Breaking News

Pembawa Bendera Nabi SAW yang Paling Terkenal

Oleh : W.Irvandi

Membawa bendera atau panji Nabi saw merupakan keutamaan dan kemuliaan paling tinggi yang akan terus diabadikan di kehidupan dunia dan akhirat; dan akan terus dikenang keagunggannya tanpa pernah luntur. Bagaimana sebaliknya bagi pelaku yang menghina dan melecehkan bendera atau panji Nabi saw maka berlaku sebaliknya akan didapatkan kehinaan dan dikenang keburukannya kecuali dia bertobat.

Keutamaan yang agung dan mulia dalam membawa dan menjaga bendera atau panji Nabi saw telah diraih dengan sempurna oleh sebagian sahabat Nabi. Sungguh sahabat rasulullah telah menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Pada perang Uhud Mush’ab bin ‘Umair terus membawa bendera itu. Tatkala kaum muslim tercerai berai, ia terus memegang bendera tersebut. Lalu datanglah Abu Qaimah dengan mengendarai kuda menyabetkan pedangnya hingga tangan kanannya putus, namun Mush’ab berseru dengan lantang : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul”. (TQS.Ali Imran [3]:144)

Bendera itu ia pungut dengan tangan kirinya. Ia terus bertahan. Namun tangan kirinya berhasil di tebas oleh orang kafir. Lalu ia menelungkupkan bendera itu di dada dan lehernya. Dia berseru dengan lantang : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul”. (TQS.Ali Imran [3]:144)

Lalu datanglah serangan yang ketiga. Akhirnya beliau menemui syahid. Tombaknya pun patah. Mush’ab pun tersungkur ke tanah. Bendera pun gugur. Kemudian diperebutkan oleh dua orang dari bani ‘Abd ad-Daar, Subith bin Harmalah dan Abu Ruum. Kemudian diambil oleh Abu ar-Ruum. Tatkala kaum muslim kembali ke Madinah bendera itu terus dipegangnya hingga ia memasuki Madinah. [Al-Maghazi : I/239, Sirah Ibnu Hisyam, II/73]

Betapa hebatnya pengorbanannya di jalan Allah! Namun, pengorbanan ini akan diganjar dengan harga yang sangat mahal, (yaitu) surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang akan diberikan kepada para syahid yang ikhlas.

Dalam ekspedisi perang Mu’tah. Ja’far bin Abi Thalib telah membawa bendera dan turut menerjang para musuhnya. Beliau tidak pernah menengok ke kanan maupun kiri, melainkan terus maju menyerang musuhnya. Sehingga, para sahabat tidak menemukan satupun tusukan di punggungnya setelah syahidnya beliau. Ibnu Hisyam telah mengisahkan kepada kita peristiwa ini.

“Telah meriwayatkan kepada kami dari ahli-ahli ilmu yang terpercaya, bahwa Ja’far bin Abi Thalib membawa bendera dengan tangan kanannya. Namun tangannya berhasil di tebas. Lalu, bendera itu dibawanya dengan tangan kirinya. Lagi-lagi tangan kirinya berhasil ditebas. Selanjutnya ia mengamit benderanya dengan lengan atasnya, hingga ia menemui syahid. Saat itu beliau ra berumur 33 tahun. Allah swt telah menganugerahi dirinya dua sayap di surga yang akan digunakan terbang sekehendaknya. Ada yang menyatakan, ‘Seorang laki-laki dari Romawi berhasil memukulnya dengan sekali pukulan, kemudian menebas setengah dari lengannya.” [Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam : II/378]

Cerita ini akan terus langgeng hingga masa kita sekarang dan insyaAllah sampai hari kiamat. Termasuk para pembawa bendera atau panji Nabi saw sangat sering membawa bendera sehingga terkenal namanya sebagai pembawa bendera.

Seperti  halnya Ali bin Abi Thalib adalah pembawa bendera Nabi saw pada saat perang Badar. Hampir di setiap peperangan Ali adalah pembawa bendera kaum Muhajirin. Sedangkan dari kaum Anshar pembawa bendera adalah Sa’ad bin ‘Ubadah. Ibnu Hajar berkata dalam setiap peperangan Panji Muhajirin diserahkan kepada ‘Ali, sedangkan panji Anshar diserahkan kepada Sa’ad bin ‘Ubadah’.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ibnu ‘abd al-Barr, Nabi saw memberikan kepada Ali bin Abi Thalib sebuah panji pada saat perang Khaibar. Dimana, panji itu sangat diimpikan oleh semua sahabat, Allah swt memberikan kemenangan lewat tangannya. Sedangkan pada saat penaklukkan Makkah diserahkan kepada Sa’ad bin ‘Ubadah.

Mereka semua menjaga keselamatan bendera seutuhnya. Pembawa bendera tersebut selalu mencurahkan segenap tenaganya untuk  menjaganya agar tidak disentuh musuh, jatuh di tanah atau air. Jika ada bendera yang jatuh maka yang lain wajib mengambil dan membawa bendera tersebut. Bendera Rasulullah yang paling besar berwarna putih disebut Al-Liwa’. Sedangkan panjinya berwarna hitam disebut Ar-Rayyah. Bendera tersebut bertuliskan kalimat ‘La Ilaha Illa –al-Allah Muhammad Rasulullah saw’. Bendera inilah sebagai izzah (kemuliaan) dan pemersatu kaum muslimin.

Apabila kita sudah mengetahui bahwa membawa bendera atau panji Nabi saw merupakan keutamaan dan kemuliaan paling tinggi. Namanya akan terus diabadikan di kehidupan dunia dan akhirat dan akan terus dikenang keagungannya tanpa pernah luntur. Bagaimana jika seseorang lantas menghinakan atau melecehkan bendera tersebut?

Wallahu’alam

Leave a Reply