Breaking News

Keruntuhan Khilafah Islamiyah: Sebuah Tinjauan Historis Dan Analisis-Bagian Keempat

Oleh : Ustadz M Ismail Yusanto

Dia kemudian merekayasa opini umum yang menyudutkan Khalifah Wahidudin. Disebarluaskan bahwa Khalifah adalah teman dekat Inggris dan Yunani, sehingga berkobarlah kebencian rakyat kepada Khalifah. Dalam situasi seperti ini dia mengumpulkan Dewan Nasional untuk menjelaskan masalah bentuk pemerintahan. Saat itu dia tahu bahwa dia mampu untuk meyakinkan para anggota Dewan untuk mencopot Wahidudin dan menghapuskan kekuasaannya. Meskipun demikian, dia tidak berani menyerang Khilafah. Sebab, hal ini akan dapat menyinggung perasaan Islami dalam lubuk hati seluruh rakyat Turki. Karena itu dia tidak menyinggung-nyinggung Khilafah dan hanya mengusulkan pemisahan antara sulthonah (kekuasaan Khalifah) dengan Khilafah. Anggota Dewan tidak menyetujui usulan ini, lalu mereka membentuk Panitia Urusan Undang-Undang untuk mengkajinya.

Keesokan harinya tatkala Panitia mengkaji masalah ini, Musthofa Kamal ikut hadir dan mengawasi jalannya rapat. Panitia ini beranggotakan para ulama dan pengacara yang kemudian mempertimbangkan usulan ini berdasarkan nash-nash syara’. Mereka menganggap usulan itu menyalahi syara’, sebab di dalam Islam memang tidak ada kekuasaan agama dan kekuasaan dunia. Jadi Sulthonah dan Khilafah adalah satu kesatuan, tidak ada satu segi yang namanya agama dan segi lain yang namanya negara. Yang ada adalah peraturan Islam (nizhamul Islam) di mana masalah negara adalah bagian dari peraturan ini. Karena itu, panitia menolak usulan Musthofa Kamal.

Namun Musthofa Kamal tetap bersikeras menginginkan pemisahan agama dari negara dengan memisahkan sulthonah dari Khilafah. Ini sebenarnya adalah apa yang diminta oleh Sekutu dari Musthofa Kamal. Karena itu tatkala Musthofa Kamal mendengar pembahasan Panitia, dia sangat geram dan menginterupsi sidang panitia seraya berteriak dengan lagak seorang diktator : “Wahai tuan-tuan, Sultan Utsmani telah merampas kedaulatan milik rakyat dengan kekuatan. Maka dengan kekuatan pula rakyat akan menarik kembali kedaulatannya dari Sultan. Kekuasaan Khalifah (sulthonah) wajib dipisahkan dan dihapuskan dari Khilafah. Anda setuju atau tidak, inilah yang akan terjadi. Apa pun yang terjadi, sebagian kepala kalian pasti akan jatuh terpancung selama Anda tidak setuju.”

Kemudian Musthofa Kamal mengundang rapat anggota Dewan Nasional untuk segera membicarakan usulannya. Sebagian besar anggota Dewan tidak menyetujui usulan Musthofa Kamal. Kawan-kawan Musthofa Kamal kemudian meminta voting dengan cara mengangkat tangan sekali saja. Anggota yang lain mengatakan, “Jika kita akan mengadakan voting, hendaklah dengan menyebutkan nama.” Musthofa Kamal menolak usulan ini kemudian berteriak seraya mengancam, “Saya percaya Dewan akan menerima usulan saya dengan suara bulat. Cukuplah pengambilan suara dengan mengangkat tangan.”

Ketika usulan disampaikan dalam voting, tak ada yang mengangkat tangan kecuali beberapa gelintir saja. Akan tetapi diumumkan kemudian bahwa Dewan menyetujui usulan secara aklamasi. Para anggota Dewan menjadi heboh dan sebagian mereka berdiri di atas kursinya seraya berteriak menghujat, “Ini tidak benar dan kami tidak setuju !” Namun para pendukung Musthofa Kamal membalasnya dengan teriakan yang menenggelamkan protes itu dan akhirnya terjadilah saling caci-maki di antara mereka. Namun ketua sidang sekali lagi mengumumkan bahwa Dewan menyetujui secara bulat penghapusan sulthonah. Kemudian sidang bubar.

Ketika Khalifah Wahidudin mengetahui hal itu dia lalu melarikan diri. Setelah itu dia digantikan oleh anak saudara lelakinya, yaitu Abdul Majid sebagai Khalifah kaum muslimin, yang tidak lagi memiliki kekuasaan apa-apa.

Meskipun demikian sebagian besar anggota Dewan Nasional sebenarnya tetap menentang Musthofa Kamal setelah pengumuman pemisahan sulthonah dari Khilafah. Musthofa Kamal kemudian berupaya untuk mengumumkan bentuk pemerintahan yang diinginkannya, yaitu republik Turki dan mengangkat dirinya sendiri sebagai presidennya. Dia kemudian membuat rekayasa politik untuk mewujudkan tujuannya ini. Direkayasalah kemudian krisis-krisis yang menyulitkan yang berujung pada permintaan mundur kepada para menteri yang menjalankan kekuasaan. Permintaan ini diajukan kepada Dewan Nasional Raya Turki, sementara Dewan belum mendapatkan pihak pengganti yang akan menjalankan kekuasaan itu. Setelah krisis yang bertubi-tubi akhirnya diusulkan oleh Dewan agar Musthofa Kamal-lah yang memegang kekuasaan kabinet tersebut. Pada saat itulah, dia kemudian mengumumkan Turki menjadi republik dan Musthofa Kamal dipilih oleh Dewan Nasional menjadi presidennya yang pertama.

Namun masalahnya tidak semudah yang diduga Musthofa Kamal. Bangsa Turki yang muslim menganggap Musthofa Kamal telah menyimpang dari Islam dan menghancurkan Islam. Mayoritas rakyat Turki menganggap bahwa para penguasa Ankara yang baru telah murtad. Akhirnya masyarakat kembali mendukung Sultan Abdul Majid dan mencoba mengembalikan kekuasan kepadanya untuk menumpas orang-orang murtad tersebut (An Nabhani, 1953).

Musthofa Kamal akhirnya menyadari bahwa mayoritas rakyat membencinya dan menuduhnya sebagai orang zindiq, kafir, dan atheis. Karena itu, kemudian ia melancarkan propaganda untuk menentang Khalifah dan Khilafah serta memprovokasi Dewan Nasional sehingga akhirnya mereka mengeluarkan sebuah undang-undang yang memutuskan bahwa setiap penentangan terhadap republik dan setiap dukungan kepada Khalifah adalah sebuah pengkhianatan yang akan diganjar dengan hukuman mati.

Selain itu Musthofa Kamal juga melancarkan teror-teror untuk kepentingannya. Seorang anggota Dewan yang menyerukan keharusan Khilafah telah dibunuh oleh orang suruhan Musthofa Kamal ketika ia pulang ke rumah setelah mengikuti sidang di Dewan Nasional. Seorang anggota Dewan yang lain menyampaikan pidato yang membela Islam yang dihadiri oleh Musthofa Kamal. Musthofa Kamal kemudian mengancam anggota tersebut dengan hukuman gantung bila mengucapkan pidato seperti itu lagi.

Dalam kondisi seperti itu para pendukung Musthofa Kamal yang moderat ada yang memintanya menjadi Khalifah, karena mereka takut terhadap hancurnya Khilafah. Musthofa Kamal menolaknya. Kemudian datang pula dua utusan dari Mesir dan India yang memintanya menjadi Khalifah bagi kaum muslimin. Namun Musthofa Kamal tetap menolaknya. Dia terus melancarkan propaganda untuk menimbulkan kebencian terhadap Khalifah. Bahkan sampai-sampai Khalifah dituduh sebagai sekutu asing. Akibatnya, meluaslah kebencian terhadapnya.

Di tengah suasana yang demikian, pada tanggal 3 maret 1924 Musthofa Kamal berbicara di hadapan Dewan Nasional mengenai rencananya untuk menghapuskan Khilafah, mengusir Khalifah, dan memisahkan agama dari negara.

Pada saat itu dia berkata, “Dengan harga berapa kita wajib menjaga republik yang terancam dan berdiri di atas dasar-dasar ilmiah yang kokoh? Khalifah dan keturunan Bani Utsman harus diusir. Pengadilan-pengadilan agama yang kuno dan segenap undang-undangnya wajib digantikan dengan pengadilan dan undang-undang modern. Madrasah-madrasah para agamawan (rijaluddin) harus digantikan dengan madrasah-madrasah negeri yang tidak mempelajari agama.”

Dengan gaya seorang diktator dia menetapkan rencananya ini di bawah persetujuan Dewan Nasional tanpa diskusi atau tanya jawab apa pun. Kemudian dia mengirim utusan kepada penguasa Istambul untuk mengusir Khalifah Abdul Majid keluar dari Turki sebelum datangnya fajar keesokan harinya. Penguasa Istambul itu bersama beberapa pengawal kemudian mendatangi istana Khalifah di tengah malam, lalu memaksanya naik mobil yang kemudian membawanya keluar batas wilayah Turki. Khalifah tidak diijinkan membawa barang apa pun kecuali sebuah koper pakaian dan secuil uang (An Nabhani, 1953).

Dengan demikian, Musthofa Kamal telah menghancurkan Daulah Islamiyah dan peraturan hidup Islam, kemudian mendirikan negara dan sistem Kapitalis yang kafir sebagai gantinya. Lewat Musthofa Kamal terwujudlah mimpi orang-orang kafir sejak Perang Salib, yaitu menghancurkan Khilafah Islamiyah.[]