Breaking News

MENGAMALKAN AL-QURAN

Oleh : Ustadz Arief B. Iskandar

Allah SWT berfirman (yang artinya): Andai al-Quran ini Kami turunkan di atas gunung, kamu (Muhammad) pasti menyaksikan gunung itu tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka mau berpikir (TQS al-Hasyr [59]: 21).

Imam al-Baidhawi (III/479) menafsirkan ayat ini dengan menyatakan, “Andai Kami (Allah SWT) menciptakan akal dan perasaan pada gunung sebagaimana yang telah Kami ciptakan pada diri manusia, kemudian Kami menurunkan al-Quran di atasnya, dengan konsekuensi pahala dan siksa, sungguh gunung itu akan tunduk, patuh dan hancur berkeping keping karena takut kepada Allah SWT. Ayat ini merupakan gambaran betapa besarnya kehebatan dan pengaruh al-Quran.”

Menurut Abu Hayan al-Andalusi dalam Kitab Bahr al-Muhîth (VIIII/251), ayat ini adalah celaan kepada manusia yang telah keras hatinya dan tidak terpengaruh perasaannya oleh al-Quran. Padahal jika gunung yang tegak dan kokoh saja pasti tunduk dan patuh pada al-Quran, sejatinya manusia lebih tunduk dan patuh pada al-Quran. Al-Quran adalah Kalamullah. Tidak ada ucapan terbaik selain al-Quran. Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh ucapan terbaik adalah Kitabullah dan petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad saw.” (HR al-Bukhari).

Karena itulah Rasulullah saw. menganjurkan kita agar banyak membaca al-Quran, bahkan seandainya kita belum lancar membacanya sekalipun. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang pandai membaca al Quran akan ditempatkan bersama para malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan merasa sulit membaca al-Quran akan mendapat dua pahala.” (HR al Bukhari dan Muslim).

Orang-orang yang biasa membaca al Quran terkategori sebagai ‘keluarga Allah SWT’, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sungguh Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.” Beliau ditanya, “Siapa mereka, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab. “Mereka adalah Ahl al-Qur’ân. Merekalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Rasulullah saw. pun bersabda, “Bacalah al Quran karena sesungguhnya al-Quran itu akan menjadi syafaat bagi para pembacanya pada Hari Kiamat.” (HR Muslim).

Al-Quran bukan hanya akan menjadi syafaat bagi pembacanya. Bahkan Allah SWT akan memberikan mahkota kepada kedua orangtua sang pembaca al-Quran di surga nanti, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang selalu membaca al Quran dan mengamalkan isinya, niscaya Allah SWT akan memakaikan mahkota kepada kedua orangtuanya nanti pada Hari Kiamat. Cahaya mahkota tersebut lebih indah dari cahaya matahari yang menyinari rumah-rumah di dunia.” (HR Abu Dawud).

Namun demikian, al-Quran tak cukup sakadar dibaca. Al-Quran pun wajib dipahami isinya. Rasulullah saw. menyindir orang yang membaca al-Quran tanpa memahami isinya. Sabda beliau, “Akan keluar beberapa kaum dari umatku yang meminum’ al-Quran seperti mereka meminum susu.” (HR ath-Thabarani).

Maksudnya, mereka membaca al-Quran dengan lisan mereka tanpa merenungi makna maknanya dan tidak merenungkan hukum hukumnya. Mereka membaca al-Quran sekadar lewat begitu saja di lisannya sebagaimana lewatnya susu yang diminum dengan cepat (melewati tenggorokan).

Rasulullah saw. pun mencela orang yang hanya menjadikan al-Quran sebagai bahan perdebatan, tidak berusaha dipahami dan diamalkan. Sabda beliau, “Berdebat tentang al-Quran adalah kekufuran.” (HR Abu Dawud, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Al-Quran hakikatnya adalah pedoman kehidupan. Karena itu al-Quran harus diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan. Hanya dengan itulah al-Quran bisa memberi kita keberkahan di dunia dan menolong kita di akhirat.

Karena itulah, mari kita selalu rajin membaca al-Quran karena banyaknya kebaikan di dalamnya. Marilah kita pun berusaha memahami isinya, terutama perintah dan larangannya, serta hukum-hukumnya. Semua itu harus kita jadikan modal untuk mengamalkan seluruh syariah yang dikandung al-Quran. Jika kita tidak mengamalkan seluruh isi al-Quran, kita tentu sepantasnya khawatir dengan apa yang dinyatakan oleh Anas bin Malik ra. Kata beliau, “Rubba qaari’ al-Qur’aan wa al-Qur’aan yal’anuh.” (Boleh jadi banyak orang yang membaca al-Quran, tetapi al-Quran justru melaknat mereka).” (Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 1/274).

Ini adalah peringatan keras kepada seorang Muslim yang suka membaca al-Quran, tetapi tidak mengamalkan isinya. Ia membaca ayat ayat al-Quran yang mengandung sejumlah larangan, tetapi ia justru melanggar larangan larangan tersebut. Al-Quran melarang riba, misalnya, tetapi ia malah biasa melakukan muamalah (transaksi) ribawi. Al-Quran melarang segala bentuk kezaliman, tetapi ia malah sering berbuat zalim. Al-Quran melarang ghibah (membicarakan keburukan orang lain), tetapi ia gemar melakukannya. Al-Quran melarang mencuri, korupsi, zina, menimbun harta, dll; tetapi ia jusru menjadi pelakunya.

Sebaliknya, al-Quran memerintahkan kita untuk mengamalkan dan menerapkan semua syariah-Nya secara kaffah, tetapi kita malah mengambil “syariah” lain yang notabene buatan manusia sebagaimana terjadi hari ini.

Yang juga boleh jadi termasuk orang yang dilaknat oleh al-Quran adalah mereka yang mengklaim mengimani al-Quran, tetapi nyinyir kepada para penghapal, pengamal dan pejuang al-Quran.

Wa ma tawfiqi illa bilLah.

Sumber : Media Al-Wa’ie Edisi Shafar 1443H, 1 – 31 Oktober 2021