Breaking News

Mengenal sistem mata uang dinar dan dirham

Oleh : Wandra Irvandi, M.Sc

Uang dikenal sebagai sesuatu yang diistilahkan oleh manusia dapat menjadikan barang terbeut memiliki harga, dapat juga digunakan sebagai upah atas jasa dan pelayanan, baik berbentuk uang logam maupun bukan. Dengan uang pula seluruh barang, usaha dan jasa dapat dinilai. Sebelum manusia mengenal uang, mereka telah melakukan aktivitas jual beli dan tukar menukar barang dengan jasa. Namun karena pertukaran menimbulkan banyak kesulitan, maka dicarilah barang dasar yang memiliki nilai intrinsik[i], baik mata uang yang terbuat dari logam maupun kertas. Dan juga mudah dalam peredarannya sehingga menjadi tolok ukur untuk menilai barang dan jasa. Dari sini muncullah mata uang terutama dinar dan dirham. Selain keduanya jarang diperoleh namun juga tidak hancur ditelan masa.

Romawi dan Persia telah menjadikan emas sebagai dasar mata uang. Orang-orang quraisy menjadikannya sebagai timbangan dengan lantakan emas. Di masa islam, rasululllah menetapkannya sebagai mata uang dan juga sebagai timbangan. Pada masa Rasulullah, Abu bakar dan awal masa Khalifah umar digunakan bentuk, cetak dan gambar mata uang dari romawi dan persia. Pada tahun ke 20 H atau 8 tahun masa pemerintahan Khalifah Umar, dincetak dirham sasanid dan Byzantium dengan tambahan tulisan huruf arab kufi dengan lafadz basmalah. Masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (75 atau 76H), dicetak sendiri dengan khas islam, hingga 77H telah meninggalkan bentuk mata uang yang lain.

Islam memberikan keleluasaan kepada manusia untuk melakukan pertukaran dengan apa saja yang mereka inginkan, namun islam menetapkan emas dan perak ditetapkan sebagai tolok ukur dalam menilainya dan sebagai dasar timbangan. Islam juga telah mengkaitkan hukum-hukum syara’ dengan emas dan perak, sebagian hukum tersebut antara lain: 1)Larangan menimbun emas, 2)Mengkaitkan dengan hukum yang tetap; misalnya kewajiban zakat, pembayaran diyat, sanksi hukuman bagi pencuri, dan 3)Menetapkan hukum pertukaran keuangan baik barang dengan barang maupun uang dengan uang sejenis ataupun tidak sejenis. Dibolehkan juga menggunakan barang tambang lainnya bersama-sama dengan emas dan perak, pada saat mencetak satuan kecil dari mata uang emas dan perak, sebagaimana pernah terjadi pada masa abbasiyah dan kesultanan di mesir yaitu menggunakan tembaga yang nilai intrinsiknya kecil dengan catatan dijelaskan perbandingan kandungannya.

 

Negara islam memungkinkan mencetak dinar dan dirham dalam bentuk sebagai berikut :

 

NoTercetakTimbangan (gram)Keterangan
1¼ dinar1,0625Kadar minimal dipotong tangan pencuri
2½ dinar2,125Jumlah nishab zakat
31 dinar4,25
45 dinar21,25Setara dengan ¼ nizhab zakat
510 dinar42,5Setara dengan ½ nishab zakat
620 dinar85Jumlah nishab zakat
7½ dirham1,4875
81 dirham2,975
95 dirham14,675Jumlah yang dikeluarkan pada nishab zakat
1010 dirham29,75
1120 dirham59,50

Rasio emas terhadap perak bisa berubah-ubah, tidak tetap, tergantung pada peredaran, jumlah serta penawaran dan permintaan. Apabila rasio ini ditetapkan, maka justru akan membahayakan. Hal ini karena nilai dipasar akan mengalami perubahan sehingga ada perbedaan di dalam negeri dan di luar negeri. Apabila rasionya ditetapkan sebagaimana suku bunga maka dapat memicu mata uang gelap yang akan menaikkan harganya. Akibatnya terjadi pelarian uang ke luar negeri, harga uang di pasar luar negeri jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga di dalam negeri karena ditetapkan oleh Undang-undang.

Kaedah emas dan perak merupakan sistem mata uang yang mampu menyelesaikan problematika mata uang, menghilangkan inflasi besar-besaran yang menimpa dunia, dan mampu menjaga stabilitas mata uang dan nilai tukar, serta mendorong kemajuan perdagangan. Hal itu dikarenakan keistimewaan emas dan perak, antara lain :

  1. Emas dan perak adalah barang yang proses eksplorasi dan produksi mengharuskan adanya penelitian, eksplorasi dan adanya permintaan sebagai pembayaran atas barang dan jasa.
  2. Tidak menyebabkan dunia mengalami kelebihan mata uang secara tiba-tiba dengan bertambahnya peredaran mata uang, karena emas dan perak bersifat tetap dan stabil serta semakin bertambah tingkat kepercayaannya.
  3. Sistem emas dan perak dapat menjaga neraca keuangan dengan memperbaiki defisit neraca pembayaran internasional, dan perkara-perkara lain tanpa campur tangan bank sentral. Berbeda dengan sekarang, intervensi bank sentral terjadi saat nilai tukar tidak stabil antara mata uang.
  4. Keberadaan emas mengakibatkan negara lain tidak dapat mengontrol mata uang negara khilafah. Karena mata uang di negara khilafah bisa mencukupi kebutuhan pasar akan mata uang yang beredar, tanpa melihat jumlah. Bertambahnya produksi barang akan berakibat turunnya harga barang. Sedangkan dalam sistem uang kertas tanpa di standarkan dengan emas, fenomena ini tidak bisa meningkatkan nilai mata uang, bahkan menurunkan nilai beli dari mata uang, dan menyebabkan inflasi.
  5. Sistem mata uang emas dan perak akan memperlancar nilai tukar di antara mata uang asing dengan stabil, karena mata uang asing diukur dengan satuan tertentu dari emas dan perak. Dengan demikian, di seluruh dunia hakikatnya hanya terdapat satu mata uang, yaitu emas atau perak, meski mata uang yang beredar akan bermacam-macam di berbagai negara.
  6. Sistem emas dan perak mampu memelihara kekayaan emas dan perak setiap negara. Jadi, emas dan perak tidak akan lari dari satu negeri ke negeri lain. Negara manapun tidak memerlukan pengawasan untuk menjaga emas dan peraknya. Mengapa? Sebab, emas dan perak itu tidak akan berpindah secara percuma atau ilegal. Emas dan perak tidak akan berpindah kecuali menjadi harga bagi barang atau jasa yang memang hal ini dibolehkan syariah.

Inilah beberapa manfaatnya, meskipun tidak luput dari berbagai permasalahan seperti, penimbunan emas, hambatan perbatasan negara, terkonsentrasinya cadangan emas dan perak di negara besar dan pengaruhnya, namun semua kendala itu akan dapat terselesaikan dengan menerapkan hukum syara yang lain dan kebijakan negara khilafah dalam menjalankan politik swasembada, mengurangi impor atau pembayaran impor ke dalam negeri bukan dengan emas dan perak, dan penjualan ekspor keluar negeri dengan emas dan perak. Dan semua itu memerlukan kebijakan negara.

Permasalahan berikutnya adalah apakah emas yang ada di dunia sekarang ini cukup memadai jumlahnya dalam menjalankan kaedah mata uang dan transaksi perdagangan? Serta apakah emas yang ada di nagara Khilafah nanti jumlahnya memungkinkan untuk kembali kepada kaedah emas? Jawabannya adalah iya. Emas yang ada didunia ini cukup untuk mengembalikan dunia agar berjalan sesuai dengan kaedah emas. Alasannya antara lain :

  1. Sepanjang sejarah manusia, belum pernah ada barang tambang lain yang mendapat perhatian selain emas. Seluruh emas yang dieksplorasi manusia tidak habis digunakan sampai hari ini, walaupun sudah ribuan tahun, selama para produsen emas tidak mengeksploitasinya sampai emas tersebut punah. Yang terjadi justru adanya aktivitas daur ulang emas, baik dalam bentuk uang atau perhiasan.
  2. Emas, sepanjang kurun waktu yang lalu sampai akhir abad ke-19, jumlahnya mencukupi keperluan berbagai aktivitas perdagangan, dan menutupi kebutuhan ekonomi dunia. Telah terjadi pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, dengan terjadinya turunnya harga berbagai komoditi, meningkatnya upah tanpa terjadi kekurangan emas meskipun perputaran barang dan jasa bertambah.
  3. Yang diperhatikan oleh manusia bukanlah banyaknya jumlah uang melainkan kemampuan (daya) beli uang (rasio antara uang dan barang).
  4. Sistem ekonomi yang tidak mengenal pembatasan, seperti penetapan harga, monopoli/penimbunan, bukan diakibatkan oleh jumlah mata uang. Jumlah uang yang beredar akan mampu memenuhi pembelian barang dan jasa yang ada di pasar. Pada saat meningkatnya barang dan jasa sementara jumlah uang yang beredar tetap, maka akan mengakibatkan terciptanya kondisi dimana mata uang yang ada dipaksakan untuk membeli barang dan jasa yang jauh lebih besar. Sebaliknya jika jumlah barang dan jasa menurun, maka kemampuan uang tersebut juga menurun. Sehingga akan terwujud satu hal yaitu mata uang yang beredar akan mampu memenuhi pertukaran mata uang, berapapun jumlahnya.
  5. Yang menyebabkan berkurangnya emas tidak lain karena inflasi yang mendominasi dunia. Karena uang kertas hari ini yang digunakan mengakibatkan pengurangan dalam menggunakan emas, dan akan mengarah kepada aktivitas perdagangan. Mata uang kertas dapat mengakibatkan berbagai macam spekulasi.

Oleh karena itu sangat memungkinkan untuk kembali kepada kaedah sistem mata uang emas. Jumlah uang emas yang ada di dunia mampu memenuhi kebutuhan terhadap mata uang, dan memicu aktivitas perdagangan.

Untuk kembali kepada kaedah emas pada masa sekarang ini berarti harus  menghilangkan sebab-sebab yang menjadikan kaedah ini tidak bisa dijalankan, dan harus menyingkirkan faktor-faktor yang menyebabkan ini terjadi. Maka yang akan dilakukan adalah :

  1. Menghentikan pencetakan mata uang kertas
  2. Memberlakukan kembali mata uang emas dalam bertransaksi
  3. Menghilangkan hambatan-hambatan perbatasan yang berkaitan dengan emas, serta menghilangkan syarat-syarat yang membelenggu impor dan ekspor emas
  4. Menghilangkan syarat-syarat yang menghalangi kepemilikan emas, kontrol atas pergerakan emas, jual belinya, dan berinteraksi menggunakan emas.
  5. Menghilangkan syarat-syarat yang menghalangi kepemilikan mata uang pokok di dunia, menciptakan persaingan bebas di antara mata uang, sehingga diperoleh harga yang stabil dengan mata uang lainnya dan terhadap mata uang emas, tanpa campur tangan dunia internasional untuk menaikkan atau menurunkannya.

Apabila emas dibiarkan bebas, maka pasar emas akan terbuka lebar, sehingga mata uang asing akan memiliki nilai tukar yang stabil terhadap mata uang emas. Aktivitas internasional akan menggunakan emas, sebagai jalan untuk mewujudkan pembayaran nilai (harga) suatu transaksi barang, yang diukur dengan emas. Selain itu, bukan dilihat apakah layak atau tidaknya negara khilafah menjalankan sistem uang emas dan perak, melainkan merupakan hukum syara’ yang harus diterapkan. Dan negara khilafah bertanggung jawab terhadap dunia, untuk memberikan petunjuk dan pemeliharaan.

Wallahu’alam

[i] Nilai instrinsik adalah nilai bahan untuk membuat mata uang atau nilai barang itu sendiri

Sumber utama : Abdul Qadim Zallum. 2008. Sistem Keuangan Negara Khilafah. HTI Press.

Leave a Reply