Breaking News

KEMULIAAN BENDERA TAUHID

Oleh Pay Jarot Sujarwo*)

Bendera bertuliskan “la ilaha illallah muhammadur rasulullah” berkibar mengiringi pasukan  yang mengantarkan raja Byzantium Romanus kembali ke negerinya setelah mengalami kekalahan perang dengan pasukan Muhammad bin Dawud Chaghri dari kekaisaran Saljuk. Pertempuran ini dikenal dengan nama Perang Manzikert. Sultan Muhammad bin Dawud pun pada akhirnya dikenal dengan gelar Alp Arslan yang berarti singa pahlawan.

Ini bukan kemenangan biasa. Karena dalam sejarahnya, pasukan kaum muslimin sudah biasa menang perang. Tapi ini adalah kemenangan sekaligus yang membawa kebanggaan teramat sangat. Bendera bertuliskan kalimat Tauhid yang mengiringi kepulangan raja dari pihak musuh semakin mengokohkan kebanggaan sekaligus mengabarkan kepada dunia, bahwa inilah kalimat pemersatu yang membuat kaum muslimin digdaya. Keyakinan akan Allah yang satu dan Muhamad adalah utusanNya, merasuk begitu dalam di jiwa dan membuat Islam tak terkalahkan selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Ini bukan kejadian pertama, jauh hari sebelumnya, ketika Rasulullah SAW masih hidup, betapa bendera bertuliskan kalimat Tauhid telah menjadi simbol kemuliaan bagi agama ini. Perang Mu’tah. Tiga sahabat Rasulullah syahid dengan mempertahankan bendera tauhid. Zaid bin Haritsah, Ja’fah bin abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Hingga akhirnya pasukan muslimin bersepakat menyerahkan bendera ini kepada Khalid bin Walid, dan pertempuran dimenangkan oleh kaum muslimin. Ini kisah yang begitu heroik. Penggugah jiwa. Penebal iman.

Tentu saja kisah bendera bertuliskan kalimat tauhid tak hanya sampai di situ. Selama kurang lebih 14 abad, kaum muslimin di seluruh dunia disatukan dengan kalimat ini. Di masa Rasul, Khulafaur Rasyidin, Umayah, Abbasiyah, Utsmaniyah. Bahkan  hingga di nusantara. Bendera bertuliskan kalimat tauhid menjadi pusaka di Jogjakarta yang merupakan tanda hubungan erat antara kesultanan jogjakarta dengan khalifah Utsmaniyah di Turki.

Lalu apa yang terjadi hari ini?

Pasca runtuhnya Islam di Turki pada 1924, Islam yang sejatinya merupakan agama sekaligus ideologi diberangus dengan pemahaman sekuler. Islam tak lagi jadi standar kehidupan.  Kokohnya persatuan muslimin sirna. Umat dipecah-pecah dalam negara-negara kecil. Ditanamkan pemahaman nation state dari barat. Sementara simbol-simbol pemersatu umat dijauhkan dari memori. Termasuklah bendera bertuliskan kalimat tauhid ini.

Jika dulu bendera tauhid merupakan kebanggaan dimana nyawa pun dipertaruhkan demi tetap tegak berkibar. Kalau dulu bendera tauhid membuat dada musuh gemetar. Hari ini sebaliknya, kita, kaum muslimin dinarasikan sedemikian rupa untuk memusuhi bendera tauhid ini. Awalnya adalah hasil penelitian dari barat yang memprediksi bahwa kelak Islam akan kembali bangkit dan mengambil alih kekuasaan dunia. Untuk itu, barat sebagai penguasa hari ini merasa perlu membantah prediksi yang dibuatnya itu. Mengeluarkan energi sekuat tenaga untuk menghambat kebangkitan itu.

Maka muncullah isu terorisme. Dituduhlah beberapa negara muslimin memproduksi senjata pemusnah masal. Dibuat narasi sedemikian rupa bahwa agama mulia ini penuh dengan kebencian dan kekerasan menjadi jalan utama sebagai wujud aplikasi dari kebencian itu. Media massa dikendalikan. Opini dibentuk ke seluruh pelosok dunia. Bahwa Islam, agama rendah, hina, bodoh, primitif. Dan hebatnya, masyarakat dunia percaya termasuk kaum muslimin sendiri. Mendengar sesuatu yang berbau islam, konotasinya langsung negatif. Radikal. Ekstrimis. Terus menerus narasi ini diulang-ulang. Meskipun terdengar tak masuk akal.

Kasus yang menimpa siswa MAN 1 Sukabumi contohnya. Kakak kelas, anggota rohis, mengajak para siswa baru untuk ikut dalam organisasi keagamaan, terus untuk menyemangati siswa, maka dibawalah bendera bertuliskan kalimat tauhid. Lalu apa masalahnya? Dimana letak kesalahannya? Ketika foto ini diunggah ke media sosial, tiba-tiba saja orang jadi ribut. Kementrian Agama dimention dan parahnya respon cepat terjadi. Siswa ini dan juga pihak sekolah tentu saja diinvestigasi oleh pejabat terkait.

Inilah narasi yang terus menerus diulang itu. Bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera para radikalis. Jika terafiliasi dengan organisasi, organisasi ini bisa jadi akrab dengan aktivitas terorisme. Umat dibikin ketakutan sedemikian rupa dan parahnya opini buruk yang terus dikembangkan ini menggunakan tangan aparatur negara. Tak tanggung-tanggung, kementrian agama langsung yang turun tangan. Parah.

Padahal, Pak Lukman Hakim, sebagai mentri agama, seharusnya malah ikutan bangga ada warga negara yang kembali sadar bahwa Islam adalah solusi dari berbagai persoalan. Seharusnya pak Lukman Hakim ikut mendukung ketika bendera simbol penyatu umat ini berkibar di Madrasah Aliyah dan menyarankan agar bendera ini terus menerus berkibar di Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Ibtidaiyah. Dari kota Sukabumi, seharusnya Pak Lukman Hakim, menginstruksikan bahwa hal serupa bisa ditiru oleh kota-kota lain di seluruh Indonesia.

Bukankah seperti itu tugas menteri agama? Menjaga akidah umat. Ketika akidah ini terjaga, maka Islam akan terpelihara. Kehidupan dunia menjadi mulia berlanjut ke akherat berhadiah surga. Kemuliaan inilah yang akan didapat di balik berkibarnya bendera tauhid. Seperti kemenangan muslimin di Manzikert. Seperti kegigihan tak terbantahkan di perang Mu’tah.

Bukannya malah sibuk menangis terharu saat menghadiri acara penghargaan Waria.

Pak Lukman oh Pak Lukman.

*) Penulis adalah Sastrawan Kalimantan Barat

Leave a Reply