Breaking News

KHILAFAH SOLUSI, BUKAN ANCAMAN DI TENGAH PANDEMI

Oleh: Uray Herlindawati (Muslimah Ideologis Khatulistiwa)

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini belum juga berakhir. Jumlah korban yang terinfeksi dan meninggal dari hari ke hari justru semakin meningkat. Tak ada seorangpun yang bisa memperkirakan kapan pandemi ini akan menghilang dan pergi.

Dampak negatif dari pandemi ini begitu luar biasa, mulai dari kesehatan, nyawa, hingga menyebabkan ekonomi dunia menjadi runtuh. Negara-negara kapitalis dan komunis-kapitalis juga mulai kolaps. Mereka tak berdaya menghadapi makhluk kecil yang bernama Corona.

Di Indonesia sendiri, kasus positif virus Corona atau Covid-19 pertama kali terdeteksi pada Senin (2/3). Pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo.Sejak hari itu, jumlah kasus positif Corona semakin bertambah dari hari ke hari. Beberapa pasien dinyatakan negatif dan akhirnya sembuh namun tidak sedikit pasien yang meninggal dunia,

Berdasarkan data pada Minggu (28/6), jumlah pasien yang dinyatakan positif bertambah 1.198 orang. Sehingga total menjadi 54.010 kasus positif Corona. Sementara untuk pasien sembuh bertambah 1.027 pasien, sehingga total secara akumulatif sebanyak 22.936 orang pasien sembuh. Sedangkan pasien yang meninggal dunia karena virus ini bertambah 34 orang. Sehingga total kasus meninggal sebanyak 2.754 orang. (merdeka.com, 28/6/2020)

Berbagai langkah dan kebijakan pun telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi pandemi ini, diantaranya memberlakukan distancing, social distancing, penggunaan masker ketika keluar rumah, meliburkan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan kegiatan di area publik, hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Namun angka penyebaran virus belum juga menunjukkan penurunan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan negara belum optimal dalam menangani virus sehingga memunculkan ketidakpercayaan publik terhadap kebijakan yang telah diterapkan oleh pemerintah. Publik pun menilai bahwa kebijakan yang diterapkan pemerintah tidak konsisten.

Baru-baru ini pemerintah kembali membuat bingung masyarakat. Pasalnya, pemerintah menerapkan kebijakan baru yakni new normal  yang merupakan kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar (protokol) kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi.

Kebijakan pemerintah yang telah menerapkan New Normal pun menuai pro dan kontra dari masyarakat. Karena, sangat tidak mungkin bahwasanya kebijakan ini diterapkan di Indonesia, di sisi yang sama kasus Covid-19 sendiri masih sangat tinggi. Menjadi dilema apabila tidak diterapkan maka dampaknya terhadap perekonomian Indonesia semakin anjlok.

Apakah layak jika New Normal merupakan kebijakan pemerintah yang tepat untuk mengatasi Covid-19 yang tak berujung ini?

Sesungguhnya di tengah ketidakmampuan sistem kapitalisme liberal menyelamatkan manusia dari wabah dan diikuti krisis multidimensi yang akan terjadi pascawabah, seharusnya semakin menyadarkan kaum muslimin bahwa saat ini kita membutuhkan sistem baru.

Yakni sistem yang akan menyelamatkan manusia dan dunia dari berbagai malapetaka, serta membawa solusi yang akan memberikan kesejahteraan. Karena, sistem hari ini telah gagal menyejahterakan rakyat, baik pada saat tanpa wabah, terlebih lagi ketika terjadi wabah.

Satu-satunya harapan umat hanyalah kepada sistem Islam yakni Khilafah. Inilah sistem yang dibangun di atas landasan wahyu Allah SWT dan dituntun oleh Rasulullah SAW serta dilanjutkan para Khalifah setelahnya.

Islam memiliki kekayaan konsep dan pemikiran cemerlang yang bersifat praktis. Terpancar dari akidah Islam yang shahih dan mengalir dari telaga kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah serta apa yang ditunjuk oleh keduanya. Bahkan telah teruji kemampuannya di seluruh penjuru dunia selama ratusan abad lamanya.

Islam telah teruji baik dalam tataran teoritis maupun praktis, dan hanya paradigma serta konsep-konsep berupa syariah kaffah lah satu-satunya pembebas Indonesia dan dunia dari penderitaan ancaman pandemi yang mematikan ini.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Sejarah telah menunjukkan pada kita bahwa bagaimana Allah SWT telah mempergilirkan kepemimpinan sebuah peradaban atas dunia. Perubahan tatanan dunia baru pasca pandemi Covid-19 pun mungkin akan terjadi.

Apalagi saat ini ummat telah menyaksikan sendiri berbagai fenomena ambruknya kapitalisme akibat pandemi Covid-19 dan mulai bangkitnya ghirah persatuan di kalangan kaum muslimin, tentu peluang munculnya Khilafah sebagai tatanan dunia baru ini akan semakin besar untuk menjadi kenyataan ketika kesadaran umat sudah mulai tumbuh.

Di tambah lagi di tengah-tengah umat telah hadir kelompok atau jama’ah yang getol dan istiqomah melakukan aktifitas dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya syariah dan Khilafah.

Dalam perjalanannya memang tak seindah yang dicitakan. Khususnya dalam dakwah perjuangan penegakan syariah dan Khilafah. mengingat saat ini kita hidup di alam sekulerisme dan dibawah kepemimpinan rezim yang dzalim dan anti Islam.

Pihak penentang Khilafah semakin berani, terang-terangan dan lantang untuk menghadang opini Khilafah. Mereka mengeluarkan segala kemampuannya dengan berbagai sarana baik itu melalui seminar, menulis di berbagai media, bahkan melalui jalur hukum juga telah dilakukan untuk mencegah bangkitnya islampolitik, salah satunya adalah dicabutnya badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia, sebagai ormas yang dikenal lantang menyuarakan Khilafah.

Kemudian, belakangan ini penulis juga seringkali menemukan berbagai artikel maupun kegiatan seminar atau diskusi online yang membahas agar masyarakat mewaspadai kebangkitan ideologi Khilafah di tengah pandemi. Mereka menyebutkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam pusaran virus Corona dan Khilafah. Dan menganggap bahwa hal tersebut harus diwaspadai, karena virus Khilafah itu sama bahayanya dengan virus Corona.

Padahal Khilafah bukanlah ancaman, sebagaimana yang telah dipropagandakan rezim saat ini. Mereka merasa terancam dengan bangkitnya Khilafah karena dianggap bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Mereka juga menjadi “gerah” karena merasa kedudukan dan singasananya sedang diguncang.

Kepanikan rezim sekuler saat ini bersamaan dengan semakin kuatnya dakwah Khilafah. Hal ini semakin membuktikan bahwa sesungguhnya dakwah Islam kaffah ini telah diterima oleh sebagian besar umat Islam.

Khilafah adalah janji Allah dan bisyarah (kabar gembira) Rasulullah SAW. Hadist Rasulullah SAW: “Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Maka penolakan sekeras apapun tidak akan bisa menghalangi atau menunda terwujudnya janji Allah. Upaya untuk memadamkan cahaya agama Allah, justru semakin menyempurnakan agama Allah. Makar apapun yang dibuat untuk menghancurkan agama Allah, justru dibalas oleh Allah sebagai sebaik-baik pembuat makar.

Karena Islam hadir untuk membawa rahmat, bukan petaka. Islam datang untuk menyelamatkan manusia, bukan menjerumuskannya. Islam tak bertampang penjajah, tapi ia adalah junnah  bagi kaum beriman dan pelindung umat manusia dari keburukan.

Jika masih meragukan Islam sebagai jalan kebaikan, maka sudah seharusnya bertanya, Dimana iman dan Islam kita? Jika berbeda dalam pandangannya terhadap Khilafah, maka janganlah menghardiknya. Apalagi kalau menyalahinya hal ini sama halnya dengan menolak ajaran Islam. Wallahu a’lam bi ash-shawasb