Breaking News

Buletin Teman Surga 132. Dilema Bersosial Media

Dear #TemanSurga, sudah pernah nonton film dokumenter The Social Dilemma? Film dokumenter berdurasi satu jam setengah ini mengungkap bagaimana sosial media mengendalikan hidup kita. Yapz, #TemanSurga pernah enggak sih merasa putaran waktu itu terasa sangat singkat? Baru saja pegang hp, tiba-tiba hari sudah mau berganti. Lantas apa yang dirasai diri? Suntuk. Lelah. Letih. Lesu. Buntu. Ujung-ujungnya mager. Coba jujur, sudah berapa kali kamu mengalami peristiwa misterius seperti ini?

Ya, hampir setiap kita pernah mengalami. Era digital hari ini memang telah memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan manusia. Lihatlah, betapa dunia daring mampu menyuguhkan apa saja yang kita gandrungi. Klik satu, muncul lagi yang lainnya. Klik lagi, masuk pula notifikasi yang lebih seru dan penuh sensasi. Klik, klik, klik, klik! Tanpa terasa, waktu kita tersita di dunia maya. Begitu, kan? Inilah yang diungkap secara apik dalam film dokumenter The Social Dilemma. Apa pelajarannya untuk kita?

iklan buletin teman surga

Waspada Ancaman Sosial Media

Sadar atau tidak, sesungguhnya kecanggihan digital saat ini bagaikan dua sisi mata pisau. Jika salah menggunakan, maka sosial media akan membuat kita babak belur bahkan binasa. Horor banget, kan?!

Apa buktinya? Coba deh perhatikan, berapa banyak teman-teman kita yang habis waktunya untuk berkutat di dunia maya? atau jangan-jangan kita termasuk di dalamnya? Ya, bukan untuk mencari ataupun membuat sesuatu yang bermanfaat, melainkan hanya sekadar stalking-stalking tanpa tujuan. Pernah mengalami atau sering? Nah, inilah yang membinasakan kita. Memang tidak sampai menghilangkan nyawa, tetapi memusnahkan potensi terbesar kita sebagai remaja.

Seramnya, ternyata memang begitulah sistem dan arahan yang berlaku di sosial media. Sadar atau tidak, media canggih yang ada hari ini justru memiliki konten yang menjauhkan kita dari memahami hakikat kehidupan. Sebuah sistem dirancang sedemikian rupa sehingga kita merasa enjoy dengan kesia-siaan. Bahkan santuy menuju jurang kebinasaan. Mengerikan!

Lihat saja, betapa banyak yang kehilangan waktu produktifnya karena keasyikan menikmati suguhan di sosial media? Banyak banget, kan?! Belum lagi moralitas yang terus terjun bebas akibat pengaruh konten-konten yang dinikmati setiap hari. Bbehhh, tak terhitung lagi jumlahnya. Level unfaedah paling menjamur adalah bom generasi mager. Jika remajanya sudah macam zombi seperti ini, lantas apa yang bisa diharapkan untuk peradaban masa depan? Miris!

iklan buletin teman surga

Mengendalikan, bukan dikendalikan

Benar bahwa seolah tidak ada daya bagi kita menghadapi gelombang tsunami media sosial. Di zaman sekarang, kehidupan menuntut kita untuk melekat erat dengan dunia dalam jaringan. Jika kita menolak, maka siap-siap akan menjadi manusia kuper yang ketinggalan berbagai macam berita. Bahkan bisa jadi kita akan terpuruk dan tergilas tak berbekas.

Namun di sisi lain, seperti yang sudah dipaparkan bahwa sosial media memiliki dampak unfaedah yang sangat mengerikan. Seluruh data-data pribadi kita bahkan sampai pada musik-musik kegemaran, semuanya terekam dalam sistem sosial media. Data-data inilah yang kemudian dijual kepada pihak kapitalis untuk kemudian melakukan penawaran berbagai produk mereka tanpa kita sadari. Ya gitu, buka sosmed sekadar klak-klik tanpa tujuan tapi asyik dan seru sehingga lupa waktu. Bener, kan? Lantas bagaimana sikap kita? Haruskah bilang “gudbay” dengan sosial media?

Bukan begitu! Kita tidak bisa juga serta merta mengharamkan diri dari digitalisasi. Sebab hakikatnya sosial media itu hanyalah alat yang bersifat netral. Hukumnya mubah. Jadi, yang menjadi masalah itu bukanlah di sosial medianya. Tetapi masalahnya itu ada pada perbuatan manusia dalam memanfaatkan sosial media tersebut.

Sebagai generasi Islam, kita justru harus terjun dan turut memberi warna di sosial media. Menguasainya lantas mengendalikannya untuk mencapai pada tujuan kita sebagai hamba. Ingat, kitalah yang harus mengendalikan. Bukan justru dikendalikan. Sehingga akhirnya, kita akan menjadi leader yang produktif dalam duni persosmed-an. Bukan hanya berselancar untuk mengejar kesenangan, tetapi juga harus menghasilkan kebaikan berupa pahala yang menghantarkan kita sampai ke Surga. Daebak!

Lantas apa saja yang bisa kita lakukan? Kuy kita lahap tips-tips berikut ini. Insyaallah menginspirasi. Cekidot!

Pertama, luruskan niat bahwa berselancarnya kita di dunia maya semata hanya mengharap rida-Nya. Tancapkan kuat-kuat niat ini. Sehingga ia akan menjadi alarm bagi kita ketika aktivitas di sosmed sudah mengarah ke hal-hal yang sia-sia.

So, sebagai generasi islam kita harus terbiasa memasang niat dalam setiap aktivitas. Apapun yang mau dilakukan, pastikan telah dipikirkan secara matang dan niatkan semuanya karena Allah Swt. Jadi tidak ada istilahnya iseng dalam berbuat sesuatu. Hati-hati, sesuatu yang tidak dibarengi dengan niat ikhlas karena Allah Swt. pasti akan menimbulkan bahaya. Waspadalah!

Kedua, pasang target. Petakan dengan sungguh-sungguh, apa yang mau dicari atau dibuat saat bersosial media. Jadi, ketika membuka sosmed itu kita sudah tahu tujuannya mau apa. Bukan  sekadar scroll-scroll dan klak-klik sana sini tak menentu.

Ya, misalnya mau cari tugas, cari resep masakan, cari inspirasi artis hijrah, atau mau cari kajian para asatidz, atau mau lihat tutorial membuat kerajinan tangan dari barang bekas, dan lain sebagainya. Bisa jadi juga mau membuat konten dakwah dalam bentuk video, foto atau tulisan. Apapun itu, intinya harus dipetakan. Tapi ingat, petakanlah sesuatu yang memberikan manfaat bagi kita tidak hanya di dunia tetapi juga sampai di akhirat loh ya! Coba aja, cara ini akan mampu mengerem aktivitas kita di sosial media. Menjadikan kita lebih produktif dan bermanfaat bagi kehidupan. Berfaedah banget pokoknya!

Ketiga, segeralah sudahi berselancar di sosmed ketika targetmu sudah tercapai. Jangan toleransi dirimu untuk tetap bermesraan dengan dunia maya. Ingat, masih ada banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan. Membantu orang tua beres-beres rumah. Mengerjakan tugas sekolah. Merapikan kamar. Membaca buku. Bersilahturahmi ke kerabat atau sahabat, dan masih banyak lagi yang lainnya, kan?!

Keempat, latih terus-menerus diri ini untuk selalu merasa dalam pengawasan Allah SWT. Ingatkan berkali-kali pada diri, bahwa hakikatnya kita hanyalah hamba. Ada visi yang telah Allah SWT tetapkan untuk kita. Ya, kita ada di dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. So, pastikan setiap aktivitas kita adalah ibadah, bukan yang lainnya.

Maka, kita tidak akan mendekati kemaksiatan dalam bersosial media sekalipun. Kita akan terus menjaga batas-batas yang telah disyariatkan. Semua ini terjadi karena diri kita merasa selalu diawasi. Bagaimana agar bisa merasa selalu diawasi oleh pemilik bumi? Tidak ada cara lain, harus ngaji!

Kelima, selalulah berdoa kepada Allah SWT. Mohon keistikomahan dari-Nya. Minta pertolongan dan perlindungan agar kita tidak terseret dalam arus digitalisasi yang melenakan. Panjatkan semua doa yang baik-baik kepada-Nya. Sebab hamba yang beriman adalah ia yang selalu meminta apa saja pada Rabbnya, dan Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang banyak meminta. Luar biasa!

Nah, demikian tips-tips yang bisa segera kamu praktikkan. Semoga lima tips ini bermanfaat, ya Dear! Ingat, kita harus produktif dalam bersosial media, jangan malah berhalusinasi yang berujung sia-sia. Percayalah, kita pasti bisa![]