Breaking News

Pentingnya Muhasabah Di Tengah Pandemi, Buletin Dakwah Kaffah Edisi – 200

28 Dzulqa’dah 1442 H/9 Juli 2021 M

Pandemi Covid-19 makin mencemaskan. Jumlah warga terpapar rata-rata di atas 20 ribu kasus perhari. Rumah sakit dilaporkan kolaps. Pasien bertumpuk. Bahkan tak lagi mampu ditampung. Tenaga kesehatan makin kewalahan. Sebagian ikut jatuh sakit. Sebagian lagi wafat.

Nasib warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah juga memprihatinkan. Sejumlah warga meninggal. Pasalnya, tak ada perawatan yang memadai untuk mereka. Tak kalah mencemaskan. Terjadi juga antrian di pemakaman dengan protokol Covid-19. Banyak kekurangan peti jenazah. Beberapa Pemda menambah lahan pemakaman baru untuk memakamkan warga korban Covid-19 yang terus bertambah.

Musibah: Kuasa Allah SWT

Bagi kaum Mukmin, setiap musibah harus dihadapi dengan keimanan. Tentu agar tidak muncul persepsi dan sikap yang keliru. Pertama: Seorang Muslim wajib mengimani bahwa tak ada satu pun musibah yang dia alami melainkan atas kehendak Allah SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 51).

Tidak ada satu pun musibah seperti bencana alam atau wabah terjadi begitu saja. Semua makhluk yang ada di alam semesta tunduk pada perintah Allah SWT. Termasuk berbagai makhluk seperti virus atau bakteri penyebab wabah penyakit. Semua tunduk pada kekuasaan-Nya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ…

Tidakkah kamu tahu bahwa kepada Allah bersujud apa saja yang ada di langit dan di bumi; juga matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar manusia? (TQS al-Hajj [22]: 18).

Imam al-Alusi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “sujud” adalah masuknya segala sesuatu di bawah kendali Allah SWT dan iradah-Nya, serta kecenderungannya pada apa saja yang Allah ‘Azza wa Jalla adakan (Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, 13/27).

Dengan memahami kenyataan ini, seorang hamba akan mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dia pun akan menyadari kelemahannya sebagai makhluk. Ketika manusia membanggakan kecanggihan teknologi kedokteran, farmasi dan sebagainya, ternyata akan sampai pada satu realita bahwa manusia tak sanggup mengalahkan kekuasaan Allah SWT. Bahkan menghadapi makhluk kecil seperti virus saja, dunia nyaris lumpuh. Benarlah firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ…

“Sungguh Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan mereka” (TQS al-Baqarah [2]: 26).

Kedua: Seorang Mukmin wajib memahami bahwa sepanjang kehidupan di dunia dia akan selalu mendapatkan berbagai ujian. Allah SWT berfirman:

لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Imam ath-Thabari, mengutip pernyataan Ibnu Abbas ra., mengomentari ayat ini, “Allah SWT mengabarkan kepada orang-orang beriman bahwa dunia adalah negeri ujian (dar bala’). Mereka akan diuji di dalamnya. Allah memerintahkan mereka untuk bersabar. Lalu Allah memberikan kabar gembira dengan berfirman, ‘Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.’” (Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan, 2/219).

Demikianlah hakikat kehidupan dunia. Tak ada seorang hamba pun yang melewati hidupnya tanpa ujian dari Allah SWT. Jika ia bersabar, ia bersih dari segala dosa karena kesabarannya menanggung berbagai ujian. Sabda Nabi saw.:

فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa” (HR at-Tirmidzi).

Di antara bentuk kesabaran seorang hamba dalam menghadapi musibah berupa sakit adalah tidak mencaci-maki sakit yang dia derita. Termasuk tidak mencela Corona yang sedang mewabah. Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah mengingatkan Ummu as-Saib yang mencela sakit yang sedang dia derita, yaitu demam. Rasulullah saw. bersabda:

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Demam itu bisa menghilangkan kesalahan-kesalahan (dosa) manusia, sebagaimana kir (alat yang dipakai pandai besi) bisa menghilangkan karat besi” (HR Muslim).

Karena itu sabar adalah amal yang mesti ditunjukkan seorang Mukmin manakala ia ditimpa musibah (Lihat: TQS al-Baqarah [2]: 155-157).

Muhasabah Atas Musibah

Selain ridha dan bersabar, kaum Muslim juga diperintahkan untuk melakukan muhasabah. Umat wajib muhasabah atas kemungkinan dosa-dosa yang dilakukan yang menyebabkan datangnya bencana. Allah SWT mengingatkan bahwa beragam bencana datang justru karena ulah manusia sendiri:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)” (TQS asy-Syura [42]: 30).

Siapapun yang jujur akan melihat di negeri yang mayoritas Muslim justru banyak terjadi pelanggaran terhadap syariah Islam,  penistaan agama, serta permusuhan terhadap para ulama. Sebutan “intoleran”, “radikalisme”, sikap memusuhi penerapan Islam dan kewajiban khilafah terus dilakukan terhadap kaum Muslim, khususnya yang memperjuangkan Islam.

Beragam tindak kezaliman juga seperti tak pernah berakhir. Bagaimana ulama divonis berat dengan tuduhan melanggar aturan prokes, sementara pejabat negara yang melanggar prokes lolos begitu saja. Ada juga aparat penegak hukum yang kongkalikong dengan koruptor justru diberi potongan hukum amat besar.

Eratnya hubungan kemungkaran dan kezaliman sebagai sebab datangnya bencana adalah perkara yang jelas. Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Lalu ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami menyiksa mereka secara tiba-tiba. Ketika itu mereka terdiam putus asa” (TQS al-An’am [6]: 44).

Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa saat kejahatan merajalela, Allah SWT akan meratakan bencana. Zainab binti Jahsyi ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah kita akan binasa wahai Rasulullah, padahal di sekitar kita ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab:

نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

“Ya, jika kemungkaran itu sudah merajalela” (HR al-Bukhari).

Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. Saat ini kemungkaran telah merajalela. Lalu datanglah bencana yang juga menimpa orang-orang shalih. Selama pandemi ini dilaporkan ada sekitar 584 ulama yang meninggal karena wabah. Belum termasuk para imam dan pengurus masjid serta para ustadz pembimbing umat lainnya yang juga wafat karena wabah.

Karena itu, selain berikhtiar mengerahkan kemampuan teknologi kedokteran dan obat-obatan, kaum Muslim harus melakukan tawbat[an] nasuha. Kembali kepada Allah dengan menaati semua aturan-Nya. Mereka harus menjadikan agama Allah sebagai petunjuk. Tidak memusuhi Islam. Tidak menuduh al-Quran dan syariah Islam sebagai ancaman.

Berikutnya umat harus menyadari bahwa mereka tidak memiliki kepemimpinan yang serius me-ri’ayah (mengurus) urusan mereka. Meledaknya pandemi kali ini adalah rangkaian ketidakseriusan Pemerintah menangani wabah. Pemerintah tidak mau menerapkan prokes dengan ketat di tengah masyarakat. Pemerintah pun tidak mau menjamin kehidupan warga agar tidak beraktivitas di luar rumah.

Sejak awal pandemi merebak di dunia, Pemerintah terus membuka kedatangan WNA ke dalam negeri, termasuk dari Cina sebagai asal wabah. Bahkan ketika pandemi masuk ke Tanah Air, pintu imigrasi masih terus dibuka. Fatal akibatnya. Corona varian delta yang berasal dari luar negeri akhirnya merebak ke Tanah Air. Inilah tindakan yang justru mendatangkan madarat atas negeri ini. Ini sebenarnya telah diharamkan syariah. Nabi saw. bersabda:

مَنْ ضَارَّ أَضَرَّ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ شَاقَّ شَاقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Siapa saja yang membahayakan orang lain, Allah akan menimpakan bahaya kepada dirinya. Siapa saja yang menyulitkan orang lain, Allah pun akan menimpakan kesulitan atas dirinya” (HR Abu Dawud).

Umat membutuhkan pemimpin yang benar-benar mau mengurus mereka dan melindungi mereka dari bencana. Pemimpin ini tentu yang mengurusi umat dengan syariah Islam; yang menanamkan iman dan takwa kepada warga sehingga mereka menjaga diri dari berbagai tindakan madarat, taat pada protokol kesehatan; serta yang memberikan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya, termasuk menghindarkan negeri dari sumber penyakit.

Semoga Allah SWT segera mengangkat wabah ini dari tengah-tengah umat dan negeri-negeri Muslim. Semoga Allah SWT pun menyegerakan tegaknya kepemimpinan Islam yang melayani umat dengan syariah Islam dalam naungan Khilafah ar-Rasyidah sesuai dengan metode kenabian. Aamiin.[]

Hikmah:

Ali bin Abi Thalib ra. berkata:

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Tidaklah musibah hilang melainkan dengan tobat (Ibnu al-Qayyim, Al-Jawab al-Kafi, hlm. 87). []