Breaking News

Khilafah Bukan Ajaran Picik

Oleh : Robyansyah (Pengusaha Muslim KalBar)

Akhir-akhir ini kata “Khilafah” menjadi bahan perbincangan yang hangat hampir di semua tempat, misalnya di warung kopi, pasar, masjid, mushalla, sekolah, kampus hingga di tempat-tempat seminar. Media nya pun sangat beragam, mulai dari media sosial, televisi, radio dan sebagainya. Sebagai seorang muslim yang meyakini kebenaran ajaran islam, kita seharusnya lebih bijak dalam menyikapi isu khilafah ini.

Salah satu hikmah dalam memahami sebuah informasi, kita dapat memetiknya dari sirah sahabat Rasulullah tentang dakwah islam. Sebagaimana kisah salah seorang sahabat yang bernama Sa’ad bin Mu’adz ketika mendengar kabar dari sahabatnya Usaid bin Hudhair.  Pada saat itu duta Islam pertama, Mush’ab bin Umair, berdakwah di Yatsrib (Madinah). Beliau berhasil mengajak beberapa orang untuk beriman kepada Islam dan Rasulullah SAW. Sa’ad pun tercengang. Ia langsung memerintahkan sahabat karibnya, Usaid bin Hudhair, untuk menemui Mush’ab yang ketika itu bersama As’ad bin Zurarah (anak bibi Sa’ad bin Mu’adz) agar menghentikan aksinya.

Namun, sesampai ditempat Mush’ab dan setelah berdialog dengannya, Usaid malah menyatakan keislamannya. Ia pun segera pulang untuk menemui Sa’ad dengan harapan agar Sa’ad juga dapat mengikuti jejaknya. Melihat keadaan Usaid yang raut wajahnya sudah tidak seperti ketika perginya, Sa’ad bertanya, “Apa yang terjadi pada dirimu?”

Usaid menjawab, “Aku sudah berbicara dengan dua orang tersebut. Demi Allah, aku tidak melihat keduanya tidak mempunyai kekuatan. Aku sudah melarang mereka berdua, lalu keduanya berkata, ‘Kami akan melakukan sesuatu yang engkau sukai. Aku sudah diberi tahu bahwa Bani Haritsah sudah menemui As’ad bin Zurarah untuk membunuhnya, karena mereka tahu bahwa anak bibimu telah menghinamu.”

Mendengar hal itu, Sa’ad bangkit dengan marah, mengambil tombaknya lalu menghampiri As’ad bin Zurarah dan Mush’ab. Namun, tatkala Sa’ad melihat keduanya yang duduk tenang-tenang saja. Barulah ia menyadari bahwa Usaid bermaksud mengakalinya agar dia bisa mendengar apa yang disampaikan mereka berdua.

Dengan wajah cemberut Sa’ad berdiri di hadapan mereka berdua, lalu berkata kepada As’ad bin Zurarah, “Demi Allah wahai Abu Umamah, kalau bukan karena ada hubungan kekerabatan antara kita, aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Engkau datang ke perkampungan kami dengan membawa sesuatu yang tidak  kami sukai.”

Mush’ab berkata kepada Sa’ad, “Bagaimana jika engkau duduk dan mendengar apa yang aku sampaikan? Jika engkau suka terhadap sesuatu yang aku sampaikan, maka engkau bisa menerimanya. Dan jika engkau tidak menyukainya, maka kami akan menjauhkan darimu apa yang tidak kau sukai.” “Engkau cukup adil” kata Sa’ad, sembari menancapkan tombaknya, dan duduk bersama dengan keduanya.  Lalu Mush’ab menjelaskan Islam kepadanya dan membacakan Alquran dari permulaan surat Az-Zukhruf.

Apa pelajaran yg bisa kita ambil dari kisah diatas? Ya, Sa’ad bin Mu’adz yang mendengar kabar bahwa ada seorang pemuda menyebarkan sesuatu yang tidak ia sukai namun tidak langsung menjauh, memvonis, serta memboikot apa yang mereka sampaikan. Namun mendengarkan penjelasan terhadap apa yang mereka bawa, sehingga ia pun menerima Islam dan menjadi pembela Islam.

Sebagaimana juga dengan isu Khilafah saat ini yang dikonotasikan terhadap makna negatif. Khilafah  ajaran yang barbarian. Padahal khilafah adalah bagian dari ajaran Islam yang akan membawa Rahmat bagi semesta alam.

Islam belum akan menjadi Rahmat bagi seluruh alam jika hukum-hukum syariat-Nya belum diterapkan, dan yang akan menerapkan hukum-hukum tersebut hanyalah Pemerintahan Islam (Khilafah).

Dengan sistem pemerintahan Islam (Khilafah) maka sumber daya alam yang saat ini dikuasi oleh swasta dan asing  akan dikelola oleh negara. Hasilnya digunakan untuk kepentingan rakyat, seperti infrastruktur (fasilitas umum), kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Semuanya diberikan secara gratis oleh negara.

Diterapkannya Khilafah, kriminalitas/kejahatan seksual yang saat ini marak terjadi secara drastis akan menurun. Dalam sistem pemerintahan Islam tersebut tidak hanya akan memberikan sanksi namun terlebih dahulu memberikan langkah-langkah preventif (baca: pencegahan). Langkah-langkah tersebut diantaranya: meningkatkan pemahaman ajaran agama islam yaitu melarang setiap individu untuk melakukan tindakan kejahatan, mewajibkan kepada wanita untuk menutup aurat, memerintahkan kepada laki-laki untuk menjaga pandangannya, memisahkan antara laki-laki dan perempuan, kemudian terakhir barulah memberikan sanksi terhadap siapa saja yang melakukannya.

Tidak hanya kriminalitas yang akan diatasi. Khilafah juga akan mengatasi masalah kemiskinan, masalah kesehatan, dan masalah penindasan terhadap umat Islam di berbagai belahan dunia seperti yang terjadi di Palestina, Rohingya, Xinjiang, Suriah. Semua itu hanya akan selesai ketika Khilafah diterapkan.

Diatas hanyalah beberapa kebaikan dari sekian banyak kebaikan bilamana sistem pemerintahan Islam diterapkan, dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang akan dilahirkan oleh sistem ini sehingga Islam layak disebut sebagai Rahmat bagi seluruh alam. Maka dari itu, jika anda mendengar kabar tentang isu khilafah dan belum mengerti secara jelas maka bertanya kepada mereka yg jujur terhadap nya (red ; khilafah) dan bukan malah bertanya kepada orang-orang yang membencinya.

Wallahu a’lam bishshawab

Leave a Reply