Breaking News

KIBARAN LIWA DAN RAYAH DI BAWAH BERKAH DERASNYA HUJAN

Reportase oleh: Pay Jarot Sujarwo

Siapapun yang beriman akan merasakan getar yang tak biasa di hatinya. Hari itu, jumat (26/10) suasana di kota Pontianak tampak berjalan seperti biasanya. Setidaknya itu yang terjadi hingga waktu sholat jumat tiba. Selepasnya, terik matahari di garis khatulistiwa pelan-pelan memudar. Mendung menyergap. Isyarat bahwa hujan sudah dekat.

Tugu digulis. Tugu yang berdiri gagah di wilayah bundaran Universitas Tanjungpura kemudian didatang orang-orang. Sudah beberapa hari lalu mereka merencanakannya. Berkumpul dari berbagai titik, menyemut dalam barisan rapi. Sebagian besar mereka membawa bendera.

Mendung mengiringi angin yang menderu. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan bendera tiba-tiba saja mengangkasa. Berkibar begitu perkasa. Di antara yang ribuan itu, beberapa berukuran lebih besar. melambai-lambai, mengetuk pintu lagit. Sejurus kemudian, langit yang terketuk menurunkan hujan begitu rupa. Derasnya membawa berkah. Seketika pekik takbir membahana. Sungguh, ini menggetarkan hati siapapun yang ada iman di dalamnya.

Begitulah kira-kira pemandangan awal dari aksi bela tauhid yang digelar di Kota Pontianak. Hujan yang begitu deras sama sekali tak menyurutkan semangat ribuan warga untuk tetap berkumpul di lokasi aksi. Malah jumlah mereka semakin bartambahnya waktu semakin banyak. Mereka berkumpul dari berbagai titik untuk satu suara, membela kalimat tauhid. Memprotes aksi pembakaran bendera bertuliskan lafadz tauhid yang dilakukan oknum salah satu ormas beberapa hari sebelumnya. Bersatunya umat Islam begitu kentara dalam aksi tersebut.

“Aksi ini mengatasnamakan Aliansi Umat Islam Bersatu Kalbar, digelar serentak di berbagai pelosok negeri. Tujuannya jelas, menuntut pelaku pembakaran bendera tauhid agar dihukum seberat-beratnya,” ujar Koordinator Aksi, Habib Rizal dari mobil komando. Habib Rizal dengan lantang menyerukan kepada penegak hukum untuk dapat benar-benar menegakkan hukum dengar benar. Menangkap pelaku bahkan otak di balik pembakaran bendera tersebut.

Selain Habib Rizal juga naik ke atas mobil Komando Sultan Pontianak Syarif Mahmud Melvin Alkadri. Beliau membacakan tuntutan yang salah satu poinnya adalah mengutuk dengan keras peristiwa pembakaran bendera bertuliskan lafadz tauhid. Sultan Pontianak kembali menegaskan apa yang telah disampaikan oleh koordinator aksi bahwa pelaku harus ditangkap dan diberikan hukuman setimpal.

“Pembakaran bendera tauhid adalah salah satu bentuk penodaan agama dan telah melakui hati seluruh umat Islam di dunia.” ujar Sultan dalam orasinya.

Orasi-orasi lainnya silih berganti. Pekik takbir begitu menggelegar. Bendera hitam dan putih yang dikenal dengan sebutan Al Liwa dan Ar Rayah terus menerus berkibar. Hujan mengiringi. Inilah aksi yang telah menyedot perhatian masyarakat. Sebagian mereka merindukan persatuan umat. Aksi ini adalah momentum begitu berharga.

Sore hari, peserta aksi melakukan konvoi, menuju istana kesultanan kadriyah. Liwa dan Rayah tak hanya mengetuk langit, tapi mengajak siapa saja, kaum muslimin yang merindukan persatuan dan kebangkitan.

Takbir. AllahuAkbar

#AksiBelaTauhid
#BelaBenderaTauhid

Leave a Reply