Breaking News
Mengembalikan-Kejayaan-Islam-Khutbah-Jumat-26-Februari-2021
Mengembalikan-Kejayaan-Islam-Khutbah-Jumat-26-Februari-2021

Mengembalikan Kejayaan Islam – Khutbah Jum’at 26 Februari 2021

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِنَّ فِيْ هٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوْمٍ عٰبِدِيْنَ ۗ

(QS al-Anbiya [21]: 106)

 

Alhamdulillah, sungguh banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Saking banyaknya, tak terhitung jumlahnya. Termasuk kita di hari yang mulia ini, kita dikumpulkan oleh Allah di tempat yang mulia, bersama dengan orang-orang yang insyaallah dimuliakan-Nya. Maka, nikmat yang mana lagi yang kita dustakan?

 

Shalawat serta salam semoga senantiasa dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, sahabat beliau dan umat beliau hingga akhir zaman.

 

Melalui seruan dari mimbar ini, marilah kita berusaha menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Istiqamah di jalan Islam. Dan, tidak berpaling sedikit pun dari jalan yang sangat terang benderang ini.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Nabi SAW bersabda:

الْإِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى

Islam itu tinggi dan tidak ada yang setinggi Islam (HR al-Bukhari).

 

Tapi kenyataan menunjukkan hal yang sebaliknya. Kaum Muslim secara umum di seluruh dunia berada dalam kondisi keterpurukan. Palestina, tempat suci umat Islam, dalam genggaman Israel. Setiap hari kaum Muslim di sana dirundung duka nestapa. Di Suriah, umat Islam dimusuhi oleh penguasanya. Di Xinjiang, Cina, umat Islam dimurtadkan. Di Myanmar, kaum Muslim diusir dari tempat tinggalnya. Dan hampir berbagai belahan dunia, umat Islam dituding radikal hanya karena ingin taat kepada syariah Islam.

 

Pertanyaannya, mengapa semua ini terjadi?

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Penyebabnya hanya satu, karena umat Islam terpecah belah. Tak lagi memiliki pelindung dan pemersatu. Kaum Muslim laksana ayam kehilangan induk. Saat Israel membombardir jalur Gaza, kepada siapa kaum Muslim di sana minta pertolongan? Saat jerit tangis Muslim Uighur dan Rohingya, siapa yang menolong mereka? Penguasa-penguasa Muslim diam dan hanya beretorika.

 

Umat Islam telah kehilangan institusi pemersatu. Itulah khilafah Islamiyah. Sudah 100 tahun lamanya umat Islam hidup tanpa khilafah, sejak Mustafa Kemal laknatullah menghancurkan Khilafah Utsmaniyah pada 28 Rajab 1342 H.

 

Padahal, khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Kewajiban yang sangat penting. Dan itu disepakati oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Bahkan disebut sebagai taj al-furudh (mahkota kewajiban) atau kewajiban yang paling agung (a’zham al-fardh) dalam Islam.

 

Imam Alauddin al-Kasani menyatakan, “Mengangkat imam (khalifah) merupakan kewajiban yang paling agung (a’zham al-fardh) tanpa perselisihan di antara ahlul haq—dan tidak ada nilainya perbedaan sebagian pengikut Qadariyah—berdasarkan Ijmak Sahabat ra.” (Alauddin Al-Kasani, Badâ’i’ Ash-Shanâ’i’, 7/2).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Mengapa para ulama mengkategorikan kewajiban menegakkan Khilafah disebut sebagai mahkota kewajiban dan amal fardhu yang paling agung?

 

Pertama: Kemuliaan syariah Islam ini tak mungkin bisa tegak dan terlaksana tanpa institusi penerapnya, yakni Khilafah. Tanpa Khilafah, banyak hukum Islam semisal muamalah, ‘uqubat (pidana), sosial, bahkan hukum ibadah yang tak bisa ditegakkan dan dijaga. Jangankan membela nyawa seorang Muslim, menindak orang-orang mengabaikan kewajiban shalat saja tidak bisa. Padahal sudah masyhur dalam kitab-kitab fikih adanya sanksi bagi orang yang mengabaikan kewajiban beribadah.

 

Kedua: Umat membutuhkan pelindung baik untuk menjamin kehidupan mereka maupun menjaga mereka dari serangan musuh-musuh Allah SWT. Hari ini umat seperti hewan yang disembelih tanpa ada perlindungan dan pembelaan.

 

Ketiga: Umat membutuhkan pembela atas para penista dan perusak agama. Mereka tak dibiarkan seperti sekarang.

 

Keempat: Allah SWT telah memberikan amanah pada umat ini, selain menerapkan ajaran Islam, juga kewajiban menyebarkan Islam ke segenap bangsa di dunia sampai mereka memeluk ajaran Islam atau tunduk di bawah kekuasaan Islam.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (TQS Saba’ [34]: 28).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Kewajiban menegakkan khilafah tak ada perbedaan, kecuali para penentangnya. Para ulama yang menyampaikan penjelasan ini pun adalah para ulama mu’tabar Ahlus Sunnah wal Jamaah. Apalagi argumen yang bisa disampaikan untuk membatalkan kewajiban yang telah sangat jelas dalam syariah ini? Apakah bisa kesepakatan sejumlah orang mengalahkan hukum syariah yang telah dipahami dan dijelaskan sedemikian terang oleh para ulama salafush-shalih?

 

Nyata di depan mata kita, hukum-hukum Islam diabaikan, penistaan agama dan kezaliman terus-menerus ditimpakan pada umat.

 

Semestinya semua itu menumbuhkan kesadaran bahwa hari ini tak ada yang melindungi umat dan menegakkan Islam. Para pemimpin Dunia Islam sibuk dengan urusan dalam negeri mereka masing-masing. Sibuk mempertahankan kekuasaan mereka. Mereka rela menjadi kaki tangan imperialisme Barat.

 

Kerusakan umat ini telah diingatkan dan dinasihati oleh Imam Malik ra, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.”

Kerusakan umat hari ini hanya bisa diobati dengan apa yang dulu pernah menyelamatkan umat manusia, yakni syariah Islam yang diterapkan oleh intitusi Khilafah. Bukan dengan aturan dan sistem kehidupan lain yang bukan berasal dari Islam. Dengan penerapan Islam secara kaffah, umat Islam akan kembali jaya dan menjadi umat terbaik, khayru ummah.

 

[]

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ