Breaking News

Memasuki dan Merubah Masyarakat

Oleh : W.Irvandi

Untuk memasuki masyarakat, sebuah partai politik ideologis harus menyerang seluruh Mafahim, Maqayis dan Qanaah (disingkat : 2MQ) yang bertentangan dengan akidah islam. Sehingga, seluruh serangan harus dikembalikan pada akidah islam, yang menjadi akidah umat islam. Caranya dengan menjernihkan akidah serta menghubungkan akidah dengan syariat sehingga terpancarlah ideologi Islam di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita mengetahui makna 2MQ.

Pada dasarnya, mafahim, maqayis, dan qanaat adalah pemikiran-pemikiran (al-afkar). Namun ketiganya bukanlah pemikiran mendasar. Sedangkan pemikiran mendasar adalah aqidah. Jadi 2MQ merupakan pemikiran-pemikiran cabang yang dibangun dari suatu aqidah.

Mafahim, adalah pemikiran yang telah dipahami maknanya dan dibenarkan oleh seseorang (Shalih, 1988:24-26; Al-Qashash, 1995:141; Athiyat, 1996:49). Jadi, sebuah pemikiran akan berubah menjadi mafahim bagi seseorang jika memenuhi dua syarat, yaitu : Pertama, orang tersebut telah memahami makna pemikiran (idrak madlul al-fikrah) dengan tepat. Kedua, orang tersebut telah membenarkan pemikiran itu (at-tashdiq bi al-fikrah) (Muqaddimah Ad-Dustur, 1963:5-6).

Jika suatu pemikiran hanya dipahami maknanya, tetapi tidak dibenarkan, maka pemikiran itu tidak menjadi mafahim bagi seseorang, melainkan hanya sekedar informasi (al-ma’lumat). Demikian juga jika suatu pemikiran telah dibenarkan, tetapi tidak dipahami maksudnya, pemikiran itu juga belum menjadi mafahim.

Misalnya, pemikiran tentang mendirikan Khilafah adalah suatu kewajiban syar’i. Jika seseorang telah memahami apa yang dimaksud dengan Khilafah, memahami dalil-dalil yang mewajibkan keberadaannya, dan dia membenarkannya, berarti pemikiran itu telah menjadi mafahim baginya.

Akan tetapi, jika seseorang telah memahami apa itu Khilafah, tetapi tidak membenarkannya, atau malah menentangnya, maka pemikiran itu hanya menjadi pengetahuan saja baginya, bukan menjadi mafahim.

Apa pentingnya membedakan pemikiran dengan mafahim? Kepentingannya adalah untuk mengubah perilaku (as-suluk) manusia. Sebab, yang mempengaruhi perilaku manusia bukanlah pemikiran semata, melainkan mafahim yang ada pada dirinya. Kepentingan untuk mengubah perilaku inilah yang menjadi fokus dari istilah mafahim.

Adapun maqayis, hakikatnya ia adalah pemikiran dan sekaligus juga mafahim. Hanya saja, maqayis memiliki fungsi khusus untuk menjadi standar atau kriteria, sebab maqayis adalah pemikiran yang digunakan sebagai kriteria/standar untuk menilai berbagai pemikiran dan realitas.

Jika kita bicara mafahim, maka penekanannya adalah pada aspek pengaruh pemikiran terhadap perilaku. Sedang jika kita bicara maqayis, penekanannya adalah pada fungsinya sebagai standar atau kriteria untuk menilai, bukan faktor yang mempengaruhi perilaku.

Misalkan, sudah diketahui, bahwa syara’ mengharamkan penguasa untuk memberikan jalan bagi orang kafir untuk mendominasi umat Islam (lihat QS An-Nisaa` : 141). Maka dengan kriteria ini seorang muslim akan bisa menilai, apakah penguasanya telah menyimpang dari Islam atau tidak. Ketika dia melihat penguasanya meminta bantuan kepada IMF, atau memihak kepada Amerika Serikat dalam propagandanya yang keji untuk memerangi terorisme, maka tahulah dia, penguasanya telah menyeleweng jauh dari Islam. Sebab meminta bantuan IMF dan bekerjasama dengan AS dalam perang melawan terorisme, telah menjadi jalan untuk memperkokoh dominasi kaum penjajah yang kafir atas umat Islam.

Mengenai qanaat, maka sesungguhnya ia juga pemikiran dan juga mafahim. Jadi, karakter dasar dari qanaat adalah pemikiran yang telah dipahami dan dibenarkan oleh seseorang. Namun, qanaat lebih menekankan adanya unsur keyakinan atau penerimaan yang bulat terhadap suatu pemikiran.

Qanaat adalah pemikiran yang telah diyakini secara mantap oleh seseorang. Jadi, qanaat, walaupun berupa pemikiran, namun mekanisme pembentukannya dari pemikiran, melibatkan pekerjaan hati, yaitu pembenaran (at-tashdiq).
Qanaat lebih menekankan aspek pembenaran hati terhadap suatu pemikiran, atau lebih melihat bagaimana suatu pemikiran itu diterima secara meyakinkan dan memuaskan bagi seseorang. Bukan melihat dari segi bagaimana pengaruh pemikiran terhadap perilaku (dalam konteks mafahim), juga bukan melihat fungsi pemikiran sebagai tolok ukur untuk menilai (dalam konteks maqayis).

Adapun pembenaran terhadap suatu pemikiran, bisa terwujud karena adanya argumen (dalil). Tidak mungkin pembenaran terhadap suatu pemikiran, kecuali didasarkan pada argumen, baik berupa fakta (dalil aqli), maupun yang berupa teks (dalil naqli) (Hasan, 2000:2-8). Jika suatu argumen (dari suatu pemikiran) telah dipahami dan juga telah dibenarkan oleh seseorang, maka akan terwujudlah penerimaan dan kepuasan yang mantap pada dirinya. Inilah cara pembentukan qanaat.

Contohnya, misalkan si Ahmad sudah dikenal sebagai pedagang yang jujur. Jika seseorang sudah sering kali bermuamalah dengan Ahmad, bukan hanya sekali, lalu ia dapat merasakan dan membuktikan kejujurannya, maka akan terbitlah qanaat padanya berdasarkan dalil aqli (fakta/realitas), bahwa si Ahmad memang pedagang yang jujur. Berarti suatu pemikiran yang dimiliki telah dipahami dan dibenarkan karena memiliki argumen.

Contoh lain dalam politik, misalkan ada pemikiran bahwa Amerika adalah negara penjajah yang memusuhi Islam dan umat Islam. Mungkin seseorang pada awalnya apatis atau tidak begitu yakin dengan hal itu. Lalu dia mempelajari sejarah hitam politik AS terhadap Dunia Islam, dan dia mengkaji perilaku politik AS yang menyerang negeri-negeri muslim. Berulang-ulangnya bukti ini akhirnya akan memunculkan suatu qanaat dalam dirinya berdasarkan bukti aqli (fakta/realitas), bahwa AS memang musuh Islam dan umat Islam.

Berarti suatu pemikiran haruslah diproses agar berubah menjadi mafahim, yang pada gilirannya akan mengubah perilaku masyarakat. Caranya, dengan memahamkan maknanya dan menjelaskan argumen-argumennya sehingga terwujud pembenaran (at-tashdiq).

Suatu pemikiran juga harus diproses agar menjadi maqayis, dengan cara mengajak masyarakat menjadikan pemikiran tersebut sebagai standar untuk menilai segala sesuatu.

Dan suatu pemikiran juga harus diproses agar menjadi qanaat, dengan cara menunjukkan dan membuktikan argumen-argumennya secara berulang-ulang dan terus-menerus kepada masyarakat, sehingga akhirnya masyarakat dapat menerimanya secara mantap dan yakin.

Jika semua proses ini berjalan dengan baik, dan sebuah kelompok kuat (ahlul quwwah) dalam masyarakat menerima sekumpulan mafahim, maqayis, dan qanaat yang ditawarkan, maka lahirnya sebuah sistem masyarakat baru hanya tinggal masalah waktu. Wallhu’alam

Referensi :
1. Abdurrahman, Hafidz. Memasuki Masyarakat. Makalah.
2. Aljawi, M. Siddiq. Mafahim, Maqayis & Qana’ah. Makalah.
3. An-Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Terjun ke Masyarakat (Dukhul Al-Mujtama’). Alih bahasa Maghfur Wahid. (Jakarta : Pustaka Thariqul Izzah).

Leave a Reply