PENIKMAT NILAI TAMBAH EKSPOR HANYA HANYA PARA PEMODAL YANG BISNISNYA DITINGKATKAN OLEH MEREKA DAN MITRA PENGUASA

Oleh : Muhammad Abduh Hirawan. ST

Berita :

Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak mau lagi Indonesia mengirimkan bahan-bahan mentah ke luar negeri. Ini membuat nilai tambahnya dinikmati negara lain dan ternyata praktik ini sudah terjadi sejak jaman penjajahan VOC Belanda.

“Saya kira sudah tidak jamannya lagi yang sejak VOC kita selalu mengirim, mengekspor bahan-bahan mentah yang dinilai tambahnya dinikmati negara lain,” kata Jokowi, saat pembukaan Rakernas ICMI, Sabtu (29/1/2022). (CNBC Indonesia)

Komentar :

Perdagangan sejak zaman VOC sampai kemerdekaan Indonesia, mengalami pasang surut hubungan perdagangan. Mulai dari monopoli perdagangan hingga masa tanam paksa.

Sejak Indonesia merdeka, program inovasi pada komoditas ekspor terus digalakkan. Namun yang terjadi, inovasi tersebut terbentur regulasi dan kepentingan kapitalis global.

Kalimat diplomatis tersebut sebenarnya menggambarkan, bahwa bahan mentah selama ini dinikmati pemodal lama baik dalam dan luar negeri. Namun, kebijakan nilai tambah pada bahan mentah, hakikatnya adalah tindakan peningkatan bisnis oleh para pemodal dan mitra penguasa mereka. Rakyat sekali lagi hanya mendapatkan remahan sumber daya dalam bentuk Corporate Social Responsobility (CSR).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin yang mengurusi persoalan kaum Muslim, kemudian dia mati, sementara ia sedang menipu rakyatnya, kecuali Allah Swt haramkan atas mereka surga.” ( HR Bukhari dan Muslim dalam shahihnya, imam Ahmad dalam musnadnya dan al-Darimiy dalam sunannya. )

Terkait kandungan hadits di atas, syeikh Mulla al-Qari al-Hanafi berkata,

وهو غاش…. أي خائن لهم أو ظالم بهم لا يعطي حقوقهم ويأخذ منهم ما لا يجب عليهم إلا حرم الله عليه الجنة أي دخولها مع الناجين أو محمول على المستحل أو زجر وكيد ووعيد شديد أو تخويف بسوء الخاتمة نعوذ بالله من ذلك (مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – (ج 11 / ص 322)

“wa huwa ghasy-syun” artinya adalah pengkhianat terhadap rakyat atau zhalim terhadap mereka, dia tidak memberikan hak-hak rakyat dan dia mengambil dari rakyat hal-hal yang tidak wajib atas meraka, kecuali Allah mengharamkan atas dia surga. Maksudnya haram masuk surga bersama dengan orang-orang yang selamat. Hadits tersebut mengandung pengertian mustahil, larangan, makar, ancaman yang keras atau menakut-nakuti dengan su’ul khatimah… na’udzubillah (Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, 11/ 322).