuk pembahasan seputar tipudaya orang-orang kafir yang tidak pernah berhenti.

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu mempelajari topik-topik berikut:

1 – Konstelasi Internasional.

Ketika kita mengkaji konstelasi internasional, kita menemukan eksklusivitas Amerika dan kontrolnya atas keputusan internasional, juga dominasinya atas organisasi-organisasi internasional. Slogannya, “Siapapun yang tidak bersama Amerika adalah musuhnya.”

Ini adalah permusuhan atas negara-negara di dunia, sekaligus upaya memprioritaskan kepentingan Amerika di atas kepentingan bangsa-bangsa lain. Untuk itu, AS membuat konflik dan konspirasi di pusat hubungan internasional. Akibatnya, masing-masing saling melakukan tipudaya. AS juga menciptakan konflik internasional untuk berebut pengaruh yang dapat dilihat di setiap pusat konflik di dunia.

Kami menemukan konflik antara Amerika dan China, juga antara Amerika dan sekutunya di Aliansi Atlantik. Kami juga menemukan gejolak dalam hubungan AS-Rusia yang saling permusuhan. Kami juga menemukan permusuhan yang mengakar antara Eropa dan Rusia.

Selain itu, penarikan Amerika sebagai pemimpin Aliansi Atlantik dari Afghanistan memiliki dampak besar pada negara-negara aliansi dan pandangan mereka tentang masa depan aliansi, serta alternatif Eropa untuk itu. Ini menandakan adanya disintegrasi aliansi.

Aliansi Amerika, Inggris dan Australia serta kesepakatan kapal selam nuklir, yang dianggap Prancis sebagai tusukan dari belakang, berdampak dan akan mempengaruhi hubungan di antara negara-negara Uni Eropa; juga hubungan mereka dengan Amerika, terutama hubungan Prancis dengan Inggris.

Kami juga menyaksikan konflik internasional atas lingkup pengaruh yang diwujudkan dalam perang proxy dan kudeta militer.

2- Ideologi Kapitalis yang Berkuasa di Dunia.

Sekularisme (fashluddin ‘anil hayâh), menjadikan utilitarian (manfaat) sebagai tolok ukur perbuatan, menjamin kebebasan dan pembebasan dari semua nilai, menyebarkan ateisme, amoral dan penyimpangan seksual, dll telah menciptakan masyarakat terbelah. Mereka dirusak oleh penyakit sosial yang serius seperti nasionalisme, rasisme, aliran ekstrem sayap kanan, geng kejahatan terorganisir dan obat-obatan terlarang. Masyarakat tercabik-cabik, kehilangan persatuan dan kesatuannya. Ini membuat mereka lemah dan rapuh. Akibatnya, mereka tidak mampu menghadapi setiap krisis dan tantangan.

Ideologi kapitalis yang utilitarian (mengedepankan manfaat) dengan kerangka politik demokrasi dan standar ganda serta tujuan yang menghalalkan cara telah menciptakan berbagai konflik dalam masyarakat dan antarnegara. Berikutnya, semua itu menciptakan nilai-nilai moral, kemanusiaan dan spiritual yang merusak, yang menjerumuskan mereka ke dalam rawa yang bau dan busuk.

Sungguh, asas ideologi yang rusak, saat konsep ekonomi (kelangkaan relatif) dibangun di atasnya, telah menciptakan berbagai krisis, dan membawa solusi yang mengerikan serta brutal, yang hanya menghasilkan para kapitalis rakus dan monopoli yang mematikan.

Pendek kata, ideologi kapitalisme adalah reservoir (gudang) kejahatan dan pembuat tragedy rakyat. Di mana pun ideologi ini menginjakkan kaki, ia menciptakan kehancuran, kerusakan dan korupsi; juga menyebarkan kemiskinan, kelaparan dan perbudakan. Ideologi kapitalis telah menciptakan berbagai krisis yang menimpa para rezim kapitalis dan menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk memecahkan masalah yang menimpa perekonomian dan penyakit masyarakatnya. Akibatnya, hampir tidak ada negara di dunia yang tidak terbebani oleh utang dan berbagai penyakit yang mewabah.

Kebebasan, demokrasi, sekularisme dan globalisasi diklaim menjadi solusinya. Padahal justru semua itu telah menjadi akar penyakit dan sumber penderitaan.

3- Keadaan Umat Islam.

Orang yang mengamati keadaan umat Islam, ia pasti menemukan:

Kebangkitan Islam ada di semua negeri kaum Muslim. Ada peningkatan tingkat kesadaran umat yang dibuat oleh berbagai peristiwa.

  • Permusuhan terhadap penjajah dan alatnya.
  • Revolusi yang melanda negeri-negeri kaum Muslim yang menginginkan perubahan nyata telah melemahkan para penguasa dan mereka kehilangan dukungannya serta membuat pengaruh kolonialisme menjadi goyah dan tidak menentu.
  • Proyek penegakan Khilafah telah menjadi opini publik dan kekuatan rakyat yang mendukungnya di semua negeri-negeri Islam serta keinginan yang begitu besar untuk hidup di bawah naungan Khilafah dan penerapan syariah.

Adanya partai ideologis yang mengadopsi perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam. Tidak berhenti pada slogan-slogan longgar dan pepesan kosong. Partai ini telah merumuskan proyek Islam yang terintegrasi dan rinci, konstitusi dan sistem rinci yang mengatur kehidupan dengan begitu detail terkait urusan dalam dan luar negeri, serta mengadopsi isu-isu kaum Muslim di mana pun adanya. Partai ini mengemban Islam global yang tidak mengenal batas, warna kulit, atau ras. Partai ini juga sedang mempersiapkan para pengikutnya sebagai pemimpin dan negarawan serta mempersenjatai mereka dengan budaya Islam. Dengan itu terbentuk di dalam diri mereka kemampuan luar biasa untuk memahami politik dan mengelola negara dengan kekuatan manajemen yang ideologis. Hal in membuat takut semua kekuatan kufur dan antek-anteknya sehingga mereka tanpa henti terus memerangi partai ideologis ini.

Kesimpulan

Kita hidup dalam konflik internasional antara negara-negara kolonial yang saling bermusuhan untuk berebut kepentingan.

Kita sedang menyaksikan tumbangnya ideologi kapitalis dan ketidakmampuannya untuk memecahkan masalah-masalahnya, serta kejatuhan nilai-nilainya dan kegagalan negaranya.

Kita sedang meyaksikan ambruknya solusi dunia Islam militer untuk mengendalikan dan menguasai rakyat.

Kita melihat masyarakat Barat, yang dipimpin oleh Amerika, negara adidaya, terbelah dan pecah, tanpa ada hubungan antara komponen-komponennya. Pembuhunan motif rasisme telah merajalela. Masyarakatnya lemah tanpa afiliasi atau loyalitas, dan bahkan tidak memiliki sarana kehidupan. Semua itu tidak akan ada pada kaum Muslim.

Kita melihat para penguasa yang akarnya terpotong, singgasananya kering dan rapuh, sementara tongkat prajurit yang menjadi sandarannya tengah digerogoti ngengat.

Di sisi lain, kita melihat Islam yang sedang naik daun yang memiliki energi perkasa yang tidak ada sama sekali pada kekuatan kufur, jika energy itu dalam naungan Khilafah Rasyidah, serta kepemimpinan yang tulus ikhlas dan berkualitas.

Kita melihat peluang emas yang mengatakan kepada kaum Muslim: “Ini adalah waktu Anda, ia benar-benar telah datang menaungi Anda. Hembuskan kekuatan dan kalahkan musuh-musuh Anda. Lalu tegakkan negara Khilafah Anda, kehormatan tengah menanti Anda, dan Anda layak mendapatkan itu.”

Kami mengimani Pencipta alam semesta dan Penguasanya. Di tangan-Nya kendali semua urusan. Dia adalah Penolong para kekasih-Nya dan Penghina bagi musuh-musuh-Nya. Janji-janji-Nya adalah kebenaran. Hukum dan pemerintahan-Nya adalah pemutus semua masalah. Kami memohon kepada Allah agar membuka hati kaum Muslim pada umumnya, dan para penguasa pada khususnya, untuk menolong agama ini dan menegakkan Khilafah yang Dia perintahkan.

Untuk itu, bahu-membahulah dengan saudara-saudaranya di Hizbut Tahrir. Semoga Allah memuliakan kita dan mereka. Semoga kemenangan-Nya terjadi melalui tangan kita dan tangan mereka. Dengan demikian kita akan meraih kemuliaan di dunia dan kehormatan di akhirat. [Sumber: Alraiah.net, 10/11/2021].

Sumber : Majalah Alwaie Edisi Desember 2021