Breaking News

Kita Dibalik Duel

Oleh : Kurniawan.
Menggaet simpati dari calon pemilih itu bukan suatu yang mudah saat ini. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyebutkan, kelompok undecided voters dan swing voters akan terdistribusi relatif merata kepada kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Berdasarkan survei Indikator yang diadakan pada Maret 2019, masih ada 16,9 persen responden pemilih yang masih bisa mengubah pilihannya dan 7,2 persen belum menentukan pilihan (kompas.com, tanggal 4/4/2019).

Sehingga kita akan disajikan narasi politik yang bisa menyedot suara bagi kedua calon presiden beserta wakil dan pendukungnya. Narasi dibawa keduanya pada sembilan cara kampanye yang ditetapkan oleh KPU. Dari situ akan terlihat bagaimana kualitas personal, politik behavior dan policy behavior yang akan terwujud dari kedua kandidat.

Kalau boleh jujur, setiap orang pasti sudah memiliki kriteria dan syarat pemimpin. Begitu juga umat Islam yang menginginkan dipimpin seorang laki-laki muslim, baligh dan berakal, mampu dan merdeka serta adil, syarat yang persis sama seperti yang keluar dari lisan Muhammad Rasulullah SAW. Namun sayangnya idola kita sekalipun di pangkas demokrasi dengan berbagai macam syarat untuk bisa menjadi pemimpin dengan adanya mekanisme presidential threshold, kemampuan power capabilities kepartaian dan lain-lain, yang lahir dari sistem demokrasi.

Sehingga, demokrasi hari ini layak dievaluasi. Demokrasi telah mempersempit hak warga negara memiliki suara hanya di bilik suara. Atau kemudian memiliki wakil di parlemen yang kemudian melupakan suara kita. Sementara sistem kepartaian hanya bermain dengan figure elit. Kita disajikan calon pemimpin yang itu itu saja. Kita ditawarkan dengan popularitas, likebilitas agar punya elektabilitas, bahkan visi misi pun tidak dijabarkan dengan baik dan sesuai syariat.   

Rasionalitas kita saat ini diarahkan untuk menjadi pragmatis. Disangka mau saja menerima uang amplop, dijanjikan bantuan, jabatan, keluasan akses dan lain-lain dengan catatan memilihnya. Money politic tak dapat dielak menjadi penyumbang terbesar berputarnya roda demorasi. Keberadaan makelar suara sekarang pun dianggap mulia. See? betapa mewahnya ‘bisnis’ suara kita.

Sekarang, menjadi pemilih yang ideologis musti menyempatkan diri untuk berfikir. Fikirkan dengan jernih dan mendalam. Sulitnya mencari figur pemimpin yang disyaratkan Nabi Muhammad SAW. Penyebabnya adalah karena saat ini sedang terinstall sistem demokrasi yang menjadi bagian besar ideologi kapitalisme-sekulerisme. Wajarlah standar pemimpin dan metode yang dipropagandakan adalah standar manusia. Tak lepas dari kecacatan bahkan kekacauan.

Lain halnya ideologi Islam, lahir darinya metode ilahiyah dan standar syar’i. Dengan demikian terjaring sumber daya manusia yang berkualitas. Tidak mengandalkan bakat namun institusi beriideologi Islam bernama Khilafah, akan menyiapkan mekanisme di segala bidang berlandaskan AL Qur’an dan As Sunah. Keterpilihan mereka menjadi pemimpin menjadi kebanggaan seluruh umat.  

Kita semua saat ini berada dibalik duel. Dan kita terpecah dibalik duel ini. Benarkah bahwa proses pemilihan pemimpin dalam demokrasi hari ini telah memecah belah umat islam? Dapatkah terlihat kaum muslim saat ini diadu domba dalam pemilihan umum? Tak inginkah kita tahu siapa yang melakukan adu domba itu? Tak ada yang dengan mudah bisa menjawabnya. Karena yang menguasai semua itu adalah sebuah sistem, kasat mata namun telah menjajah pemikiran umat islam Indonesia. Ia mendarahdaging karena suatu propaganda barat. Memoles demokrasi seolah manis dan dapat digubah dengan kearifan nasional. Sejatinya demokrasi sama saja di mana saja ya tetap berpotensi memecahbelah.  

 Buya Hamka pernah mengatakan “Satu waktu orang pun merasa kecewa dengan demokrasi sebab kemerdekaan memilih dan dipilih hanya untuk orang yang kaya, tuan tanah dan ahli-ahli pidato demagogi penipu.”. Saatnya kita tidak menggantungkan harapan pada demokrasi. Raihlah keadilan dan milikilah pemimpin terbaik dari sistem yang terbaik, yakni sistem Islam dengan institusi Khilafah ‘ala Minhaj An Nubuwwah.

***

Leave a Reply