Breaking News

Buletin Teman Surga 141. Kejar Prestasi, Bukan Gengsi!

Hidup itu asyik kalo kita punya tantangan. Ibarat main game online, ada dorongan untuk beresin setiap levelnya biar terus naik dan sampai jadi jawara. Biar kata kalah berkali-kali, pantang menyerah untuk terus mencoba dan mencoba sampai ketemu pola suksesnya untuk lewati setiap level. Seru!

Gengsi dan Nilai Hidup

Tantangan dalam hidup gak akan muncul kalo kita tak punya tujuan yang ingin dicapai. Bagi remaja, tujuan hidupnya nggak jauh dari eksistensi. Untuk itu, mereka rajin berselancar di dunia maya. Setiap hari berkelana ngubek-ngubek sosial media. Kepoin akun artis idola atau sekedar cari hiburan semata. Tapi kebanyakan, remaja sering menjadikan postingan sosial media jadi rujukan untuk mengukur nilai hidupnya.

Diri remaja dibuat mupeng tingkat dewa dengan gaya hidup mewah yang tersaji secara bebas dan vulgar pada linimasa akun sosial media mereka. Pengen ngerasain jalan-jalan keluar negeri seperti postingan teman sekolahnya. Pengen punya gadget keren dan canggih biar foto selfinya nggak burem. Pengen tampil all out dengan tren fashion kekinian biar kontent fotonya banjir like, pujian dan viral.

Tanpa disadari, nilai hidup remaja banyak didominasi untuk meraih prestise alias gengsi dibanding mengukir prestasi. Mereka berlomba-lomba beraksi biar dapat decak kagum manusia. Meski harus menghalalkan segala cara.

Nggak heran kalo banyak remaja yang terjerumus dalam dunia kriminal cuman karena gengsi. Di Malang, seorang remaja tak lulus SD berinisial An (16), terpaksa berurusan dengan polisi. Ia tertangkap usai mencuri laptop di SMPN 2 Bululawang, Kabupaten Malang pada Jumat, 31 Agustus 2018, dan dijebloskan ke penjara. Kepada polisi, dia mengaku barang-barang curian itu tidak dijual, melainkan dia gunakan sendiri. “Gengsi, teman-teman punya, hanya saya yang enggak,” katanya dengan wajah tertunduk. (liputan6.com, 09 Sep 2018).

Sementara di Tasikmalaya, salah seorang remaja berinisial R (17) asal Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, membawa kabur mobil mewah anggota polisi supaya terlihat keren oleh rekan komunitasnya sesama gay atau penyuka sesama lelaki. Remaja ini mengaku ingin diakui sebagai orang kaya di komunitas gay Tasikmalaya. Namun pelaku sebenarnya berasal dari keluarga kurang mampu. (Tribunnnews.com, 12 Agustus 2020).

Rasa gengsi yang over dosis juga bisa menjerumuskan remaja pada gaya hidup konsumtif. Mereka membiasakan diri beli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan demi meningkatkan derajat dan gengsi saja. Duit kagak punya, mati-matian pengen bergaya. Beli barang kw udah biasa. Bukan karena kebutuhan, tapi semata keinginan.

Dalam keseharianya, banyak remaja yang menghabiskan uang jajan mereka untuk membeli makanan, pakaian, perangkat elektronik, hiburan seperti menonton film dan sebagainya. Semuanya  dilakukan cuman untuk ajang pamer dan gengsi aja. Biar kedongkrak status sosial medianya.

Menurut para psikolog, gengsi pada seseorang umumnya timbul akibat rasa tidak percaya diri dan rasa malu untuk mengakui kelemahan diri sendiri. Karena itu setiap remaja pengen keliatan eksis, nggak mau ketinggalan jaman dan akan berusaha ngikutin trend yang lagi hits. Repotnya, kalo gengsi bikin remaja menggerus nilai hidupnya cuman untuk dapat penilaian manusia. Bukan bahagia yang didapat, malah sengsara karena hidup nggak apa adanya. Ngenes bro!

iklan buletin teman surga

Prestasi Pemuda Zaman Nabi

Wajar kalo remaja pengen eksis. Lantaran udah jadi bagian dari proses pencarian jati diri. Ini juga terjadi pada para pemuda zaman Nabi. Bedanya, para pemuda mulia ini pengen eksisnya bukan demi gengsi. Apalagi biar populer dan menuai decak kagum dari manusia. Nggak banget.

Yang ada, eksistensi jiwa mudanya mereka curahkan dalam dakwah Islam. Semata-mata pengen hidupnya penuh keberkahan dan diridhoi Allah swt. Berikut beberapa pemuda zaman nabi yang berprestasi yang steril dari rasa gengsi.

Pertama, Usamah bin Zaid, Panglima Perang Termuda.  Usamah merupakan salah satu sahabat yang dekat dengan Nabi Muhammad secara personal. Ayah Usamah, Zaid bin Harits, adalah pelayan yang kemudian menjadi anak angkat Nabi Muhammad.

Ketika usia Usamah beranjak dewasa, Nabi Muhammad menunjuknya menjadi panglima perang yang memimpin pasukan umat Islam melawan Romawi Timur (Byzantium). Dalam buku Perang Muhammad Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah yang ditulis Nizar Abazhah, peristiwa ini terjadi pada awal bulan Shafar tahu ke-11 H atau saat Usamah berusia 17 tahun. Penyerangan tersebut dimaksudkan sebagai pertahanan, agar Romawi Timur (Byzantium) tidak lagi berpikir untuk menyerang Madinah.

Kedua, Zaid bin tsabit. Pemuda cerdas penerjemah rasulullah.  Zaid bin Tsabit mengatakan, “Aku dipertemukan dengan Nabi saat beliau tiba di Madinah. Ada yang mengatakan, ‘Ini adalah seorang anak dari Bani Najjar. Ia telah menghafal 17 surat (diriwayat sebelumnya 16)’. Aku pun membacakannya di hadapan beliau. Beliau sangat terkesan. Lalu beliau berkata, ‘Pelajarilah bahasa Yahudi (bahasa Ibrani). Sesungguhnya aku tidak bisa membuat mereka beriman dengan kitabku’. Aku pun melakukan apa yang beliau minta. Berlalulah waktu tidak lebih dari setengah bulan, aku pun menguasainya. Kemudian aku menulis surat Nabi kepada mereka. Apabila mereka yang mengirimkan surat kepada beliau, akulah yang menerjemah.”

Dari Tsabit bin Ubaid dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, Rasulullah berkata kepadaku, “Apakah engkau bisa Bahasa Suryaniyah?” “Tidak,” jawabku. “Pelajarilah. Sungguh nanti akan datang surat-surat kepada kita”, pinta Rasulullah. Aku pun mempelajarinya dalam rentang waktu 17 hari.

Ketiga, Abdullah bin Abbas. Beliau merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang ’gila’ ilmu pengetahuan. Dia tak pernah bosan menggali ilmu sejak usia muda. Umar bin al-Khaththab bahkan menyebutnya sebagai pemuda yang matang, mempunyai lisan yang gemar bertanya dan hati yang cerdas.

Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil, sejak kecil akrab dengan kehidupan Rasulullah saw sehingga hari-harinya selalu dipenuhi dengan ilmu yang dia peroleh dari Nabi saw. Saat Rasul wafat, usianya menginjak 13 tahun. Lalu ia mendatangi para sahabat senior untuk terus belajar ilmu agama.

Tak heran jika Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih cepat mengerti, lebih kuat akalnya, lebih banyak ilmunya, dan lebih luas kesantunannya, melebihi Ibnu Abbas”.

iklan buletin teman surga

Kejar Prestasi, Tinggalkan Gengsi

Bercermin dari para pemuda zaman nabi, kita bisa belajar bagaimana seharusnya hidup dijalani. Bukan untuk berlomba mengejar gengsi, tapi ngotot untuk mengukir prestasi. Tak harus berhasil di bidang akademi, tapi keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain. Itulah hakikat prestasi bagi seorang muslim.

Lantas, apa yang mesti kita lakukan untuk mengukir prestasi di usia remaja, berikut langkah-langkah yang bisa kita lakukan.

Pertama, lurusan niat. Bahkan Rasul saw mendorong kita untuk menjadi sebaik-baiknya manusia. Yaitu yang memberikan manfaat bagi umat. Sehingga kehadiran kita bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Rasulullah SAW bersabda,

Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam mengukir prestasi, satu hal yang mesti kita inget kalo tujuan mulia tidak menghalalkan cara. Meski kita punya niat untuk berbakti pada orang tua atau membahagiakan orang-orang yang kita cinta, bukan berarti boleh pake jalan apa aja biar bisa juara. Apalagi sampe bela-belain mengumbar aurat dalam berbagai kontes kecantikan, menyelami kehidupan hedonis dunia selebritis, atau mendulang popularitas di ajang pemilihan idola yang steril dari aturan Islam. Kita pastinya nggak mau dong kalo prestasi yang kita raih nggak ’dilirik’ oleh Allah swt. Betul?

Fudlail bin Iyadl, salah seorang guru Imam Syafi’i menjelaskan tentang definisi amal yang baik. Seperti tercantum dalam firman Allah swt:

“supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Beliau mengatakan, “Yaitu yang paling ikhlas dan paling benar”. Ketika ditanyakan, “Wahai Abu Ali, ’Apa maksud paling ikhlas dan paling benar?’ Beliau menjawab: “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah Swt, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi Saw”.

Kedua, tetapkan prestasi yang ingin diraih. Biar kebayang jalan yang akan ditempuh, kita mesti tetapkan prestasi apa yang mau diukir. Jangan sampai kegiatan kita untuk meraih prestasi nyasar ke mana-mana. Lantaran godaan di tengah jalan bakal banyak banget. Dengan menetapkan tujuan yang ingin diraih, akan membantu kita menjaga keistiqomahan kita dalam mengukir prestasi.

Kalo kita mau jadi penulis, vlogger, desainer, publik speaker, yang profesional untuk menunjang dakwah, berapa lama proses yang akan dijalani? 1 tahun? 2 tahun? 3 tahun?. Tetapkan waktunya agar kita bisa menyusun langkah-langkahnya lebih terarah dan terukur.

Ketiga, Fokus sampai menghasilkan karya. Kalo tujuan prestasi yang mau kita ukir sudah ditetapkan, tekuni bidang yang kamu geluti. Ada yang suka nulis, jurnalis, nge-vlog, atau desain gambar. Apapun bidang yang kamu geluti saat ini, tekuni sampai menghasilkan karya. Tentu saja bukan cuman karya yang menunjang kepuasan pribadi semata, tapi karya yang bernilai pahala.

Fokus berarti serius. Bentuknya, kita bisa belajar otodidak skill yang mau kita asah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Bisa nonton video youtube atau baca buku yang berhubungan dengan skill kita. Bisa juga kita temui orang yang kita anggap berhasil dan berprestasi dalam bidang yang sama biar bisa belajar proses yang mereka jalani. Seperti dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Abbas.

So, ukirlah prestasi dalam bidang yang kita tekuni. Murnikan niat kita dalam berprestasi semata-mata mengharapkan ridho Allah swt, bukan untuk sebuah prestise bin gengsi yang menuai sanjung puji dari manusia. Dan nggak lupa, raihlah prestasi dengan jalan yang diridhoi Allah swt. Tanpa harus menggadaikan keimanan, keislaman, dan kemuliaan harga diri kita sebagai muslim. Biar kita nggak mudah tergoda oleh iming-iming materi dan popularitas dalam berprestasi, ayo kita perkokoh benteng akidah dengan mengaji. Mengenal Islam lebih dalam dan berani menjadi muslim sejati. Raih prestasi, tinggalkan gengsi. Go![]