Breaking News

Kepemimpinan itu adalah amanah bukan kedzaliman

Oleh : W.Irvandi

Pada dasarnya, kepemimpinan dalam islam itu adalah amanah yang membutuhkan karakter dan sifat-sifat tertentu. Dengan karakter dan sifat tersebut sesorang akan dinilai layak untuk memegang amanah kepemimpinan. Atas dasar itu, tidak semua orang mampu memikul amanah kepemimpinan, kecuali bagi mereka yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Sifat kepemimpinan paling tidak ada tiga yang menonjol.

Pertama, al-quwwah (kuat). Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan. Tidak boleh kepemimpinan diserahkan kepada orang yang lemah. Rasulullah pernah menolak permintaan dari Abu Dzar al-Ghifariy yang menginginkan kekuasaan. Diriwayatkan oleh imam muslim, Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah tidakkah engkau mengangkatku sebagai penguasa (amil)? Rasulullah saw menjawab, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya.”

Maksud dari kekuatan disini adalah kekuatan aqliyyah(akal) dan nafsiyyah(sikap). Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan akal yang mampu memutuskan kebijakan yang tepat sejalan dengan akal sehat dan syariat islam. Pemimpin yang memiliki kekuatan akal akan mampu membuat kebijakan yang melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Sebaliknya yang lemah akalnya, sedikit banyak akan merugikan dan menyesatkan rakyatnya.

Selain memiliki kekuatan akal, seorang pemimpin harus memiliki kekuatan nafsiyyah. Nafsiyyah yang kuat akan mencegah pemimpin dari sikap yang tergesa-gesa, emosional dan tidak sabar. Nafsiyyah yang lemah cenderung mudah mengeluh, gampang emosi dan serampangan dan gegabah dalam mengambil tindakan. Pemimpin seperti ini tentu saja akan menyusahkan rakyatnya.

Kedua, al-taqwa (ketaqwaan). Ketaqwaan adalah salah satu sifat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin maupun penguasa. Rasulullah selalu menekankan aspek ketaqwaan ini kepada para amirnya ketika beliau menunjuk sesorang untuk memegang amanah kepemimpinan tersebut. Rasulullah berpesan untuk selalu bertaqwa kepada Allah dan bersikap baik kepada kaum muslim yang bersamanya.

Pemimpin yang bertaqwa akan selalu berhati-hati dalam mengatur urusan rakyatnya. Pemimpin seperti ini cenderung untuk tidak menyimpang dari aturan Allah swt. Ia selalu berjalan lurus sesuai dengan syariat islam. Karena ia tahu bahwasanya kepemimpinan itu akan dimintai pertanggung jawaban. Oleh karenanya, ia akan selalu menjaga tindakan dan perkataan. Berbeda dengan pemimpin yang tidak bertaqwa. Ia akan cenderung menggunakan kekuasaa untuk menindas, mendzalimi dan memperkaya diri. Pemimpin seperti ini merupakan sumber fitnah dan penderitaan.

Ketiga, al-rifq (lemah lembut) tatkala bergaul dengan rakyatnya. Sifat ini juga ditekankan oleh Rasulullah saw kepada setiap pemimpin. Dengan sifat ini, pemimpin akan mencintai dan dicintai oleh rakyatnya. Dalam sebuah riwayat, Aisyah ra berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw berdoa di rumah ini, “Ya Allah, siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurusi urusan umatku, kemudia ia memberatkannya, maka beratkanlah dirinya, dan barang siapa yang diserahi kekuasaan untuk mengurus urusan umatku, kemudian ia berlaku lemah lembut, maka bersikap lembutlah kepada dirinya.” [HR. Muslim]

Sifat lemah lembut pemimpin akan selalu menjadikan dirinya memperhaitkan kesedihan, kemiskinan dan keluhan masyarakat. Ia juga akan berperan dalam melindungi dan menjaga rakyatnya. Ia tidak akan mendzalimi dan tidak akan menyerahkan urusan rakyatnya kepada musuh. Rasululllah saw bersabda; “Barangsiapa diberi kekuasaan oleh Allah swt untuk mengurusi urusan umat islam, kemudia ia tidak memperhatikan kepentingan, kedudukan, dan kemiskinan mereka, maka Allah swt tidak akan memperhatikan kepentingan, kedudukan, dan kemiskinannya di hari kiamat.” [HR. Abu Dawud dan al-Turmudziy]

Untuk itu seorang pemimpin seharusnya memperhatikan urusan rakyat dan bergaul bersama mereka dengan cara yang baik. Bukan malah menimpakan kesalahan kepada rakyat apabila rakyat mengeluh atau menceritakan permasalahannya. Pemimpin yang memilik sifat lemah lembut inilah yang akan menjadikan dirinya ditaati dan dicintai oleh rakyatnya.

Dalam suatu hadis Rasulullah juga menyampaikan “Imam adalah penjaga, dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya”. Hadis ini menunjukkan bahwa urusan dan kepentingan rakyat menjadi tanggung jawab seorang imam (khalifah). Tugas seorang imam dalam hal ini adalah memikul urusan rakyat dengan memenuhi semua hak mereka.

Walhasil seorang pemimpin harus selalu menyadari bahwa kekuasaan yang digenggamnya tidak boleh diperuntukkan hal-hal yang bertentangan dengan syariat , bukan untuk memperkaya diri, mendzalimi maupun mengkhianati rakyatnya. Namun kekuasan itu ia gunakan untuk mengatur urusan rakyat sesuai dengan aturan-aturan islam. Bagaimana kalau ada pemimpin yang jauh dari sifat kepemimpin? Termasuk jauh dari aturan-aturan islam? Maka untuk pemimpin seperti ini tidak akan mungkin menjadi pemimpin yang ditaati dan dicintai oleh rakyatnya bahkan akan dibenci oleh rakyatnya.

Wallahu’alam

Leave a Reply