Breaking News

Buletin Teman Surga 131. Blunder Remaja Mager

Mager, di sini bukan makan burger ya, tapi mager di sini kayak bahasan beberapa edisi sebelumnya tentang halu, yang halu itu kependekan dari halusinasi. Nah, kalo mager ini kependekan dari malas gerak. Emang ya, hidup di era kayak sekarang ini kita kudu sedia kamus khusus gaul, karena kalo kita nggak update, bakal ketinggalan istilah-istilah gaul. Belum lagi, kalo udah ketemu bahasa inggrisnya anak-anak Jaksel, duh nggak tahu deh kita butuh kamus apa lagi ?!

Tapi edisi kali ini kita nggak lagi bahas kamus bahaga gaul, wa bil khusus edisi ini masih ngebahas dampak seputar adanya wabah corona. Yupz, bahasan kita tentang blundernya remaja malas gerak. Walaupun sebetulnya malas geraknya kita nggak terjadi semata-mata karena wabah, tapi karena musimnya wabah, kita banyak di rumah, peganggannya gadget, jadi gabut, ya udah deh kerjaannya rebahan.

iklan buletin teman surga

Remaja Indonesia Mager?

Kita bilang remaja tergolong mager bukan cuman isapan jempol tapi memang ada semacam datanya lho. WHO alias badan kesehatan dunia berdasarkan data yang dianalisis dari 146 negara di tahun 2001 dan 2016. Dalam studi yang dimuat di The Lancet Child & Adolescent Health menyatakan bahwa lebih dari 80 persen remaja berusia 11 hingga 17 tahun kurang gerak fisik. Indonesia ada di urutan berapa? Dengan 86,4 persen remaja yang kurang aktif, Indonesia ada di posisi ke-37 negara dengan jumlah remaja malas paling banyak.

Trus siapa yang menduduki pucuk pimpinan peringkat dengan remaja paling mager sedunia? Ternyata Korsel alias negaranya para K-Pop pujaan kalian yang remajanya paling males sedunia. Beda bangets dengan bintang-bintang idol K-pop yang aktif ngedance, justru remaja di Korea Selatan umumnya justru jarang bergerak, 94,2 persen remaja Korea Selatan melakukan aktivitas fisik kurang dari sejam dalam sehari. Kayaknya sih bisa jadi masuk akal, jadi kalo para idolnya ngedance, sementara kan para penontonya cuman nonton sambil rebahan, mager.

Oiya just info, masih menurut penelitian tersebut, kalo dbandingkan prevalensi kadar mager cowok mengalami penurunan dari 80 menjadi 78 persen, sementara prevalensi mager cewek di angka yang tetap yakni 85. Konon asumsinya koq bisa remaja putri lebih tinggi angka magernya, karena remaja putri tidak banyak saluran untuk mewujudkan aktivitas fisiknya dibanding cowok. Kalo anak cowok, ada semacam klub sepeda, klub bela diri ringan, dan sejenisnya. Sementara anak cewek, nggak semuanya ada di situ. Tapi data itu terakhir diambil tahun 2016 lho, di saat belum terjadi pendemi covid-19. Sekarang tahun 2020 mungkin kalo diadakan survey serupa, kayaknya angka magernya bakalan sama antara cowok-cewek.

Itu asumsi aja lho ya, karena tentu saja dengan kondisi BDR, remaja akan berkutat di ruangan rumah antara kasur, dapur, dan sumur. Pegangannya kalo nggak gadget, ya paling remote TV. Apalagi belajar diharuskan pake gawai, kalo mulai sedikit malas dan boring belajarnya, udah deh mulai browsing , nonton youtube sampe main game jadi kerjaan rutin remaja tiap harinya. Dan itu nggak pandang gendernya cowok maupun cewek kayaknya bakalan seperti itu aktivitasnya selama di rumah aja.

iklan buletin teman surga

Mager Karena Teknologi?

Kalo bicara malas mah nggak usah di masa pendemi atau bukan, tapi orang males gerak faktornya bisa jadi banyak. Kalo menurut penelitian di atas tadi, disebutkan salah satu faktor remaja mager karena revolusi teknologi, alias bahasa mudahnya karena hidup kita dibuat mudah oleh teknologi. Nah, inilah yang disebut blunder. Teknologi memang pada awalnya diciptakan untuk membuat hidup manusia jadi mudah, tapi kekhawatiran kalo dipermudah hidupnya banyak orang malas akhirnya menjadi nyata .

Sekarang apapun bisa dilakukan dengan teknologi, apalagi slogannya teknologi dalam satu genggaman. Coba perhatikan aja, selain belajar yang bisa dilakukan dengan gadget, beli atau belanja juga bisa dilakukan online. Silaturahim juga cukup pencet tombol yang naun jauh di sana bisa terhubung dengan otomatis, ditambah dari sisi harga murah bahkan ada yang free. Begitulah, teknologi selalu bak pisau bermata dua, bisa berpeluang kebaikan atau bisa membawa kemudharatan. Kita butuh akan teknologi atau memang teknologi diciptakan karena kebutuhan zaman, maka teknologi itu hanya sebuah sarana alias alat yang bisa berpotensi buruk, tergantung si pemakainya. Kalo dari sononya si pemakai udah malas, ditambah ketergantungan dia dengan teknologi sampe tingkat akut, jadinya akan makin males.

Mendengar idiom “malas” saja sudah nggak enak, apalagi kalo ditambahi malas gerak. Dan teknologi nggak bisa dijadikan satu-satunya faktor penyebab seseorang jadi mager. Justru faktor terbesar dari si pemakai teknologi itu sendiri, yakni kita, manusia. Sementara seseorang untuk bergerak atau nggak bergerak alias melakukan aktivitas sangat tergantung dengan pola pikir atau mindset seseorang. Kita mau habiskan seharian di atas kasur aja, atau di kamar aja, atau pegang gadget aja itu sangat tergantung kita.

Sementara teknologi, nggak bisa jadi kambing hitam untuk selalu di posisi yang salah yang bikin kita malas. Karena sekali lagi teknologi hanya alat, dia-nya nggak bakal bergerak kalo nggak kita gerakkan. Gagdet misalnya, dia akan tergeletak gitu aja seharian kalo nggak kita pegang. Remote TV, AC nggak bisa bikin kita nyaman kalo selama pikiran kita nggak nyaman, selama kita nggak bergerak memegang dan memencot tombol-tombolnya. PC atau laptop akan nganggur gitu aja, kalo memang kita nggak pencet tombol ON-nya, lalu mengoperasikannya.

Jadi, malas atau malas gerak bukan karena teknologi, melainkan karena mindset. Mindset-lah yang membuat kita jadi bergerak atau diam aja. Kita tergerak untuk memanfaatkan teknologi untuk kebaikan itu juga karena mindset. Jadi hati-hatilah dengan mindset, kalo kita selama ini malas gerak, berarti memang kita membiarkan pikiran kita mengendalikan rasa males tersebut menguasai hari-hari kita.

Sehingga kalo teknologi berada di tangan orang yang mindset pemalas, ya jatuhnya pada keburukan. Tapi kalo teknologi itu dipake oleh orang yang produktif, bisa berpotensi menimbulkan kebaikan. Orang bisa seharian di depan PC atau laptopnya, tapi karena dia punya mindset bukan pemalas, maka dia bisa produtktif dengan laptopnya, menghasilkan karya tulis misalnya. Tapi yang kita bicarakan males di sini bukan cuman males, tapi males gerak. Jadi, kalo di mindsetnya ada kesadaran kalo di depan komputer aja nggak sehat buat tubuh, maka dia akan berpikir untuk sedikit menggerakan tubuhnya. Relaksasi, jogging atau sekedar senam kecil di depan rumah sambil menikmati udara dan matahari.

iklan buletin teman surga

Jangan Remehkan Mager!

Mager kalo cuman sebentar atau sehari mungkin bisa dimaklumi, tapi kalo mager sudah jadi habits (kebiasaan) ini yang gawat. Orang seperti ini, berarti orang yang menyepelekan kesehatan. Dipikirnya kalo cuman sedikit males nggak apa-apa, padahal sebuah langkah besar dimulai dari langkah kecil yang kontinyu. Kalo kita punya mindset mager lalu terwujud dalam bentuk aktivitas, kemudian itu nggak kita sadari sudah kita lakukan setiap hari, akhirnya aktivitas itu jadi habits.

Padahal nikmat sehat yang sudah Allah kasih ke kita, wajib kita syukuri dengan nggak membiarkan diri kita mager. Sesuai dengan yang dipesankan oleh Rasulullah SAW:

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Bukhari).

Makanya di kala pendemi kayak gini, godaan untuk mager makin gede, ini harus kita lawan. Kita harus hilangkan mager itu dalam keseharian kita, sebaliknya dalam sehari kita harus ada agenda untuk pergerakan anggota tubuh kita. Kalo pun nggak bisa olah raga berat, minimal gerak ringan agar kita terhindar dari penyakit. Karena kalo kita udah mager, ditambah juga kita makin banyak makanan yang kita konsumsi, udah deh itu berpotensi untuk obesitas. Kalo sudah obesitas itu kayak ngundang penyakit datang ke tubuh kita. Minimal diabetes bisa mengincar kesehatan kita kalo kita masih mager, jarang olah raga plus banyak makan.

Itu baru dampak fisik, belum lagi dampak psikis kalo kita mager. Tentu saja kalo kitanya masih mager, akan menjadi pemalas dan tidak mudah bersemangat. Karena mager atau jadi kaum rebahan membuat kita jadi pasif, jarang bergerak dan sulit untuk memicu produksi hormon endorfin yang dapat membuat suasana hati menjadi positif dan bergairah dalam aktifitas. Ketika hormon endorfin tidak distimulasi, maka kita rentan mengalami mood negatif, stres, merasa cemas, hingga depresi. Duh gaswat tuh!

iklan buletin teman surga

Ayo Dong Gerak!

Gaes, ayo bergerak, jangan mager. Mulailah dari yang ringan-ringan aja, langkah-langkah kecil, seperti berjalan kaki 10 menit setiap hari. Tambahkan durasinya satu menit setiap harinya dan lihat kemajuannya. Variasi aktivitas geraknya nggak cuman jalan kaki, syukur-syukur kalo di rumah ada alat olah raga seperti dumbel kecil di dekat ruang keluarga, sehingga dalam sehari kita bisa mengurangi durasi di depan komputer atau di atas kasur. Atau bisa juga dengan aktivitas beberes rumah, mulai dari membersihkan sampe memindahkan perabot rumah tangga biar sekalian terjadi variasi ruangan rumah kita.

Kalo ada kesempatan dan juga dibolehkan keluar rumah, boleh tuh bergabung dengan klub-klub gowes, klub futsal dan sejenisnya, bukan untuk perlombaan tapi sekedar untuk menyalurkan gerak aja. Nah, kalo mau olahraga yang direkomended sekaligus mengikuti sunnah rasul ya olah raga memanah, berenang dan berkuda. Dari Jabir bin Abdillah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR An-Nasa’i).

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!” (HR Muslim).

Kalo olahraga di atas kita kerjakan dengan niatan untuk ittiba’ kepada Rasulullah SAW, insyaAllah bernilai ibadah di hadapan Allah SWT. Meskipun aktivitas olah raganya sama, tapi kalo kita yang muslim kita niatkan mengusir mager karena Allah, maka bisa jadi ibadah. Disitulah menjadi relevan dengan mensyukuri nikmat sehat yang sudah Allah berikan. Nah, lawannya syukur adalah kufur (baca: ingkar), jadi kalo kita masih mager aja dan makin mager, itu tandanya kita kufur nikmat. Naudzubillah min dzalik!

So, kita minta perlindungan kepada Allah untuk dijauhkan dari sikap dan sifat kufur nikmat dengan malesnya kita untuk gerak.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari Muslim)

Aamiin…. []