Breaking News

KEMBALI KEPADA HUKUM ALLAH RAIH KETAKWAAN BULAN RAMADHAN

Oleh : W.Irvandi

Sejak awal tahun 2020, bumi diguncang oleh musibah yang sampai saat ini masih dihadapi. Covid-19 salah satu pandemi yang menghantam hampir di seluruh dunia. Beberapa negara sudah melakukan berbagai tindakan pencegahan dan penanganan, dari social distancing, lockdown hingga mengelontorkan dana untuk pelayanan kesehatan. Tidak terkecuali negeri-negeri muslim, yang pada saat bulan april akan menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.

Kita seakan-akan ditegur oleh Allah agar memahami bahwa ada musibah yang Allah turunkan diakibatkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri. Dan ulah tangan manusia itu tidak lain adalah perbuatan maksiat manusia karena melanggar perintah Allah dan tidak mengindahkan apa yang dilarang-Nya. Termasuk diantaranya kita mungkin mengabaikan hukum-hukum Allah swt.

Dalam Al-Quran Surah Ar-Ruum ayat 51 Allah swt berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Tafsir Al-Qurtubi (juz 14 hal. 4) menjelaskan yang dimaksud dengan al-fasad, maka berkata Qotadah dan Assudy bahwa makna al-fasad (kerusakan) adalah kesyirikan manusia dan itu adalah sebesar-besarnya kerusakan. Sedangkan menurut Ibnu Abbas, Ikrimah dan Mujahid adalah pembunuhan qabil kepada habil. Dikatakan juga yang dimaksud dnegan al-fasad adalah kemaksiatan, menghalangi jalan kepada Allah dan melakukan kezaliman yang itu semua dilakukan oleh manusia.

Adapun frase bimaa kasabat aidin an-naas liyudziqohum ba’dho maksudnya adalah akibat kemaksiatan manusia dan ini adalah kerusakan yang hakiki. Allah tampakkan di darat dan lautan agar manusia melihat akibat dari sebagian perbuatan mereka. Kemudian dilanjutkan dengan frase la’allahum yar ji’uun yakni agar mereka segera bertaubat kepada Allah swt.

Senada dengan hal tersebut tafsir At-Thobari (juz 20 hal 107) telah menjelaskan maksud dari ayat tersebut yaitu telah tampak kemaksiatan di daratan dan lautan akibat ulah tangan manusia karena melanggar apa yang dilarang oleh Allah swt. Atau dengan kata lain kerusakan akibat dari dosa-dosa manusia dan perbuatan-perbuatan keji mereka. Dan Allah tampakkan sebagian akibat dari perbuatan manusia agar mereka bertobat kepada kebenaran dan meninggalkan kemaksiatan.

Sudah kita ketahui bersama bahwa wabah ini terjadi diakibat manusia melanggar perintah Allah dengan memakan makanan yang buruk. Namun selain itu juga harus kita sadari bahwa wabah ini tersebar hampir ke seluruh dunia, yang menunjukkan bahwa kita sebagai manusia mungkin telah lalai kepada hukum-hukum allah dan melakukan perbuatan maksiat. Berkata Ka’ab al-Ahbar r.a : “Dan jika engkau menyaksikan suatu wabah telah merebak, maka ketahuilah, itu berarti perilaku zina telah menjamur dimana-mana.” (Tahdzib Hiyatil-Auliya’, 2/256).

Selain itu, Allah juga berfirman di dalam Al-quran surah at-Thaha ayat 124.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Menurut Imam Ibnu Katsir yaitu siapa saja yang berpaling dari peringatan Allah, yaitu menyelisihi perintah-Nya atas apa yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya maka sesungguhnya dia akan menhadapi kehidupan yang sempit yaitu kesempitan di dunia. Tidak akan mendapatkan ketenangan dan tidak ada kebahagiaan. Berkata Imam Aufi bahwa mereka berpaling dari kebenaran dan saat kehidupan di dunia menjadi orang-orang yang sombong, maka baginya penghidupan yang sempit. ((afsir Ibnu Katsir, V/283)

Bisa jadi ini terjadi saat sekarang. Bahwa kita tidak mendapatkan ketenangan. Merasa khawatir dengan adanya wabah, termasuk kesulitan-kesulitan dalam berbagai bidang. Ekonomi terpuruk, politik kian bobrok, dan sulitnya untuk beribadah kepada Allah terutama bagi saudara-saudara kita yang masih tertindas. Hal ini bisa jadi diakibatkan karena kita melalaikan hukum-hukum Allah, padahal Allah sudah nyatakan dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 50.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya : “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”.

Dalam tafsir Al-Munir syaikh Wahbah az-Zuhaili telah menerangkan ayat ini. Bahwa berarti tidak ada seorang pun yang lebih adil daripada Allah dan tak ada satu hukum pun yang lebih baik daripada hukum-Nya. (tafsir al-Munir VI/224). Adapun bagi umat islam yang tetap teguh dalam keimanan dan ketakwaan, maka bagi mereka akan mendapatkan penghidupan yaitu kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Karena mereka selalu memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (TQS Al-Anfal : 24)

Pada ayat ini Allâh Azza wa Jalla memerintahkan hamba-Nya kaum Mukminin melalui keimanan yang ada pada mereka, yakni perintah untuk istijâbah (memenuhi seruan) Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Maksudnya, hendaknya mereka tunduk terhadap perkara yang diperintahkan dan bersegera menjalankannya, serta mendakwahkannya, dan menjauhi perkara yang dilarang Allâh dan Rasul-Nya serta menahan diri dari perkara itu. (Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 328).

Imam ath-Thabari rahimahullah juga mengatakan, “Penuhilah seruah Allâh dan Rasul-Nya dengan menjalankan amalan ketaataan jika Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu yang berupa al-haqq (kebenaran)”.(Tafsir at-Thobari, XIII/464). Dan insyaallah seruan ini kembali ditujukan kepada umat islam agar melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.

Puasa di bulan Ramadhan memiliki tujuan yang hendak dicapai yaitu agar kita semua menjadi orang-orang bertakwa. Sehingga kesempatan bagi kita semua untuk merenungkan kembali bahwa wabah ini bisa jadi kita lalai terhadap perintah Allah, dan Allah menampakkan musibah tersebut agar kita segera bertaubat. Dan bersegera melaksanakan apa yang Allah telah perintahkan kepada kita. Sebagaimana juga sikap umat islam yang harus dilakukan, bahwa apabila diberi nikmat dia bersyukur dan apabila diberi musibah dia bersabar.

Kesempatan bulan suci Ramadhan inilah kita tunjukkan ketaatan kita kepada Allah dengan menjadi orang-orang bertakwa, yang tidak hanya menjalankan ibadah puasa namun juga segera mengembalikan kepada hukum-hukum Allah di muka bumi untuk mengatur kehidupan umat manusia. Karena dengan menerapkan hukum Allah tidak hanya penghidupan yang baik tapi juga keadilan yang akan kita dapatkan. Dan adil itu sebagaimana yang disepakati para ulama yaitu dengan menerapkan hukum Allah.

Wallahu’alam