Breaking News

MENDAMBA AIR JERNIH BER-IKAN JINAK

Oleh: Zawanah Filzatun Nafisah
(Relawan opini dan media)

Ribuan orang hidup tanpa cinta, tapi tak satupun hidup tanpa air. Demikian ujar penyair asal inggris abad 19 bernama W.H. Auden. Air adalah sumber kehidupan. Manusia terhambat kebutuhan dan aktivitasnya tanpa air. Namun sungguh malang nasib air saat ini. Kala banyak di laut dan sungai, ia tercemar. Kala sedikit diperebutkan, air dimonopoli untuk kepentingan. Parahnya lagi saat kemarau tiba.


Hampir dua bulan tidak turun hujan dalam suasana kabut asap tebal, suplai air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kota Pontianak di beberapa wilayah kelurahan mulai berkurang, bahkan terkadang sama sekali tidak mengalir, kalaupun mengalir airnya sudah terasa asin. Demikian juga warga desa di Kabupaten Bondowoso harus mengantri air bersih 10 liter hingga satu jam, debit air sedikit dengan sumber air pun terbatas. Emak-emak pedesaan di Kabupaten garut menanggung nestapa mengantri dan meminta air bersih ke masjid dan tetangga. Warga karawang terpaksa menggunakan air kubangan yang warnanya keruh, bau, bercampur lumut untuk minum. Dan lebih parahnya ketika air bersih itu sulit didapat di lokasi bencana.

Pengungsi gempa lombok menjerit karena sulitnya mendapatkan air bersih. Kondisi saluran sekunder air, mulai dari hulu hingga hilir perbukitan pun terlihat kering. Sehingga kebutuhan air bersih untuk minum dan masak serta air untuk MCK (mandi, cuci, kasus) menjadi sangat terbatas dengan berhemat pemakaian. Sudahlah rumah hancur, tak nyaman tidur, kesehatan tak terjamin dan masih was-was dengan gempa susulan, hidup bersama ratusan pengungsi lainnya, ditambah air sulit, sungguh menderitanya.

National Academy of Sciences membeberkan penemuan yang cukup mengkhawatirkan bahwa manusia di bumi terancam akan kekurangan persediaan air pada tahun 2060. Nature World Report juga melaporkan penemuan kekurangan kandungan air di beberapa titik, terutama di wilayah bagian utara Bumi. Makin sulit karena dipicu pemanasan global, hilangnya daerah tangkapan dan resapan air, kapitalisasi sumber daya air oleh perusahaan air kemasan, dan pengelolaan air bersih perpipaan yang kapitalistik, serta pencemaran sungai, danau bahkan laut.
Pada hakekatnya air itu ada di bagian bumi manapun di dunia ini. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan air dengan jumlah sesuai kebutuhan manusia. Dan air di bumi memiliki jumlah yang konstan, hanya saja berubah dari satu wujud ke wujud lainnya yaitu cair, padat, dan gas (cahyadi, 2016).

Benarlah krisis air ini adalah akibat ulah tangan manusia. Kebiasaan boros air MCK, perilaku konsumtif dengan air, tekanan limbah air industri yang merusak sumber daya air, layanan distribusi air bersih tidak merata dan pengelolaan air yang tidak baik. Tapi tak sedikit pula yang kemudian berupaya memberikan solusi dengan kampanye hemat air untuk menyelamatkan masa depan air di bumi. Tapi sehemat-hematnya penggunaan air, perlu adanya pengeloaan air yang baik dari pemerintah yang serius dan bisa bekerja dengan prioritas kebutuhan dasar rakyat umum.

Problem air kini bukan semata terkait debit atau jumlah kesediaannya dan pemicu berkurangnya semata, namun terkait dengan bagaimana pengelolaan air tersebut. Agar air itu mudah dijangkau, air itu berkualitas, air dapat diakses semua kalangan dan air tersedia baik dimusim hujan maupun kemarau memerlukan tata kelola yang baik. Termasuk pengelolaan prioritas menyangkut hajat hidup orang banyak diatas hajat ingin pesta olahraga dan pesta budaya, misalnya. Karena momen di negeri ini kadang tak masuk akal, diwaktu yang sama ironi penggunaan uang negara untuk hal lain yang seolah tak empati dengan nasib rakyat yang betul betul betul mendesak.

Peribahasa mengatakan dalam air jernih, ikannya jinak. Jika kehidupan ini dikelola dengan baik, 73 tahun merdeka harusnya sudah membuat rakyat sejahtera dan terpenuhi kebutuhan dasarnya. Rakyat tidak bisa diberi dalih sistem demokrasi indonesia masih belajar berproses, selalu itu dan itu yang tidak dimengerti rakyat kecil. Karena, kemarau setiap tahun dan dialami berbulan-bulan. Tiba-tiba juga menghadapi bencana gempa dan kabut asap di musim kering. Hal ini bukanlah musibah kecil dan rakyat tidak mengerti status bencana ini lokal atau nasional, yang mereka tahu mereka nyata-nyata jadi korban, korban bencana dan korban politik.

Sebagai korban bencana, sesama rakyat sudah saling tolong menolong yang dilakukan berbagai ormas, komunitas, kelompok dakwah dan lain sebagainya. Sekarang tak berharap banyak dari bantuan 34 pemerintah propinsi yang diinstruksikan Mendagri. Mereka kini hanya bergantung pada ilahi dan menggelar do’a tolak bala bersama di tanah lapang, karena tak tersisa bangunan yang layak lagi untuk beramai-ramai berkumpul bermuhasabah bagi diri dan bagi penguasa negeri.

Dari ilahi sesungguhnya ada aturan sistem terbaik yang dipimpin dengan orang terbaik pula. Memberikan solusi atas urusan umat keseluruhan dengan dasar syariat Islam yakni Al Qur’an dan Assunah. Politik dijadikan alat kekuasaan untuk mengatur lembaga administratif yang berwenang menangani kemasalahatan umat. Agar rakyat tidak menjadi korban politik, dipastikan rakyat merasakan langsung upaya optimal dari penguasa untuk membantu mengatasi problem mendasar yang dialami umat. Sistem tersebut namanya Khilafah, dan pemimpinnya disebut Khalifah.

Khalifah juga berkewajiban dalam mengatasi tata kelola air dan berbagai musibah kekeringan. Semua itu dilakukan tak lepas dari teladan rasulullah SAW sebagai pemutus perkara pengelolaan air oleh sahabat, beliau bersabda “Alirilah kebunmu wahai Zubair, setelah itu berikanlah kepada tetanggamu.” (Hadits Shahih Muslim No. 4347 dari jalur Abdullah bin Az Zubair).

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan khalifah dalam mengurusi kemaslahatan ummat terkait air dan kekeringan. Pertama, mengaruskan opini dan edukasi diberbagai media akan pentingnya penjagaan sumber daya air agar kesadaran umum terbentuk dalam menggunakan dan menjaga keberadaan air. Sehingga memanen prilaku hemat air, mendukung reboisasi, mencegah pendangkalan daerah aliran sungai baik dari sampah maupun limbah rumah tangga serta industri umat pun ramah lingkungan.

Kedua, melakukan tata kota dan pemetaan wilayah kekeringan dan rawan bencana sekaligus mampu memprediksi dampak yang ditimbulkan untuk antisipasi termasuk jika memperburuk proses produksi baik pertanian hingga industri yang menjadi roda ekonomi umat.

Ketiga, menginstruksikan ke seluruh jajaran diwan/struktur administratif Khilafah disokong baitul maal untuk membangun infrastruktur penyediaan penampungan air baik yang alami dan dari curah hujan maupun buatan seperti waduk-waduk, danau buatan, tambak yang dekat dengan aktivitas rakyat. Air tersebut juga diatur inklusif aksesnya baik disokong dengan perpipaan, instalasi irigasi, kincir angin, instalasi booster pump bahkan pembangkit listrik tenaga air untuk wilayah yang kaya air. Hal ini sekaligus mengakhiri kapitalisasi terhadap air oleh pihak swasta dan asing.

Keempat, ketika terjadi bencana alam atau musibah yang menimpa ummat, khalifah akan melaksanakan sistem penanganan bencana. Khalifah paling pertama akan memastikan keamanan jiwa para korban dan upaya cepat penyelamatan, logistik dan jaminan hak-hak korban di pengungsian yang memadai walaupun sementara, recovery pemukiman dan mental korban, bahkan bisa saja dilakukan transmigrasi korban ke wilayah lain bahkan pulau lain yang dinilai lebih aman dari bencana.

Kelima, sebagiamana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah, sembari optimalisasi upaya diatas, umat pun diajak untuk bermunajat dan meminta kepada Allah SWT agar bencana segera berakhir, hujan diturunkan dan dosa-dosa diampuni.

Masya Allah, sungguh indahnya jika kita menjadi bagian umat yang bertaqwa kepada Allah kala lapang dan sempit. Sekaligus bisa melihat pemimpin umat ini menerapkan Islam dalam mengurusi kemaslahatan umat.

-Doa kami untuk NTB yang terkena gempa dan Kalbar yang terkena kabut asap-
Malang 24/08/2018

Rujukan :
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180813073020-20-321725/jeritan-minta-air-pengungsi-gempa-lombok
https://www.liputan6.com/regional/read/3620585/pengungsi-gempa-lombok-kesulitan-air-bersih
http://www.rmolkalbar.com/read/2018/08/21/2782/Air-PDAM-Kota-Pontianak-Mulai-Asin-
https://www.merdeka.com/peristiwa/krisis-air-bersih-warga-karawang-terpaksa-pakai-air-kubangan-bau-berlumut.html
https://www.liputan6.com/regional/read/3612475/nestapa-emak-emak-di-garut-akibat-kemarau-panjang
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4165597/kekeringan-landa-bondowoso-warga-mulai-krisis-air-bersih
http://medan.tribunnews.com/2018/08/16/duh-sudah-73-tahun-indonesia-merdeka-persoalan-air-bersih-masih-sulit-di-wilayah-ini
https://www.researchgate.net/publication/315807286_Analisis_Pemenuhan_Kebutuhan_Air_Domestik_dengan_Airtanah_di_Daerah_Aliran_Sungai_Kayangan_Kabupaten_Kulonprogo
http://bobo.grid.id/read/08676031/apakah-air-di-bumi-bisa-habis?page=all

Penyebab krisis air bersih di berbagai negara

Leave a Reply