Breaking News

HIJRAH MENUJU ISLAM KAFFAH

Peringatan Muharam 1440 H di Kota Pontianak

 

 

Dalam rangka peringatan tahun baru Islam, 1 Muharam 1440 Hijriyah, Ma’had Inhadul Fikri Pontianak menyelenggarakan Tablig akbar yang diselesenggarakan di Pontianak pada selasa, 11/09, kemarin. Tablig akbar ini mengambil tema Hijrah Menuju Islam Kaffah dan menghadirkan dua narasumber yakni, Dato’ Tengku Abdurrahman Umar, seorang Da’i asal Aceh dan Wandra Irvandi, M.Sc  yang merupakan pengasuh Ma’had Inhadul Fikri Pontianak.

Dalam kesempatannya, Dato’ Tengku Abdurrahman Umar menyampaikan cuplikan cerita dari Sirah Nabawiyah perihal peristiwa berpindahnya Nabi Muhammad SAW dari kota Mekah menuju Yastrib yang hari ini disebut Madinah. Menurut Dato’ Tengku, untuk meraih kemenangan hijrah adalah sesuatu yang harus dilakukan. Ini seperti apa yang terjadi pada Rasulullah SAW. Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat bukan karena beliau takut. Bukan karena beliau merasa terus-terusan diintimidasi. Bukan karena beliau ingin cari selamat, melainkan kepindahan beliau murni karena perintah dari Allah.

“Sunnatullahnya memang begitu. Rasulullah sudah mencontohkan, tak perlu lagi kita cari-cari formula bagaimana untuk menang. Sudah ada suri tauladannya. Untuk hijrah, perlu ada tekanan dari musuh, walaupun Rasulullah hijrah bukan karena ditekan musuh.” Ucapnya bersemangat.

Pesan meraih kemenangan dari Dato’ Tengku yakni untuk mendapatkan kemenangan, seperti yang sudah dijanjikan, kita cukup mengikuti formula yang dilakukan Rasulullah SAW, dimantapkan lagi oleh pembicara berikutnya, ustadz Wandra Irvandi, M.Sc.

Ustadz Wandra memulai materinya dengan mengetengahkan perihal keputusan Khalifah Umar bin Khattab yang menandai peristiwa Hijrah Rasulullah SAW sebagai penanda awal dari penanggalan Islam. Ini berarti betapa besar dan pentingnya makna hijrah. Padahal, menurut ust Wandra, pada waktu itu banyak sekali peristiwa penting lainnya. Misalnya Isra’ Mi’raj pada bulan Rajab, kelahiran beliau SAW pada bulan Rabiul Awal, Peristiwa Muhammad diangkat menjadi Rasul di Gua Hira, dan banyak peristiwa lain yang dialami Rasulullah SAW. Tapi peristiwa-peristiwa tersebut, oleh Khalifah Umar tidak dijadikan penanda penanggalan umat Islam. Khalifah Umar memerlukan sesuatu yang lebih penting, bahkan paling penting, bukan hanya sebagai pengingat peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai penggerak bagi umat Islam di seluruh dunia pada masanya dan masa setelahnya.

“Akhirnya setelah bermusyawarah, Umar bin Khattab menetapkan bahwasannya peristiwa besar yang dialami oleh umat Islam, yang membawa perubahan baik secara individu maupun bermasyarakat, bahkan bernegara itu tidak lain dan tidak bukan peristiwa hijrahnya Rasul dari kota Mekah menuju Madinah,” ujar ustadz Wandra.

Selanjutnya Ustadz Wandra menjelaskan definisi hijrah menurut para ulama. Hijrah batin, yakni meninggalkan segala macam maksiat menuju ketaatan total kepada Allah SWT. Pada momen ini sebaiknya kita memperbanyak evaluasi diri, bermuhasabah, dan salah satu hal yang sangat penting untuk kita evaluasi adalah penyakit hati yang  bernama sombong.

“Sombong itu, kata Rasul, adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain,” ungkap ust Wandra menjelaskan salah satu hadits Rasulullah tentang sombong. Hari ini, lanjutnya, betapa banyak orang pintar namun pada akhirnya dianggap rendah di mata Allah SWT karena menyimpan penyakit sombong dalam hatinya. Karena sombong pula, banyak sekali syariat-syariat Allah yang jelas tertera dalam KitabNya tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tak jarang ayat-ayat Allah ditukarkan dengan materi duniawi. Kebenaran ditolak, orang lain diremehkan.

Selain hijrah batin, ada juga Hijrah fisik seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Menurut ustadz Wandra, sebelum melakukan perjalanan fisik dari Mekah ke Madinah, Rasulullah mencari penolong dakwah dari berbagai suku. Penolakan-penolakan terjadi, hingga kemudian rasul bertemu penolong dari suku Auz dan Khazraj, yang keduanya berasal dari Yastrib. Terjadi baiat aqobah pertama dan kedua.

“Kemudian Rasul mengutus Musab bin Umair untuk menyampaikan dakwah Islam di kota Yastrib. Hingga setelah setahun, tidak ada satu rumah pun di Yastrib yang tak meperbincangkan Islam dan Muhammad SAW. Tapi apakah Rasulullah kemudian langsung pindah setelah banyak orang di Yastrib bertanya-tanya tentangnya? Tidak. Sebab belum ada perintah dari Allah SWT,” ucapnya.

Hijrah fisik ini tidak hanya proses peerpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, lanjutnya, namun perpindahan dari negeri kufur menuju negeri Islam (madinah). Negeri Islam (darul Islam) pun harus  memiliki syarat yakni menerapkan hukum-hukum Islam kemudian keamanannya ada di tangan kaum muslimin. Jika salah satunya atau keduanya masih belum bisa terlaksana maka negeri tersebut belum bisa dikatakan negeri Islam. Inilah esensi hijrah yang sebenarnya.

Menurut ustadz Wandra, penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah) sekaligus memiliki keamanan penuh yang dipegang oleh kaum muslimin adalah syarat mutlak tegaknya darul Islam. Inilah hal yang harus kita perjuangkan bersama, bersatu padu mengikuti konsep dan metode seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Sehingga rahmat bagi seluruh alam dapat benar-benar kita rasakan.

Leave a Reply