Breaking News

Buletin Teman Surga 145. No Countdown!

Liburan di ujung tahun, selalu diwarnai euforia perayaan tahun baru masehi. Jauh-jauh hari, udah banyak yang bikin rencana meski di sekitar kita masih diselimuti suasana wabah pandemi. Belakangan kita lihat sendiri, objek wisata mulai ramai dikunjungi. Bandara, terminal, hingga stasiun mulai dibanjiri mereka yang memanfaatkan liburan sekolah, libur bersama, hingga cuti kerja. Apakah bakal ada cluster malam tahun baru yang mendongkrak jumlah kasus Covid-19? Jangan sampai deh!

iklan buletin teman surga

Wabah Covid-19 Masih Mengintai Gaes!

Per tanggal 29 Desember 2020, data terbaru penyebaran wabah Covid-19 di negeri kita menunjukkan 713 ribu kasus dengan 584 ribu pasien sembuh dan 21.237 meninggal dunia. Sementara di dunia secara keseluruhan, kasus wabah covid-19 mencapai 80,8 juta kasus dengan 45,7 juta pasien sembuh dan 1,76 juta pasien meninggal dunia.

Data di atas, terus naik setiap harinya untuk mereka yang terinfeksi. Bahkan di dalam negeri sendiri, setiap hari bertambah 6 – 7 ribu kasus. Ngeri gaes. Sebaran virus corona ini nggak bisa dianggap sepele. Meski mereka yang berusia lanjut lebih banyak terjangkit virus yang berasal dari negeri tirai bambu ini, bukan berarti kita yang muda belia ini aman. Tetap meski waspada. Jaga protokol kesehatan di mana saja. Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama ditularkan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya.

Kita dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika kita berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19. Kita juga bisa tertular kalau menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut kita.

Makanya, ingat 3 M. Menggunakan masker saat di luar rumah, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak. Catat!

iklan buletin teman surga

Hindari Kerumunan, Jaga Keimanan

#DirumahSaja jadi hashtag populer di dunia maya. Sebagai antisipasi pencegahan penyebaran virus corona yang makin menjadi-jadi. Kita dianjurkan untuk meminimalisir aktifitas di luar rumah. Nggak heran kalo pemerintah mengeluarkan kebijakan school from home alias ‘bersekolah’ dari rumah dengan metode daring alias online untuk para pelajar aktif. Aturan ini juga diterapkan di beberapa kantor dengan ‘merumahkan’ para karyawannya untuk work from home.

Karena itu, menjelang pergantian tahun ini sebaiknya kita #DirumahAja. Gak usah ikut-ikutan ngumpul bareng teman di tempat keramaian. Hindari kerumunan. Sebagai bentuk dukungan kita terhadap program pemerintah dalam mencegah penularan wabah covid-19.

Khusus di malam tahun baruan, sebagai seorang muslim kita menghindari kerumunan dan keramaian bukan semata untuk menghindari penularan wabah covid-19. Tapi juga untuk menjaga keimanan kita. Lantaran perayaan tahun baru bukan budaya Islam.

Kalo kita telusuri sejarahnya, perayaan tahun baru masehi jelas-jelas bukan budaya Islam. Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Seiring perkembangan jaman, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne. Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja!

Sampai sini makin jelas ya, kalo tradisi perayaan tahun baru masehi bukan budaya Islam. Jadi sangat beralasan kita sebagai remaja muslim nggak ikut ambil bagian. Catat!

iklan buletin teman surga

Tak Ada Hitung Mundur!

Teman surga, dari penjelasan di atas kita jadi tahu dong kalo perayaan tahun baru Masehi itu bukan budaya Islam. Karena jelas banget dari asal-usul kalendernya aja bukan dari Islam. Karena itu, kita mesti hati-hati dengan euforia perayaan akhir tahun menyambut pergantian kalender masehi. Jangan sampai karena pengen eksis bareng temen, ikut-ikutan tahun baruan. Bisa berantakan keimanan kita.

Karena itu, haram hukumnya seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi karena menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Allah swt menegaskan dalam firman-Nya (artinya),

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, JANGANLAH KAMU KATAKAN (KEPADA MUHAMMAD) ‘RAA’INA’ TETAPI KATAKANLAH ‘UNZHURNA’ DAN ‘DENGARLAH’. DAN BAGI ORANG-ORANG KAFIR SIKSAAN YANG PEDIH.” (QS AL BAQARAH: 104)

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah saw. seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami) (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

Larangan merayakan tahun baru Masehi juga dikuatkan sabda Rasulullah saw., “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad, 5/20; Abu Dawud no 403). Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan sanad hadis ini hasan. (Fathul Bari, 10/271).

Hadis tersebut telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka (fi khasha`ishihim), seperti akidah dan ibadah mereka, hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dll. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 22-23).

Karena itu, nggak usah ikut-ikutan merayakan tahun baru, misalnya dengan meniup trompet, menyalakan kembang api, menunggu detik-detik pergantian tahun, memberi ucapan selamat tahun baru, makan-makan, dan sebagainya.

SEBAGAIMANA DIINGATKAN OLEH IBNUL-QAYYIM RAHIMAHULLAH DALAM KITABNYA, AHKÂMU AHLI DZIMMAH: “MENGUCAPKAN SELAMAT DENGAN SYIAR-SYIAR ORANG KAFIR YANG MERUPAKAN KEKHUSUSAN MEREKA, HUKUMNYA IALAH HARAM MENURUT KESEPAKATAN PARA ULAMA. SEPERTI MEMBERIKAN UCAPAN SELAMAT KEPADA MEREKA BERKAITAN DENGAN HARI RAYA MEREKA, IBADAH MEREKA, DENGAN MENGUCAPKAN “SELAMAT BERHARI RAYA”, ATAU YANG SEJENISNYA. PERBUATAN SEPERTI INI, KALAUPUN SI PELAKU SELAMAT DARI KEKUFURAN, NAMUN IA TELAH MELAKUKAN SESUATU YANG DIHARAMKAN. PERBUATAN SEPERTI INI SAMA DENGAN MENGUCAPKAN “SELAMAT” ATAS PERIBADATAN MEREKA. BAHKAN UCAPAN INI LEBIH BESAR DOSANYA DI SISI ALLAH AZZA WA JALLA DAN LEBIH DIMURKAI DARIPADA MEMBERIKAN UCAPAN SELAMAT KEPADA PEMINUM KHAMR, PEMBUNUH, PEZINA, DAN LAIN SEBAGAINYA. BANYAK ORANG YANG TIDAK MEMILIKI PERHATIAN TERHADAP DIN (AGAMA) TERSERET DALAM PERBUATAN SEPERTI INI. DIA TIDAK MENGETAHUI KEJELEKAN YANG DILAKUKANNYA. BARANG SIAPA MEMBERIKAN UCAPAN SELAMAT BERKAITAN DENGAN PERBUATAN MAKSIAT, BID’AH ATAU KEKUFURAN, MAKA IA TERANCAM MENDAPAT KEMURKAAN ALLAH AZZA WA JALLA.”

Yuk evaluasi diri, siapkan bekal sebelum maut menjemput. Jangan sia-siakan waktu bikin dosa baru di awal tahun. Sebaliknya, mari kita berlomba-lomba menabung pahala. Getolin ibadahnya. Kencengin amal sholehnya. Aktif ngaji dan dakwah tanpa tapi tanpa nanti. Katakan tidak pada perayaan tahun baru masehi. No Countdown![]

 

sumber: https://temansurga.com/buletin-teman-surga-145-no-countdown/