Breaking News

Butuh Perlindungan Utuh Negara dalam Mengatasi Epidemi Penyakit

Oleh S. Latifah Nabhaan, Aktivis Mahasiswa Virus
Corona atau yang disebut dengan 2019-nCoV menggemparkan masyarakat dunia sejak
beberapa pekan terakhir. Virus ini disinyalir berasal dari Kota Wuhan di
Tiongkok, dan diduga datang dari pasar seafood
dan hewan liar di kota tersebut. Si kasat mata ini sukses membuat orang-orang
paranoid.

Dilansir
dari , korban meninggal akibat virus corona sendiri
sampai saat ini mencapai 132 orang, dan tersebar di China, Amerika Serikat,
Australia, Perancis, Jerman, Jepang, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan,Thailand,
Singapura, Kamboja, Nepal, Kanada, Vietnam, Sri Lanka dan Uni Emirat Arab.

Bukan
hanya warga sipil, wabah virus ini juga mendatangkan kecemasan tersendiri bagi
orangtua mahasiswa yang berkuliah di Wuhan. Sampai hari ini, para mahasiswa
mengabarkan bahwa mereka tidak tertular virus corona dan dalam keadaan baik,
hanya saja mereka kekurangan stok makanan.

Pemerintah
Indonesia juga Organisasi Perhimpunan Pelajar Cina cabang Wuhan terus
mengusahakan pengiriman logistik bagi para mahasiswa yang terisolasi di Wuhan.
Menurut para mahasiswa di sana, kota Wuhan kini bagaikan Kota Mati. Mereka pun
memilih untuk tetap tinggal di asrama.

Kementerian
Kesehatan mengungkap bahwa pihaknya melakukan observasi terhadap sejumlah orang
terkait penyebaran virus corona dari China, serta menunggu hasil uji
laboratorium terhadap beberapa kasus-kasus baru.

Di
Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan milik Kemenkes adalah satu-satunya
pihak yang dapat memastikan keberadaan jenis baru virus itu.

Kemenkes
sebelumnya telah memastikan bahwa ada 100 rumah sakit rujukan yang mampu
menangani pasien jika memang ada yang terkonfirmasi terjangkiti virus yang
pertama kali terdeteksi bulan lalu di Wuhan itu.

Seiring
dengan terus meningkatnya jumlah korban yang meninggal dunia di China akibat
virus corona, pemerintah Indonesia juga meningkatkan upaya pencegahan, termasuk
memastikan berjalannya proses pendeteksian virus yang memadai.

Anung
Sugihantono, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di
Kemenkes, mengatakan bahwa sejauh ini bahwa sudah ada 13 orang yang tengah di
observasi.

“Yang
11 sudah ada hasilnya, semuanya negatif. Dua sedang dilakukan
pemeriksaan,” ujar Anung dalam acara konferensi pers pada Senin (27/01).

Sebelumnya,
terdapat sejumlah kasus dicurigai terinfeksi corona virus, diantaranya termasuk
di Jakarta, serta di beberapa wilayah lainnya seperti Sorong di Papua Barat,
Manado di Sulawesi Utara, hingga Jambi dan Bali.

Menganggapi
hal ini, Dirjen Anung menegaskan bahwa belum ada pasien yang terkonfirmasi
terinfeksi virus corona baru dari Wuhan. Ia juga mengatakan, para petugas
kesehatan dipastikan mengikuti standar operasional kerja sesuai mekanisme
pemeriksaan laboratorium WHO.

Di lansir dari republika.co.id “Hingga hari ini (Rabu, 29/1) misalnya, belum
ada satupun kebijakan yang bersifat menentukan terkait persoalan tersebut.
Padahal, sudah ada enam negara tetangga kita sudah terpapar kasus Corona, yaitu
Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura dan Australia,” ujar Fadli
dalam keterangannya.

Selain itu, pemerintah juga belum memberikan
peringatan perjalan bagi WNI yang akan ingin bepergian ke China. Peringatan
hanya diberikan khusus bagi mereka yang hendak mengunjungi Provinsi Hubei saja,
terutama kota Wuhan.

“Padahal, sejak pekan lalu virus Corona telah
menyebar ke 30 dari 31 provinsi di China. Pemerintah seharusnya lebih responsif
dan sensitif mengantisipasi berbagai kemungkinan,” katanya. Ia
menambahkan, begitu pula di bidang keimigrasian. Pemerintah juga belum
mengeluarkan kebijakan apapun untuk membatasi mobilitas warga negara China ke
Indonesia.

“Sebagai perbandingan, pemerintah Filipina,
misalnya, sudah membatalkan kebijakan visa on arrival bagi turis China
sebagai bentuk antisipasi masuknya virus tersebut ke negaranya,” jelasnya.

Karena itu, ia menyarankan dua langkah yang harus
segera dikerjakan Pemerintah. Pertama, pemerintah diimbau segera membentuk
rantai komando khusus untuk mengawasi dan memitigasi wabah virus corona.

Wabah atau penyakit menular sudah dikenal sejak
zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu, wabah yang cukup dikenal pes dan lepra.
Nabi pun melarang umatnya untuk memasuki daerah yang terkena wabah.

Rasulullah bersabda, “Jika kalian
mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian
memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka
janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari
dan Muslim).

Inilah metode karantina yang diperintahkan oleh
Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad mendirikan tembok di sekitar daerah yang
terjangkit wabah dan menjanjikan bagi mereka yang bersabar akan mendapat pahala
sebagai mujahid di jalan Allah.

Pada zaman Nabi Saw., dan sebelum Pasteur
berhasil menemukan keberadaan mikroba, orang biasanya berpikir bahwa wabah
penyakit yang terjadi it disebabkan oleh setan dan bintang-bintang. Menurut
merkea, wabah tersebut tidak berhubungan dengan kebersihan atau perilaku
tertentu, sehingga mereka mengadakan ritual magis untuk mengatasinya.

Dalam kondisi seperti itu, Nabi Saw.
memberlakukan sistem karantina yang dianggap dasar pencegahan modern setelah
penemuan mikroba yang menyebabkan penyakit. Nabi Saw. memerintahkan para
sahabat, “Jika kalian mendengar tentang wabah wabah di suatu negeri, maka
janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di tempat kalian
berada, maka janganlah kalian jangan meninggalkan tempat itu.”

Wabah penyakit sejatinya tidak pernah diharapkan
muncul hingga mengakibatkan kekhawatiran. Namun selalu ada alasan yang
mengakibatkan wabah penyakit muncul dengan dampak yang tidak bisa diperkirakan.

Menghadapi kondisi ini, ada baiknya mengamalkan
doa seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam berbagai hadist.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ
وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ

Arab latin: Allahumma inni a’udhu bika
minal-barasi, wal- jununi, wal-judhami, wa min sayyi’il-asqami’

Artinya: “Ya Allah, aku mencari perlindungan
kepadamu dari kusta, kegilaan, kaki gajah, dan penyakit jahat. (HR Abu Daud)

Hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik tersebut
mendapat kategori shahih. Selain berdoa dan melaksanakan ibadah lain, tentu
upaya pencegahan lain harus dilakukan menghadapi wabah penyakit.

Untuk memastikan bahwa perintah akan dilaksanakan
dengan baik, Nabi Saw. mendirikan tembok di sekitar daerah wabah dan
menjanjikan kepada orang-orang yang sabar dan tinggal di daerah wabah dengan
pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sementara mereka yang melarikan diri
dari tempat tersebut diancam dengan malapetaka dan kebinasaan. Jadi, Nabi Saw.
bersabda: “Orang yang melarikan diri dari tempat wabah itu adalah seperti yang
melarikan diri dari pertempuran di jalan Allah. Sedangkan orang yang sabar dan
tinggal di mana dia berada akan diberi pahala seperti pahala seorang mujahid.”

Jika orang yang sehat dua ratus tahun diminta
untuk tinggal dengan orang sakit di daerah wabah, maka ia akan menganggap hal
semacam itu sebagai omong kosong. Dan karena didasari keinginan untuk hidup,
maka dia harus melarikan diri ke tempat lain. Hanya orang muslim yang tidak
melarikan diri dan meninggalkan tempat wabah sesuai dengan instruksi Nabi sa.
Orang-orang non-muslim mengejek tindakan mereka sampai kemudian mereka
menemukan bahwa mereka yang tampak sehat tanpa gejala adalah pembawa kuman yang
mungkin mentransfer wabah ke tempat lain jika mereka pindah ke sana. Mereka
akan bergerak bebas dan berbaur dengan orang yang sehat, sehingga mereka dapat
menyebabkan orang lain terserang penyakit.

Sesuai saran pemerintah, untuk mencegah infeksi virus
corona sebaiknya selalu menggunakan masker saat beraktivitas. Selain itu jaga
kebersihan dengan rajin cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Langkah
selanjutnya adalah segera ke dokter bila terjadi penurunan fungsi tubuh,
terutama jika baru pulang dari Wuhan atau China.

Wallahu ‘alam bi ash-showwab

Leave a Reply