Breaking News

Keruntuhan Khilafah Islamiyah: Sebuah Tinjauan Historis Dan Analisis-Bagian Pertama

Oleh : Ustadz M Ismail Yusanto

Mukadimah

Kehancuran Khilafah Islamiyah, tak diragukan lagi adalah sebuah episode sejarah umat Islam yang paling tragis, memilukan, dan menyakitkan. Betapa tidak, kejadian yang sudah berlalu 79 tahun lalu itu dampak buruknya sedemikian dahsyat dan masih terasa akibatnya yang pedih sampai sekarang. Kaum muslimin hidup nista dan terlunta-lunta, bahkan terus tertindas dan terjajah di bawah cengkeraman negara-negara adidaya Barat yang kafir.

Hancurnya Khilafah telah melenyapkan negara yang mampu mempersatukan umat Islam dalam sebuah ikatan Aqidah Islamiyah yang mampu melebur orang Ajam dan Arab sebagai satu kesatuan yang utuh. Negara Khilalah inilah yang dulu mampu membendung laju imperalisme Eropa yang akan menjajah negeri-negeri Islam yang kaya dengan sumber daya alam dan mampu mencegah ambisi kotor Zionisme untuk merampas tanah Palestina yang suci dan diberkahi.

Hancurnya Khilafah telah memungkinkan Eropa untuk memecahbelah negeri-negeri Islam, memutuskan hubungannya satu sama lain dengan menebarkan ide nasionalisme yang kafir, dan mendudukinya secara langsung. Perancis telah menduduki Suriah dan Lebanon, sementara Inggris berhasil menduduki Irak, Yordania, dan Palestina (Al Qadhamani, 1986).

Hancurnya Khilafah telah memusnahkan sebagian besar hukum-hukum Allah di muka bumi. Yang tersisa hanyalah secuil hukum-hukum seputar akhlaq, ibadah, dan sebagian kecil muamalah seperti al ahwalusy syakhshiyyah (hukum tentang pengaturan keluarga). Dapat dikatakan, Islam nyaris musnah dari realitas kehidupan, karena Khilafah yang menopangnya telah tiada. Padahal, sebagaimana kata Imam Al Ghazali dalam kitabnya Al Iqtishad fil I’tiqad halaman 199,”… agama (Islam) adalah pondasi dan kekuasaan itu adalah penjaga(nya). Segala sesuatu yang tak berpondasi akan rubuh, dan segala sesuatu yang tak berpenjaga akan hilang lenyap.” (Belhaj, 1991)

Namun demikian, tak sepantasnya kita hanya meratap dan berkeluh kesah menghadapi cobaan maha berat ini. Umat Islam harus mengambil pelajaran (‘ibrah) dari peristiwa mengenaskan ini, agar dapat mengambil sikap yang benar dan tepat, serta tidak terjeblos lagi dalam peristiwa serupa di kemudian hari. Allah SWT berfirman :Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS Al Hasyr : 2)

Rasulullah SAW bersabda :“Hendaklah seorang mukmin tidak terperosok ke satu lubang (yang sama) dua kali.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah. Hadits Sahih. Lihat As Suyuthi, Al Jami’ush Shaghir, hlm. 205)

Faktor-Faktor Kelemahan Internal Daulah Khilafah

Bila kita tengok lembaran sejarah ke belakang, kehancuran Khilafah itu adalah sesuatu yang wajar, dalam arti negara itu memang sudah sangat lemah, hingga orang menyebutnya sebagai Ar Rajul Al Mariidh atau “The Sick Man”. Bahkan kelemahannya ini sudah muncul jauh sebelumnya, sejak abad-abad pertama lahirnya agama Islam yang mulia ini.

Menurut Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani (1953), pendiri Hizbut Tahrir, dalam kitabnya Ad Daulah Al Islamiyah, kelemahan ini nampak dalam dua hal, yaitu : Pertama, kelemahan umat dalam pemahaman (al fahm) terhadap Islam, dan kedua, kelemahan dalam penerapan (at tathbiq) Islam.

Kelemahan pemahaman ini antara lain berkenaan dengan nash-nash ajaran Islam, bahasa Arab, dan ketidaksesuaian praktek ajaran Islam dalam realitas kehidupan. Berkaitan dengan nash-nash Islam, telah terjadi upaya pembuatan hadits-hadits palsu oleh kaum zindiq, meskipun kemudian ini dapat ditanggulangi berkat bangkitnya para ulama hadits dengan memberikan kriteria mengenai keotentikan dan derajat hadits.

Kelemahan dalam bahasa Arab terjadi saat berkuasanya para Mamalik yang mengabaikan bahasa Arab. Akibatnya terjadilah kelemahan dalam ijtihad hukum syara’ dan penerapannya dalam kenyataan.

Kelemahan dalam praktek ajaran Islam, muncul pada abad-abad pertama karena adanya upaya mengkompromikan ajaran filsafat India dengan ajaran Islam, sehingga zuhud akhirnya ditafsirkan sebagai penyiksaan diri (asketisme). Akibatnya, banyak kaum muslimin yang lari dari kenyataan hidup, padahal tenaga dan pikiran mereka seharusnya dapat didedikasikan untuk kemajuan negara dan dakwah Islam (An Nabhani, 1953).

Kelemahan pemahaman dalam tiga aspek ini diperparah dengan Al Ghazwuts Tsaqafi (Perang Budaya) yang dilancarkan Barat ke negeri-negeri Islam dengan peluru-peluru yang berisikan peradaban Barat yang bertentangan dengan peradaban Islam. Barat menyebarkan waham (ilusi) bahwa peradaban Barat sesuai dengan Islam, hingga akhirnya pemahaman umat terhadap Islam semakin lemah. Mereka akhirnya mengambil sebagian hukum Barat di masa Daulah Utsmaniyah, mentakwilkan riba dan membuka bank-bank, memberhentikan penegakan hudud dan mengambil gantinya dari undang-undang Barat.

Adapun kelemahan dalam penerapan Islam, nampak dari penerapan yang buruk (isa`atut tathbiq) terhadap hukum Islam dalam kehidupan. Di antaranya ialah adanya partai-partai politik yang menggunakan kekuatan militer (thariqul quwwah) untuk meraih kekuasaan, bukan menggunakan dukungan umat (thariqul ummah). Seperti golongan Abbasiyah yang menduduki Persia dan Irak serta menjadikan wilayah ini sebagai sentral kekuasaannnya. Lalu dari sini mereka menggulingkan kekuasaan dan menjadikan Bani Hasyim sebagai para penguasanya. Begitu pula yang dilakukan golongan Fathimiyin yang telah menduduki Mesir dan menjadikannya sebagai sentral kekuatannya dengan menjadikan keturunan Fathimah RA sebagai para pemimpinnya.

Di samping itu, kelemahan lainnya juga nampak dari pemberian otoritas yang besar dan luas kepada para Wali (Gubernur) di berbagai wilayah. Misalnya diamnya penguasa Abbasiyah terhadap Abdurrahman Ad Dakhil yang berkuasa di Andalusia dan membiarkannya berkuasa secara independen. Meskipun Andalusia saat itu masih menjadi bagian integral dari Khilafah, tetapi wilayah itu sudah terpisah dari segi pengelolaan pemerintahannya. Demikian pula halnya para penguasa Saljuqiyyin dan Hamdaniyyin, yang sebenarnya adalah para wali. Khalifah memberikan kewenangan yang luas kepada mereka sehingga akhirnya mereka mengatur urusan wilayahnya sendiri secara independen, terlepas dari pusat. Hubungan dengan pusat hanya formalitas, seperti doa kepada Khalifah di mimbar Jumat, pencetakan mata uang atas namanya, pengiriman kharaj kepadanya, dan sebagainya (An Nabhani, 1953).

Semua faktor ini telah melemahkan Daulah Islamiyah, hingga kemudian datang golongan Utsmaniyin mengambil kendali pemerintahan Khilafah (abad ke-9 H/ke-15 M). Mereka mempersatukan negeri-negeri Islam seperti negeri-negeri Arab di bawah kekuasaannya (abad ke-10 H/ke-16 M) kemudian menyebarluaskan Islam ke negara-negara Eropa. Namun, semua upaya ini tidaklah didasarkan pada pemahaman yang sahih terhadap Islam dan penerapannya secara benar dalam kehidupan, melainkan hanya berdasarkan kekuatan iman para Khalifah Utsmaniyah. Akibatnya, tak lama kemudian Khilafah semakin lama semakin lemah sehingga akhirnya dijuluki “lelaki yang sakit.”[]