Breaking News

Jangan Malas Berfikir Islami dan Ilmiah

Oleh : Ust. Iwan Januar, Siyasah Institute

اَلْعِلْمُ نُورٌ وَ الْجَهْلُ ضَارٌّ

“Ilmu itu cahaya sedangkan kebodohan itu bahaya”

Seberapa penting kebutuhan umat akan ilmu, bisa tercermin dalam kalimat hikmah di atas. Ketidaktahuan, bahasa halus untuk kebodohan, bisa menjerumuskan umat dalam bahaya. Baginda Nabi SAW. mengingatkan betapa orang-orang yang bodoh, sekalipun ahli ibadah adalah satu dari dua golongan manusia yang berpotensi merusak umat.

أَهْلَكُ أُمَّتِي رَجُلَانِ: عَالِمٌ فَاجِرٌ وَجَاهِلٌ مُتَعَبِّدٌ

“Dua golongan yang merusak umatku; orang alim yang jahat, dan orang bodoh yang rajin beribadah.” (Imam al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Din)

Hadits dan pesan ulama salaf di atas berisi pesan keras bagi kita agar senantiasa berpegang pada ilmu dalam menghadapi setiap persoalan. Baik dalam perkara ibadah, muamalah, termasuk dalam dakwah dan kebijakan politik. Dua bidang terakhir ini semakin terasa membutuhkan kelengkapan ilmu, bukan saja ilmu berupa tsaqofah Islamiyyah, namun juga pengetahuan keduniawian semisal sains dan teknologi. Karena umat ini dirusak bukan hanya ulama yang fajir, tapi juga orang-orang bodoh yang giat beribadah.

Kemunduran pemikiran kaum muslimin yang disebabkan lemahnya pemahaman terhadap ajaran Islam, berdampak pada jatuhnya umat dalam masa-masa kegelapan justru ketika Eropa mulai beranjak dari dark ages-nya. Kelemahan pemikiran Islam juga menjalar pada lemahnya pemahaman terhadap sains dan teknologi. Misalnya di awal abad ke-10 Hijriyah para ulama berselisih paham tentang hukum minum kopi. Sebagian besar ulama Mekkah, Mesir dan Syam mengharamkannya karena menduga ada unsur memabukkan dan menghilangkan akal. Atau pada akhir abad ke-16, di era akhir Khilafah Utsmaniyyah, para ulama mengharamkan produksi buku-buku keagamaan – terutama al-Qur’an – menggunakan mesin cetak. Namun di sisi lain sebagian ulama Khilafah Utsmaniyyah mengizinkan Khalifah mengadopsi sebagian undang-undang Barat yang sekuler, hingga muncullah dua jenis peradilan; peradilan syariah dan peradilan sipil.

Kenyataan ini kontradiktif dengan era kejayaan Islam dimana ilmu agama dan pengetahuan tumbuh dan berkembang bersama. Ilmu syariah meluas, dan pengetahuan tumbuh pesat; ilmu kedokteran termasuk ilmu bedah, farmakologi, optik, dsb. Sampai-sampai sarjana Barat harus datang ke jantung Khilafah seperti Baghdad dan Cordoba untuk mempelajari sains.

Hari ini, kaum muslimin masih berada dalam warisan kemunduran peradaban. Buram pemahaman agama, juga kabur dalam pengetahuan dan teknologi. Seruan penegakkan syariat dan Khilafah dianggap ancaman, sementara kemajuan sains disepelekan bahkan dipandang penuh curiga.

Dalam kasus pandemi, kaum muslimin dibuat gamang karena ketidakjelasan pengetahuan yang diterima soal ini. Di beberapa WAG aneka informasi yang cenderung hoax beredar liar. Mulai dari misleading content, imposter content, sampai false context, dsb. Dengan semangat dakwah dan membela Islam konten-konten itu diedarkan terus menerus tanpa menelusuri kebenarannya secara scientific.

Semua berawal dari malasnya kita mengkaji persoalan ini dengan basis keilmuan. Cara paling gampang menarik kesimpulan adalah dengan melakukan generalisasi masalah, analogi, atau logika zonder data, fakta dan keilmuan. Muncullah opini kalau pandemi ini buatan Yahudi, dalihnya mall-mall dibiarkan buka sementara masjid dan ibadah dilarang. Ada lagi yang lebih ekstrim menuduh semua rumah sakit dan dokter bersekongkol meng-covid-kan pasien demi keuntungan. Ada juga yang menyebut ambulan yang bolak-balik itu sebenarnya manipulasi, kosong, cuma untuk menakut-nakuti warga. Tambah lagi tudingan bila vaksin mengandung chip yang bisa mendeteksi data pribadi sampai bisa menyebabkan mutasi genetika pada seseorang. Seolah-olah ayat di bawah ini belum pernah turun:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (TQS. al-Isra: 36)

Kemalasan berpikir seperti ini melahirkan kesimpulan yang keliru dan berbahaya, juga tidak syar’iy. Sama seperti masa kemunduran umat ketika para ulamanya berseteru tentang kehalalan kopi dan kebolehan mencetak al-Qur’an dengan mesin cetak, semuanya mengabaikan data, fakta dan basis keilmuan. Padahal Allah SWT. telah berfirman:

“Maka tanyakanlah olehmu kepada ahl adz-dzikr, jika kamu tiada mengetahui.” (TQS. al-Anbiya: 7)

Bayangkan bila umat mengabaikan keberadaan orang-orang alim baik dalam bidang agama maupun sains dalam memecahkan masalah. Ketika ahli nahwu bicara soal pandemi dan virus sementara dia tidak berkompeten dalam bidang itu, atau juga sebaliknya seorang epidemiolog yang tidak punya core competency/kafa’ah di bidang tafsir menguraikan tafsir, hasilnya pasti fatal.

Ada baiknya kita renungi perkataan Einstein, “Science without religion is blind, religion without science is lame – pengetahuan tanpa agama adalah buta, sedangkan agama tanpa sains adalah lumpuh.” Agama (Islam) dan sains saling erat berhubungan. Ada kalanya masing-masing berdiri sendiri, namun dalam hal lain keduanya harus ada. Ketika bicara vaksin, wabah, mitigasi maka umat terutama para ulama dan pemikirnya harus berpikir keras soal keduanya.

Jangan malas berpikir, jangan juga dikotomi antara sains dengan agama. Apalagi kemudian menyebarkan opini yang hanya berdasarkan asumsi tanpa landasan sains dan tsaqofah Islamiyyah. Jangan sampai kita menjadi salah satu dari dua golongan manusia yang merusak umat.

أَهْلَكُ أُمَّتِي رَجُلَانِ: عَالِمٌ فَاجِرٌ وَجَاهِلٌ مُتَعَبِّدٌ

“Dua golongan yang merusak umatku; orang alim yang jahat, dan orang bodoh yang rajin beribadah.” (Imam al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Din)

Ibnu ‘Uyainah berkata:

احذروا فتنة العالم الفاجر والعابد الجاهل فإن فتنتهما فتنة لكل مفتون ومن تأمل الفساد الداخل على الأمة وجده من هذين المفتونين

“Waspadalah dengan bahaya orang alim yang suka maksiat dan ahli ibadah yang jahil (alias: bodoh). Bahaya keduanya adalah bahaya bagi orang banyak. Siapa yang merenungkan bahaya.”

Menjadi penting bagi kita menempa diri dan umat agar menjadi umat yang giat berpikir hingga memiliki pemikiran cemerlang (mustanir). Selalu berlandaskan Islam dan obyektif berdasarkan fakta dan pengetahuan. Sehingga membela agama bukan semata karena emosional dan semangat belaka, tapi karena lahir dari pemikiran jernih yang bernas, bukan justru merugikan umat Muslim itu sendiri. Wallahualam.[]

Bogor, 7 Juli 2021

Sumber : Http://T.me/InfoDakwahHarian