Breaking News

Biden Terus Berupaya Mengeluarkan AS dari Afghanistan

Setelah rezim boneka AS di Kabul runtuh jauh lebih cepat dari yang diperkirakan Amerika, dengan pemimpinnya, Ashraf Ghani, yang sudah melarikan diri ke UEA. Amerika ditinggalkan dengan kekacauan dari negara tersebut.

Media dunia dipenuhi dengan peristiwa mengejutkan missmanagement bandara Kabul di bawah kendali AS, salah seorang pejabat Taliban berkomentar, “Amerika, dengan segala kekuatan dan fasilitasnya… telah gagal menertibkan bandara. Ada kedamaian dan ketenangan di seluruh negeri, tetapi kekacauan hanya ada di bandara Kabul.”

Amerika tidak mungkin berjanji untuk menerbangkan sejumlah warga Afghanistan yang terbatas di tengah-tengah transisi kekuasaan yang masih berlangsung dan sangat dinamis serta menempatkan mereka kembali ke Barat, yang saat ini di dunia dipandang lebih makmur secara ekonomi daripada negara-negara Muslim lainnya karena sumber daya dan kekayaannya yang telah dieksploitasi oleh Barat.

Bisa ditebak, hal ini mengakibatkan munculnya kepanikan kerumunan massa besar-besaran yang dalam hal ini AS tidak dapat mengontrol atau bahkan tidak dapat mengakomodasi apa yang ada di dalam fasilitas bandara. Kemudian pada hari Kamis, hal yang tak terhindarkan terjadi, dua ledakan yang ditargetkan pada kerumunan massa mengakibatkan kematian sehingga dilaporkan hingga 200 orang termasuk selusin personel militer Amerika dan lebih dari dua lusin pasukan Taliban.

Seorang juru bicara Taliban mengecam keras serangan itu, dengan mengatakan “Imarah Islam memperhatikan keamanan dan perlindungan rakyatnya, dan lingkaran jahat akan dihentikan secara ketat.”

Sementara itu, Presiden AS Joe Biden berada di bawah tekanan domestik dan internasional atas penanganan dalam mencari solusi. Pada hari Selasa, Biden menolak untuk tunduk pada tekanan di dalam pertemuan online-nya dengan sesama pemimpin G-7, khususnya Inggris, untuk memperpanjang penarikan sampai dengan 31 Agustus.

Media politik Inggris telah mengecam keras penarikan mundur Biden dari Afghanistan, tidak hanya untuk menertawakan kekalahan Amerika tetapi juga karena kebijakan luar negeri Inggris dibangun untuk mendorong Amerika dengan keras ke arena internasional melawan kekuatan besar lainnya, sesuai dengan keseimbangan lama dari Inggris. Sebagai pemikiran kekuasaan.

Selanjutnya, semua kekuatan besar telah menggunakan pendekatan ‘keseimbangan kekuatan‘ dari waktu ke waktu dalam satu atau situasi yang lain, Inggris telah meningkatkan hampir ke tingkat ketetapan metode dalam kebijakan luar negerinya. Hampir seabad yang lalu, Inggris membawa AS ke Timur Tengah setelah runtuhnya Negara Ottoman untuk memberikan keseimbangan terhadap ekspansionisme Rusia yang ditakuti ke tanah-tanah Muslim.

Sedangkan hari ini Inggris menghasut Amerika untuk melawan tidak hanya Rusia tetapi juga China. Mundurnya Amerika dari Afghanistan merupakan kekalahan tidak hanya bagi Amerika tetapi juga bagi kebijakan luar negeri Inggris.

Kegagalan di Afghanistan memperjelas apa yang telah kami katakan untuk masa waktu yang sangat lama, yaitu bahwa kekuatan besar saat ini, meskipun hegemonik dan dominan secara global, namun dibatasi oleh keterbatasan secara fundamental (red_ideologi), sementara Umat Islam masih memiliki potensi untuk bangkit di dalam dirinya untuk memimpin dunia. Dengan izin Allah, umat Islam akan segera menegakkan kembali Negara Khilafah Islam yang sahih dengan metode Nabi saw. untuk menyatukan semua tanah Muslim, membebaskan wilayah yang diduduki, memperbaiki cara hidup Islam, menerapkan Syari’at Islam dan mengemban cahaya Islam ke seluruh dunia.[]

Sumber : http://hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/2017-01-28-14-59-33/international-news-review/22007.html