Breaking News

Antara UAS dan HTI.

Oleh : Fitri Khoirunnisa (Aktivis KIMI)

Menjelang pilpres 2019, nama UAS melejit menjadi buah bibir di seantero Nusantara. Ini disebabkan ijtima’ ulama telah merekomendaikan UAS untuk jadi Cawapres mendampingi Prabowo di pilpres 2019 nanti.

Namun apa dikata, rekomendasi itu telah dengan nyata ditolak sendiri oleh UAS. Penolakan beliau sudah berkali-kali beliau sampaikan pada kajian-kajian beliau pasca adanya rekomendasi ulama tersebut. Penolakan yang diucap berkali-kali itu memang harus beliau sampaikan karena hampir di semua kajian beliau pasca rekomendasi ulama, beliau dapat pertanyaan tentang hal itu dari jama’ah.

Bahkan salah satu TV nasional sudah mengadakan wawancara langsung dengan beliau dengan mengirim reporternya menjumpai UAS di sela-sela kedatangannya ke Palembang. Hasilnya, sama. UAS tetap dengan tegas menolak dengan alasan sebagaimana beliau sampaikan. Beliau tetap memilih berada di jalur dakwah, jadi ustadz.

Muncul berbagai tanggapan atas penolakan tersebut. Ada yang mendukung UAS atas penolakannya, dan ada yang menyesalkan UAS atas penolakannya. Bahkan ada yang terus berupaya agar UAS merubah keputusannya. Belakangan mulai ada statement-statement yang kurang adab atas penolakannya itu. Contohnya statement yang menyatakan Jika Prabowo kelak kalah, maka yang disalahkan umat adalah UAS. Ada lagi yang mengatakan bahwa dengan ekputusannya itu, UAS berarti kufur nikmat. Na’udzubillah ……..

Sebelumnya, hal serupa dirasakan HTI. HTI telah menyatakan berjuang di luar parlemen. Namun banyak pihak yang “memaksa” agar HTI masuk ke dalam parlemen. Dalam Pemilu, HTI diminta memilih, jangan golput.

Tidak cuma saran saja, akhirnya muncul statement yang sama seperti kepada UAS sekarang. Kalau kafir berkuasa, maka yang salah HTI. HTI menkhianatai ummat karena tidak mau memilih calon pemimpin yang didukung umat.

Jika UAS tetap pada pendiriannya tidak bersedia jadi cawapres, akankah beliau kita anggap mengkhianati ummat ? Akankah beliau kita anggap melawan ijtima’ ulama, tidak menghargai ijtima’ ulama ????

Persoalannya tiak sesederhana itu.

UAS itu adalah seorang Ustadz yang menurut saya sangat cerdas, berwawasan luas, ngerti persoalan. Begitu juga HTI dalam kapasitas organisasi.

UAS membandingkan hasil apa yang akan bisa didapatnya jika dia jadi wapres dibanding hasil yang didapatnya jika dia tetap jadi ustadz. Saya yakin beliu sudah menakar ini dengan teliti. Ukurannya bukan pada ada maslahat atau mudharat, bukan pada untung rugi, tapi pada halal haram. Sandarannya syariat Islam, bukan pada nafsu atau hanya mengikuti keinginan mayoritas manusia.

Jika UAS kukuh tidak mau menjadi bagian dari penguasa, itu sandarannya adalah syariat Islam. Begitu juga dengan HTI. HTI kukuh tidak mau masuk dalam parlemen, sandarannya syariat Islam. Ketika syariat memutuskan bahwa disitu ada keharaman, kita berpantang untuk melakukannya. Demikian juga UAS.

Lihatlah, dari mereka yang berkeinginan agar UAS jadi cawapres, sandarannya terutama bukan pada syariat Islam, tapi pada untung rugi. Kata-kata “setidaknya” bertebaran sebagai alasan kuat mendukung UAS jadi cawapres. Padahal Islam tidak mengenal kata “setidaknya”. Islam hanya mengenal halal atau haram. Kata “setidaknya” itu, konotasinya mencampurkan yang halal dengan yang haram.

Begitu juga dengan mereka yang berkeinginan agar HTI masuk ke parlemen, memilih, kata “setidaknya” itu juga ada.

Di salah satu laman berita, saya membaca komentar UAS yang bunyinya kira-kira begini :

” Biarlah saya tetap di kajian-kajian, di mesjid-mesjid, dan mereka di parlemen. Nanti kita lihat siapa yang lebih baik ketika berhadapan dengan Allah SWT.”

Ini mengisyaratkan bahwa posisi beliau sebagai ustadz itu beliau yakin bukan profesi yang rendah, bahkan jika dibandingkan dengan mereka yang duduk di kekuasaan. Sehingga ketika beliau tetap mempertahankan jadi ustadz, bukan berarti menolak sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia, tapi justru menolak sesuatu yang lebih rendah di banding apayang beliau lakukan selama ini.

Demikian juga HTI. HTI tidak melihat masuk parlemen itu sebagai sesuatu yang lebih baik dari apa yang tengah dilakukan HTI selama ini. Apa yang dilakukan HTI, selama ini justru sesuatu yang terbaik, karena ini meneladani apa yang dilakukan Rasulullah. Sementara parlemen itu meneladani kafir, karena keberadaan parlemen itu adlaah buah pikir dari kafir yang bernama Demokrasi.

Perkara untung rugi, semua kita serahkan pada Allah. Jika kita menyandarkan segalanya pada syariat, walaupun kerugian yang datang, di mata Allah SWT tidak ada yang salah pada kita. Namun jika menyandarkan semata pada untung rugi, bukan syariat, jika keuntunganpun yang datang, di mata Allah SWT kita adalah orang-orang yang bersalah, karena perbuatan kita itu telah menyalahi syariat Islam.

Semoga Allah SWT meneguhkan hati, mengukuhkan kedudukan Ust. Abdul Somad, dan semakin gigih dalam dakwahnya menyeru manusia untuk taat pada syariat dan mau menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.

wallahu a’lam.

Leave a Reply