Breaking News

Buletin Teman Surga 128. Balada Pelajar Corona

Hallo, Guys! Kali ini kita akan membahas sesuatu yang huham alias pedes. Eits, tapi bukan tentang sambel balado loh ya! Kita ngobrolin soal balada pelajar corona. Tahu dong apa itu balada? Hah, sejenis makanan bala-bala? Duh, Guys, bukan!

Kalau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata balada itu berarti sajak sederhana yang mengisahkan cerita rakyat yang mengharukan. Cakep kan, kita jadi buka KBBI gara-gara kata balada. Bertambah satu ilmu soal kosa kata. Alhamdulillah!

Nah #TemanSurga, kali ini kita mau pakai kata balada untuk menggambarkan keharuan atau bisa juga disebut ketragisan kondisi para pelajar di masa corona saat ini. Ya kali, remaja kan juga bagian dari rakyat. Jadi butuh didengar segala keresahan dalam jiwanya kan ya. Apalagi selama pandemi, belajar harus daring sampai bikin ortu darah tinggi. Kitapun jadi salting dan sudah pasti lelah hati. Bener enggak sih? Betul banget Guys!

iklan buletin teman surga

Buka Mata Agar Peka

”Lebay! Gue mah biasa aja tuh belajar online! Malah asyik, bisa sambil rebahan di rumah. Santuy, bisa puas drakoran!”

Heh, Ijah! Itu Elo, anak sultan! Segala fasilitas ada di Elo. Bagaimana dengan pelajar lain yang nasib kekayaannya minus? Please deh, peka! Tenggang rasa! Hidup ini bukan hanya soal diri sendiri, Jah! Ijah! Duh, emosi jiwa deh gara-gara si Ijah. Maafkeun ya teman-teman! Hehehe!

Tapi emang benar sih, bahwa hidup ini harus saling peduli. Apalagi kita menyandang gelar sebagai seorang muslim. Bbbeehhh! Kudu bin wajib untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri. Tau dong slogan kita sebagai muslim? Yes, umatan wahidah alias umat yang satu. Artinya ada hubungan erat antar manusia yang beraqidah Islam. Bahkan sampai diibaratkan bagaikan satu tubuh, loh! Masyaallah! Fix, kita enggak boleh abai dengan kondisi orang-orang di luar dari diri kita.

Kuy, belalakkan mata. Ternyata proses belajar daring itu menjadi dilema besar bagi bangsa kita. Banyak hal yang menjadi kendala hingga akhirnya menyumbat keefektifan proses belajar mengajar.  Sebagaimana pemaparan seorang siswa berseragam putih abu-abu dalam rekaman video yang lagi viral itu loh. Pencetus kalimat ”Jika sekolah bertujuan untuk pintar, maka google lebih pintar” yang mewakili  mayoritas hati pelajar dan pendidik senusantara. Tahu kan?

Bukan, bukan sosok si dianya yang dimaksud. Tetapi konten yang dia jabarkannya! Hadeh! Jadi gamblang banget tuh si doi ngejelasin bahwa banyak hal yang jadi kendala dalam proses pembelajaran dariing. Gadget, kuota, sinyal, bahkan sering mati lampu di wilayah-wilayah tertentu jelas sangat mengganggu. Belum lagi harga kuota atau paket data yang dijual dengan harga mahal di pelosok daerah.

Ditambah lagi dengan adab belajar yang mulai pudar sebab menganggap remeh pembelajaran online. Misalnya,  banyak siswa yang habis absen lanjut tidur lagi. Ada yang enggak mandi saat mengikuti proses belajar. Ada juga yang pakai seragam asal-asalan. Alias pakai seragam bagian atas saja, bagian bawahnya santai pakai hawai. Ada lagi yang lebih ajaib,  belajar dengan mematikan kamera alasannya hemat paket padahal nyambi nonton atau baca komik. Gubrak!

Masalahnya bukan hanya pada internal pelajarnya saja, Guys. Persoalan Eksternal juga begitu dahsyat melanda. Semisal yang terjadi di Kulonprogo, Jogyakarta. Pembelajaran daring di daerah tersebut terkendala oleh 120 area blank spot atau tidak terjangkau jaringan internet. Belum lagi keterbatasan finansial orang tua sehingga masih banyak siswa yang tidak memiliki gadget. Alhasil, 20 persen siswa TK sampai SMP di Kulonprogo ini kesulitan mengikuti belajar daring. Krjogja.com (27/8/2020)

Kesulitan ekonomipun juga dirasakan di daerah lainnya. Orang tua siswa SMA/SMK di Provinsi Banten yang berpenghasilan pas-pasan kelabakan. Mereka merasa kesulitan untuk  membeli hand phone dan kuota internet. Indopos.co.id (26/8/20)

Bahkan  akibat sulitnya finansial, seorang Ayah nekat mencuri hand phone agar anaknya bisa mengikuti belajar daring, Guys. Miris banget enggak, sih? Kejadian mengenaskan ini terjadi di Kampung Cilelang, Desa Jati, Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat.Merdeka.com (7/8/2020)

Gimana, Dear? Masih sanggupkah mengatakan ”yang penting Gue” di atas persoalan teman-teman kita tersebut? Hiks! Jangan ya Dear! Ingat, kita muslim maka kita harus peka dan peduli, yes! Menjadi apatis dan indivudualis itu berat pertanggungjawabbannya. Biar aja Sosialisisme dan kapitalisme yang menanggungnya.

iklan buletin teman surga

Menjadi Remaja Solutif

Tidak dipungkiri, hampir setengah tahun mengikuti pembelajaran serba online emang bikin jenuh bin keruh. Jenuh sebab suara teduh bapak-ibu guru tidak lagi terdengar. Riuh canda tawa teman-teman tidak lagi terngiang. Juga keruh, sebab hubungan dengan ortu jadi kian menegang. Ortu jadi darah tinggi karena harus turut terlibat penuh dalam proses pembelajaran. Belum lagi kudu muter otak agar semua kebutuhan dapat terpenuhkan. Ya, termasuk pengeluaran tambahan untuk kuota internet yang bisa dikata ugal-ugalan. Duh, runyam!

Kondisi saat ini memang serba berat, Dear. Tetapi kita harus yakin, bahwa Allah Swt tidak memberikan kesulitan kecuali disertai dengan kemudahan. Maka kita harus segera move on dan fokus mencari solusi atas berbagai kesulitan yang kita hadapi saat ini. Semangat!

Hal paling utama tentu saja kita harus menunaikan secara optimal amanah sebagai pelajar. Yapz, betul! Kita memiliki amanah untuk belajar. Nah, maka fokuskan diri kita agar betul-betul optimal dalam belajar. Jangan sampai, jadwal belajar jauh lebih sedikit daripada jadwal berselancar di sosial media. Kegiatan belajarnya hanya satu jam, eh tapi nge-gamenya tembus 23 jam. Wadaw!

Selain itu, kita juga kudu peka dengan kondisi ortu. Biasakan peduli dan turut membantu segala kesusahan ortu. Tentu dengan batas kemampuan yang kita punya. Misalkan, membantau membersihkan rumah. Membantu tidak menambah beban pikiran ortu dengan disiplin belajar dan ibadah. Membantu mengurangi pengeluaran biaya  kuota internet dengan cara hanya memakainya  untuk kebutuhan belajar, dan seterusnya.

Bagaimana dengan daerah yang tidak terjangkau jaringan internet? Bagaimana pula dengan kondisi yang memang tidak punya cukup uang untuk membeli gadget dan paket internet? Nah, kalau soal ini memang tidak mungkin kita atasi sendirian. Butuh banyak elemen untuk mengatasi persoalan ini. Utamanya ya memang butuh kebijakan dari pemerintah kita, Guys. Hem, iya. Emang begitu semestinya.

iklan buletin teman surga

Jejak Pendidikan Dalam Peradaban Islam

Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah hal mendasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan, wajib bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu. Baik ilmu dunia berupa sains dan teknologi, terlebih lagi ilmu agama. Maka hal ini yang menjadi dalil, bahwa negara memiliki kewajiban untuk menjamin pendidikan setiap warga negaranya tanpa terkecuali.

Sebagaimana yang pernah terbentang sepanjang peradaban Islam, pendidikan menjadi salah satu urusan yang mendapat porsi perhatian sangat besar. Negara berperan menyelenggarakan pendidkan secara cuma-cuma dan berkualitas. Juga menjamin agar pendidikan ini mudah diakses oleh seluruh rakyat bahkan hingga ke pelosok negeri. Secara silih berganti, pemimpin dalam peradaban Islam menunaikan kewajibannya ini secara optimal. Hal ini dikarenakan ketakutan mereka akan hisab di akhirat kelak. Masyaallah!

”Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah kerja menunaikan amanah yang berlandaskan iman. Memberikan maslahat bagi alam semesta dan seisinya. Mencerdaskan kehidupan seluruh warga negara. Itu artinya, mengangkat derajat kehidupan manusia. Menjamin kesejahteraan dan kemuliannnya. Bahkan tidak hanya di dunia, tetapi juga hingga akhirat yang baka. Masyaallah!

Jika pada masa lalu pendidikan berkualitas itu mudah didapatkan, semestinya akan lebih mudah di masa modern kini. Kuncinya satu, seluruh elemen beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Maka rahmat serta berkah pasti akan tercurah dari langit dan bumi. Begitu janji-Nya. Kamu percaya? Aku sih, yes![]

 

Sumber: https://temansurga.com/buletin-teman-surga-128-balada-pelajar-corona/