Breaking News

Buletin Teman Surga 129. Remaja Melek Sejarah

“Yang lalu biarlah berlalu. Nggak usah diungkit-ungkit lagi”

Bener banget pepatah di atas kalo kita punya masa lalu kelam dan ingin berhijrah, masa lalu cukup jadi pelajaran biar kita bisa fokus menatap masa depan.

Tapi pepatah di atas salah alamat kalo dipakai untuk ngeles dari belajar sejarah. Beneran lho. Ada pelajar yang saking malasnya belajar sejarah, pakai pepatah di atas sebagai dalih pembenaran. Emang ada apa dengan pelajaran sejarah? Sampai segitu malesnya untuk belajar sejarah?

Ada Apa dengan Pelajaran Sejarah?

Belajar sejarah itu…. nano-nano rasanya. Bagi remaja yang kadar kepo-nya tinggi, belajar sejarah itu mengasyikkan. Doi bakal kecanduan baca buku-buku sejarah. Keranjingan menggali banyak pesan terpendam di masa lalu yang menjadi pijakannya untuk perbaikan di masa depan.

Sebaliknya, bagi remaja yang ngerasa belajar sejarah itu menjenuhkan bakal selamanya jadi beban. Sayangnya ini yang kebanyakan dirasakan oleh para pelajar. Terjebak dalam keharusan menghafal tanggal, nama tokoh, dan peristiwa di masa lalu yang jumlahnya banyak dan sejatinya tak berkaitan langsung dengan keseharian. Hafalan sejarah hanya untuk ngisi soal ujian. Gak membekas blas!

Padahal, pepatah latin bilang, Historia Magistra Vitae, Nuntia Vetustatis. Sejarah adalah Guru Kehidupan dan Pesan dari Masa Silam. Hari gini, vokalis group band Padi, Fadly juga ternyata penyuka buku-buku sejarah lho. Alasannya, “Sejarah itu menentukan kita mau memutuskan apa ke depan. Kita belajar kebijaksanaan. Itu jadi pelajaran buat kita. Dan, bisa menentukan kita ke depan seperti apa dari sejarah yang sudah ada. Kita mau dikenang seperti apa? Baca buku sejarah kita akan ketahui, mau jadi yang merusak atau memperbaiki,” kata dia.

Selain Fadly Padi, masih banyak tokoh dan figur terkenal lain yang juga gembar belajar sejarah. Dan ternyata, belajar sejarah itu tak selamanya unfaedah. Sebaliknya, justru belajar sejarah bisa menjadi pemantik semangat kita untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Catat!

iklan buletin teman surga

Pentingnya Belajar Sejarah Islam

Sebagai remaja muslim, pastinya kita pengen masa depan kita bermanfaat untuk umat dan membawa kebahagiaan dunia akherat. Untuk itu, jangan sampai remehkan sejarah. Terutama sejarah tentang Islam. Karena kalo kita belajar sejarah, baik siroh nabawiyah atau perikehidupan para sahabat, kita bisa ngambil ibroh atau hikmah, yang jelek kita tanggalkan, nah yang bagus bisa kita pake. Kalo kita tahu sejarah Islam, sejarah tentang penyebaran Islam misalnya, kita tahu bahwa Islam ini memang disebarkan lewat dakwah, bukan tersebar dengan sendirinya.

Apa akibatnya kalo kita nggak peduli sejarah Islam?

Pertama kita bisa kena kibul dengan orang-orang yang dengan sengaja membelokkan sejarah Islam; atau kedua, kita bisa kehilangan inspirasi, kehilangan runutan atau riwayat Islam, karena ada orang-orang yang sengaja menguburkan sejarah Islam.

Maka, kita seharusnya bukan saja harus peduli sejarah, tapi kita juga harus mempelajarinya, biar kita nggak dikadalin oleh para pengabur dan pengubur sejarah. Misal saja, kalo sejarah tentang sampainya Islam ke negeri kita Indonesia, ditulis atau diriwayatkan oleh para orientalis, maka kita akan kesulitan menemui keterkaitan Islam di Indonesia dengan Islam yang asal muasalnya dari negeri Arab. Padahal, secara logis aja nggak mungkin Islam bisa tersebar di Indonesia, kalo cuman dibawa sama angin, dibawa sama burung. Udah pasti ada sebuah kesengaajaan, ada sebuah upaya tersistem, terstruktur alias teragenda, untuk membawa Islam sampe ke Indonesia.

So, kalo hal-hal yang kayak gitu, luput dalam pengamatan kita, alamat bakal kehilangan jejak yang benar tentang Islam. Bahaya!

iklan buletin teman surga

Sejarah Islam Sampai ke Indonesia

Tentang masuk atau sampainya Islam ke Indonesia, banyak teori sejarah yang mengungkapkan. Dari beberapa teori sejarah tersebut, menyebut tahun atau Abad masuknya Islam ke Indonesia. Ada yang menulis Abad 6 atau 7 Masehi, dan Abad 13-15 Masehi. Sementara dari sisi pembawanya, para ahli ada yang menyebut Islam dibawa oleh para pedagang, ada yang menulis dibawa oleh para pengajar agama (utusan), dan sebagainya. Setidaknya ada 4 teori sejarah yang ditulis oleh beberapa ahli.

Pertama: Teori Gujarat

Di antara ahli atau penganut teori ini adalah S. Hurgronje dan J. Pijnapel. Ini terjadi sekira abad 13 M pada masa pemerintahan Khilafah Usmaniyah. Teori ini mengatakan bahwa Islam dibawa oleh pedagang dari Gujarat (India) yang melakukan kontak di sekitar Selat Malaka (Aceh, Sumatera Utara). Untuk mendukung teorinya, para ahli mengkaitkannya dengan makam Raja Samudera Pasai, Malik As Salih sekitara tahun 1297, konon makamnya bercorak Gujarat.

Kedua: Teori Timur Tengah (Arab)

Teori Gujarat dinilai kurang sahih karena memiliki banyak kelemahan. Di antara penolaknya adalah Buya Hamka yang sekaligus penganut Teori Arab. Menurut Buya Hamka, India hanya menjadi persinggahan para pedagang dari Arab, Gujarat pada abad ke-12 hingga 13 M masih merupakan wilayah Hindu. Ajaran Islam yang kemudian masuk ke Gujarat pun berasal dari mazhab Hanafi, bukan mazhab Syafii yang lebih lekat dengan muslim Nusantara. Menurut Hamka, Islam sudah ada di Nusantara sejak abad ke-7 M atau tahun-tahun awal Hijriah, dibawa oleh bangsa Arab, khususnya dari Mekkah. (dikutip dari A. Shihabuddin (2013:474) dalam Membongkar Kejumudan: Menjawab Tuduhan-Tuduhan Salafi Wahhabi.)

Ketiga: Teori Persia

Teori ini bisa terbilang baru. Dari sisi tahun, masuknya Islam sama dengan teori Gujarat yakni sekitar Abad 13 Masehi. Menurut Hoesein Djajadiningrat, salah satu penganut teori ini, mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia (Iran sekarang). Didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain tradisi 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, dan tradisi tabot di Pariaman Sumatra Barat dan Bengkulu. Secara teori, teori Persia tidak berdiri sendiri, teori ini menempel pada teori Gujarat dan Teori Cina.

Keeempat: Teori Cina

Teori ini meyakini bahwa Islam memasuki Indonesia bersama migrasi orang-orang Cina ke Asia Tenggara dan memasuki Palembang Abad 9 M. Slamet Muljana dan Sumanto Al Qurtuby adalah pendukung teori ini (Tsabit Azinar Ahmad, Sejarah Kontroversial di Indonesia, 2016). Ajaran Islam sendiri berkembang di Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), dibawa oleh panglima muslim dari kekhalifahan di Madinah semasa era Khalifah Ustman bin Affan, yakni Saad bin Abi Waqqash. Jean A. Berlie (2004) dalam buku Islam in China menyebut relasi pertama antara orang-orang Islam dari Arab dengan bangsa Cina terjadi pada 713 M.

Dari keempat teori di atas, beberapa teori bisa dibilang runtuh atau setidaknya diragukan oleh sejarawan lainnya. Teori Gujarat dan Teori Persia termasuk yang paling kuat ditolaknya, apalagi Teori Gujarat dibawakan oleh S Hurgronje yang kita kenal kemudian ternyata adalah penyusup pada perang Padri di Aceh. Kalo bahasa kita, S Hurgonye adalah orientalis sekaligus misionaris, sehingga Buya Hamka menjadi salah satu penentang teori tersebut.

Adapun Teori Cina, juga masih didalami oleh para sejarawan, karena kalo dikaitkan dengan teori lainnya, teori ini lebih dekat kepada Teori Arab dari sisi tahun (Abad) masuknya Islam. Hanya saja, jika dikaitkan dengan sejarah Panglima Ceng Ho dan Raden Patah (Demak) alias Senopati Jing Bun, Abad 13 M, Teori Cina ini justru diragukan.  Di sisi lain, ajaran Islam sendiri berkembang di Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), dibawa oleh panglima muslim dari kekhalifahan di Madinah semasa era Khalifah Ustman bin Affan, yakni Saad bin Abi Waqqash.

So, tidak usah bingung dengan banyaknya teori tersebut. Justru kalo memang kamu pecinta sejarah, harusnya tertantang untuk mengulik teori-teori di atas lebih dalam. Siapa tahu di antara man-teman, bisa menjadi ahli sejarah alias sejarawan yang teorinya paling kuat tentang masuknya Islam ke Indonesia. Semangat!

iklan buletin teman surga

Jadi Remaja Pecinta dan Pencipta Sejarah

Belajar sejarah Islam, idealnya menjadi menu keseharian kita sebagai remaja muslim. Tak sekedar menghafal berbagai peristiwa lengkap dengan waktu, tokoh dan tempatnya aja. Yang lebih penting, pesan dari masa lalu yang menjadi pondasi kita mengukir masa depan yang gemilang. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, cintai sejarah. Karena berawal dari cinta, nanti bisa jadi keterusan untuk mempelajarinya. Baca buku sejarah, nonton film sejarah, atau ikut kajian sejarah. Selalu penasaran dengan berbagai peristiwa sejarah. Bukan untuk bernostalgia romantisme sejarah, tapi menyusun puzzle pesan dari masa lalu. Kita boleh suka bidang lain, mungkin ada yang suka teknik, atau punya skill bidang apa gitu, tapi sejarah Islam nggak boleh ditinggalin. Biar identitas kita sebagai remaja muslim tetap terjaga.

Kedua, ciptakan sejarah. Biasanya kalo udah cinta sejarah, banyak karakter mulia tokoh-tokoh Islam yang menginspirasi. Pengen banget punya karakter yang sama dan ngikutin jejak mereka untuk kebaikan Islam. Sejenius Muhammad al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel. Seberani Abu Dzar al-Ghifari dalam berdakwah. Secerdas Siti Aisyah. Sesetia Abu Bakar ash-Shidiq. Sekonsisten para Ilmuwan Islam yang gigih belajar dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat manusia.

Ketiga, konsisten ngaji. Biar saat belajar sejarah dan menciptakan sejarah, kita punya pondasi. Banyak upaya pengaburan dan penguburan sejarah Islam yang mesti kita waspadai.

So, sejarah apa yang ingin kamu ciptakan? Kamu, ingin dikenal dan dikenang sebagai apa atau sebagai siapa? Kuy, ciptakan sejarahmu![]

 

Sumber: https://temansurga.com/buletin-teman-surga-129-remaja-melek-sejarah/