PERANG UKRAINA DAN DAMPAK IMPLIKASI BAGI AS

Oleh : Muhammad Mustafa — Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

Perang saat ini di Ukraina telah memicu serangkaian kompleksitas dan krisis baru di seluruh dunia di mana perang tampaknya tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Sebagian besar perang sepanjang sejarah memiliki dampak besar dalam membentuk periode pascaperang.

Tidak diragukan lagi bahwa perang Rusia-Ukraina tidak akan berbeda sebagaimana sebelumnya di mana akhir perang akan meninggalkan efek yang tak terlupakan pada pengaturan geopolitik global saat ini. Perang-perang di masa depan akan lahir dari perut perang Rusia-Ukraina sekarang. Seperti perang-perang sebelumnya yang telah terjadi, mereka semua meletakkan preseden untuk perang yang akan dilancarkan di masa depan.

Perang Dunia Pertama keluar dari perut perang Eropa selama era keseimbangan sistem kekuasaan Eropa; Perang Dunia Kedua adalah karena Perang Dunia Pertama; Perang Dingin adalah karena Perang Dunia Kedua dan perang di Irak, Somalia dan Afghanistan adalah karena urutan pasca-1991-setelah Perang Dingin.

Oleh karena itu, perlu menjelaskan situasi global saat ini untuk menentukan bagaimana keadaan masa depan yang akan terjadi dalam arena politik global dan risiko politik baru yang muncul karenanya. Karenanya merupakan kepentingan umat untuk memahami peluang serta peluang baru terhadap risiko yang akan muncul, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung berdirinya Negara Khilafah (dengan metode kenabian).

Nabi kita Muhammad (saw) terus-menerus mengikuti peristiwa politik untuk merebut beberapa peluang singkat untuk mendirikan, memelihara dan memperluas negara Islam agar menghidupkan kembali rakyat dan untuk menyebarkan keadilan serta kemakmuran di seluruh negeri. Karena usaha Rasulullah (saw) dan para sahabat sebelumnya, peradaban Islam dapat berkembang pesat selama berabad-abad. Banyak khalifah, gubernur, dan pemimpin militer lainnya mewarisi pemikiran politik serupa untuk memanfaatkan peluang dalam rangka menyebarkan kebesaran Islam.

Sebagai contoh, Sultan Muhammad Fatih terus-menerus mengejar peristiwa-peristiwa di tanah Eropa, yang membawanya ke suatu bentuk kebijakan yang pertama untuk mengeksploitasi perpecahan antara Barat dan Timur (Kekaisaran Bizantium), dan mengarah pada pembebasan Konstantinopel (diganti namanya menjadi Islambul) yang menjadi mercusuar baru peradaban Islam.

Pertama, penting untuk memahami alasan di balik perang Ukraina dan motif Amerika dan Rusia serta pemain lain yang terlibat dalam poin-poin berikut:

1. Bagi Rusia, Ukraina adalah perpanjangan kemegahan sejarah dan jangkauan geopolitiknya; Ukraina tanpa Rusia tetap Ukraina, tetapi Rusia tanpa Ukraina tidak lagi menjadi kekuatan lintas benua. Sejak era Tsar, Rusia terdiri dari tiga wilayah—hingga tahun 1991—yang merupakan dasar bagi kebesaran Rusia. Rusia Putih (Belarus), Rusia kecil (Ukraina) dan Rusia daratan. Gelar Tsar adalah “kaisar seluruh Rusia”. Selain itu, hingga hari ini kepala Gereja Ortodoks di Moskow disebut “Metropolitan Moskow dan seluruh Rus”, Rus berarti masuknya bekas wilayah Belarus dan Ukraina. Dengan demikian, sejarah mendalam ini mengakar kuat di kalangan elit Rusia dan sebagian besar publiknya hingga sekarang. Untuk alasan ini, Rusia tidak akan pernah bisa melepaskan Ukraina.

Dalam satu atau bentuk lain, Rusia harus menjalankan peran dominan dalam beberapa mode di Ukraina. Hal ini dikarenakan mengapa Vladmir Putin memutuskan untuk mengumpulkan sejumlah besar pasukan sehingga tepat di depan perbatasan Ukraina, sebagai imbalannya, ia dapat menerima jaminan bahwa Ukraina tidak akan pernah mendapatkan pengakuan dalam arsitektur keamanan hegemonik Amerika-NATO. Karena secara permanen hal tersebut (hegemoni NATO) akan mengakhiri harapan Rusia untuk mendapatkan kembali Ukraina.

Lebih daripada itu, yang benar-benar memprovokasi Putin untuk mengambil tindakan radikal tersebut adalah karena latihan militer NATO di samping Ukraina tepat di sebelah perbatasan Rusia pada akhir tahun 2021. Belum lagi, kemenangan Azerbaijan melalui dukungan Turki—yang juga merupakan anggota NATO dan sebagai aset Amerika – semakin merusak lingkup geopolitik selatan Rusia.

Meskipun demikian, latihan NATO tahun lalu adalah garis merah, yang memaksa Kremlin untuk mengadopsi langkah-langkah hukuman untuk mencegah gangguan AS kepada kepentingan geopolitik Rusia.

2. Putin pada dasarnya tidak berniat menginvasi Ukraina; sebagai gantinya, ia berencana untuk memanfaatkan penambahan pasukan untuk mencapai tujuan politik memecah Eropa dan, lebih jauh lagi, untuk memaksa Ukraina menghentikan godaannya bergabung dengan NATO dan sebaliknya.

Pengumpulan pasukan Rusia di dekat perbatasan Ukraina pada awalnya merupakan strategi yang layak untuk menciptakan ketidakpastian dan kecemasan di antara orang Eropa tentang situasi militer di perbatasan. Kremlin hanya perlu menggunakan 100.000 tentara di dekat perbatasan Ukraina untuk bermain di atas ketidakpastian Eropa dan menabur benih perpecahan.

Sebelum invasi, Prancis, dan Jerman khususnya, tidak berada dalam keselarasan retorika yang sama dengan orang-orang Eropa timur seperti Polandia, Lituania, dan Ukraina yang mencoba menggalang dukungan setia terhadap perilaku militer ambigu Rusia di perbatasan Ukraina.

Prancis, di sisi lain, terus mengejar pemulihan hubungan Rusia dalam upaya untuk mengesampingkan Amerika dari Eropa. Selama bertahun-tahun, pernyataan Macron tentang NATO sebagai “Otak mati”, Eropa membutuhkan “Arsitektur keamanan yang terpisah dari Amerika” dan “otonomi strategis Eropa” adalah semua pernyataan yang mengkonsolidasikan kebijakan historis Prancis untuk menyeimbangkan Amerika dari benua melalui Rusia, berharap kembali ke mencapai revitalisasi kemegahan Prancis di Eropa.

Jerman juga menolak untuk mengambil sikap tegas terhadap akumulasi pasukan di perbatasan Ukraina. Selanjutnya, Berlin menolak untuk menghentikan pembelian gasnya dari Rusia dan menolak menghentikan pipa Nord Stream 2.

Pada akhir Desember 2021, Ukraina menyerang Jerman karena memblokir pasokan NATO ke Kyiv, di mana menteri pertahanan Ukraina menyatakan, “Mereka masih membangun pipa Nord Stream 2 dan pada saat yang sama memblokir senjata pertahanan kami. Itu sangat tidak adil”.

Jadi, sebelum serangan militer Rusia yang sia-sia, Kremlin mempertahankan posisi yang kuat karena memicu ketakutan, disorientasi, dan perpecahan di antara orang-orang Eropa, yang benar-benar membuat Amerika gelisah.

3. Dari perspektif Amerika, satu-satunya strategi yang dapat digunakan untuk menyelamatkan dan mengkonsolidasikan keunggulan Amerika di Eropa adalah dengan memprovokasi invasi.

Jika Rusia, tetap berada di perbatasan Ukraina tanpa melakukan serangan militer, itu pasti akan membuka jalan bagi kepentingan yang berbeda dari beberapa negara Eropa untuk menjadi mangsa pemerasan Rusia.

Jerman akan tetap teguh pada proyek Nord Stream 2, Prancis akan melanjutkan upaya delusi mereka tentang pemulihan hubungan Prancis-Rusia untuk meminggirkan AS dari Eropa, dan Eropa timur akan mulai mempertanyakan keandalan Amerika karena peristiwa sebelumnya-jika terwujud-bahwa bagaimana Amerika dapat membiarkan peristiwa semacam itu berkembang ketika keamanan mereka terancam karena Rusia mengetuk pintu depan. Meskipun demikian, sebelum invasi Rusia, Amerika berencana untuk memprovokasi Rusia dalam beberapa waktu.

4. Pada 1990-an, Amerika memanfaatkan sentimen negatif Eropa Timur terhadap Rusia pasca-Soviet untuk mempertahankan relevansi NATO. Dimana setelah Perang Dingin, AS membenarkan ekspansi NATO ke arah timur, tetapi bukan karena Rusia merupakan ancaman yang menghantui melainkan untuk mencegah Jerman atau Prancis memberikan jaminan keamanan mereka sendiri kepada Polandia, Hongaria, dan beberapa negara Eropa timur lainnya. Faktanya, keadaan Rusia selama tahun 1990-an tidak menimbulkan ancaman apa pun terhadap Eropa karena Rusia sangat terfragmentasi dan hancur secara ekonomi.

Dengan demikian, ekspansi NATO ke timur adalah jawaban bagi AS, mengenai penolakan pasca-1991 terhadap relevansi aliansi yang membantu Amerika untuk mempertahankan relevansi NATO dan AS sebagai penengah utama urusan Eropa.

5. Dibandingkan dengan perilaku historis kebijakan AS di Eropa, pemerintahan Biden menyimpulkan bahwa untuk mengkonsolidasikan posisi Amerika di Eropa, ia harus menyatukan benua menuju ancaman yang akan segera terjadi. Ini tidak hanya akan membalikkan kehancuran Trump di Eropa, tetapi juga akan membantu AS mencapai tujuan lain seperti mengakhiri Nord Stream 2, menyabotase rekonsiliasi Prancis-Jerman dengan Rusia, merusak Rusia, meningkatkan jumlah jajak pendapat Biden, meningkatkan keuntungan industri militer AS yang kompleks dan terakhir memanfaatkan Rusia sehingga dapat membantu Amerika menuju pengepungan Cina.

Amerika bukannya mempercepat proses keanggotaan NATO di Ukraina atau menyediakannya dengan payung nuklir untuk menangkis agresi Rusia, Amerika malah melakukan latihan NATO di dekat perbatasan Rusia-Ukraina akhir tahun lalu, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap masalah keamanan Rusia.

Lebih jauh lagi, pemerintahan AS saat ini dengan sengaja membawa hubungan AS-Rusia ke titik terendah sejak perang dingin. Biden terus-menerus mengejar pelanggaran hak asasi manusia Putin dan pendudukan Krimea. Sejak tahun lalu, Biden tidak menunjukkan minat untuk meningkatkan hubungan AS-Rusia, dengan harapan mendorong Putin mengambil keputusan yang terburu-buru.

Pada Desember 2021, Biden, terus-menerus mengabaikan peringatan Putin tentang “kegairahan hubungan AS-Rusia” jika ia memilih untuk menerapkan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia. Meskipun demikian, Biden melanjutkan dengan sikapnya yang keras dan tidak perlu terhadap Rusia.

Sanksi tidak boleh digunakan secara berlebihan karena membuatnya tidak efektif dan berbahaya. Karena sanksi tidak menetralisir musuh, mereka hanya memprovokasi musuh dan sekaligus melemahkannya secara bertahap. Seperti Jepang pada WW-2 (World War), dimana Amerika memberikan sanksi dan embargo terhadap Jepang yang mengakibatkan terputusnya sumber daya vital dari Jepang, yang pada akhirnya menekan Tokyo untuk menyerah.

Kebenaran di balik keputusan kebijakan semacam itu adalah bahwa AS memerlukan dalih untuk meyakinkan Kongres agar AS meninggalkan kebijakan isolasinya dan menyesuaikannya kembali dengan keterlibatan internasional hingga sanksi brutal.

Selain itu, pemerintahan Biden terus mempromosikan retorika bombastis sehubungan dengan invasi Rusia ke Ukraina, yang juga menempatkan Ukraina dalam posisi yang tidak nyaman. Jen Psaki, juru bicara Gedung Putih, telah menyatakan beberapa kali bahwa invasi Rusia “sudah dekat,” sementara Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional, mengatakan itu mungkin terjadi kapan saja.

Pemerintah Ukraina akhirnya harus menghadapi AS mengapa hal itu menyesatkan dan semakin memperumit situasi daripada yang sudah ada. Belum lagi, Biden terus-menerus menolak untuk mempertimbangkan kekhawatiran sah Putin mengenai NATO dan malah merilis pernyataan yang menyebutkan “serangan kecil dapat diterima” yang menunjukkan kepada Rusia dua hal, yakni lampu hijau untuk invasi dan kurangnya keseriusan AS terhadap tuntutan vital Rusia.

6. Perang di Ukraina telah mengakibatkan Amerika mencapai sebagian besar tujuannya. Sejauh ini, semua orang Eropa telah jatuh di bawah payung Amerika yang memungkinkan AS untuk mengkonsolidasikan kekuatannya.

Sekali lagi, Amerika telah mampu melemahkan Rusia dan telah berhasil mendorong Jerman untuk meningkatkan bagiannya dari PDB terhadap NATO, yang telah meningkatkan harga saham perusahaan pertahanan Amerika karena Jerman menginvestasikan $100 miliar dolar untuk meningkatkan militernya. Dan terakhir, mengakhiri Nord Stream 2 tanpa batas waktu.

Pemerintahan Trump memiliki tujuan yang sama, namun strategi antara kedua faksi politik berbeda. Di bawah Trump, Amerika ingin melemahkan Eropa dan dengan cara-cara tertentu yaitu membagi benua antara Rusia dan Amerika; dengan demikian, mendukung gerakan anti-Uni Eropa dan Brexit sementara.

Pada saat yang sama, AS menekan Eropa untuk meningkatkan kontribusi keuangan mereka ke NATO. Karena di bawah pemerintahan Trump, tujuannya adalah untuk menghancurkan UE yang menguntungkan Rusia dan AS, tetapi untuk menjaga NATO tetap utuh yang akan terus mempertahankan keunggulan Amerika.

Amerika juga ingin pipa Nord Stream 2 dihentikan; namun, dalam masalah ini, baik Rusia dan Amerika tetap berselisih meskipun banyak kerja sama terus berlangsung antara Amerika dan Rusia dalam beberapa hal lain dibandingkan dengan para demokrat Biden. Terakhir, AS di bawah Trump berencana berkolusi dengan Rusia untuk menahan China.

Dengan demikian, tidak mengherankan mengapa Trump selama dimulainya invasi Rusia mengindikasikan bahwa ia akan mengizinkan wilayah timur Ukraina berada di bawah pendudukan Rusia. Trump menyebutkan, “Ini jenius.’

Putin menyatakan sebagian besar … Ukraina, Putin menyatakannya sebagai independen.” Pernyataan sebelumnya menggambarkan bahwa ini adalah sesuatu yang pemerintahan Trump akan membiarkannya terwujud karena AS ingin menaklukkan Eropa dengan membawa Rusia masuk, yang akan membantu AS untuk membangun keseimbangan kekuatan baru di benua itu sekaligus memungkinkan AS untuk melindungi kepentingannya.

7. Tidak ada perbedaan mendasar antara Biden atau Trump; sebaliknya, perbedaannya terletak pada pendekatannya. Kaum demokrat selalu memiliki kecenderungan untuk memalsukan citra Amerika yang menganggap serius keyakinan dan nilai-nilai liberalnya ketika menjalankan kebijakan luar negeri.

Dengan demikian, menerapkan kebijakan keras terhadap Rusia setuju dengan delusi demokrasi sebelumnya. Namun, sekeras apa pun kaum demokrat berusaha menjaga konsistensi antara retorika dan kenyataan, mereka selalu berakhir dengan kontradiksi, seperti Obama yang melakukan intervensi AS di Suriah, yang mengejutkan pendukung domestik kepresidenannya.

Kaum republikan, di sisi lain, lebih pragmatis dalam menjalankan kebijakan luar negeri mereka karena mereka menerima batasan dan ketidakpraktisan cita-cita liberal dalam kebijakan luar negeri. Untuk alasan ini, di bawah Trump, hubungan hangat dipertahankan terhadap Rusia dibandingkan dengan para demokrat.

Implikasi perang saat ini dan masa depan

Di masa mendatang, perang di Ukraina akan sangat merugikan Amerika, modal politiknya semakin mempercepat kemunduran bangsa. Jelas bahwa Amerika ingin melemahkan Rusia di Ukraina untuk kepentingannya. Namun, memperpanjang perang di Ukraina juga akan merusak reputasi Amerika, yang menggambarkan bahwa demokrat Biden belum mempertimbangkan semua hal, sebelum menjebak Rusia di Ukraina.

Pertama, kurangnya kohesivitas politik di dalam negeri Amerika telah membuka beragam masalah bagi pemerintahan Biden. Kebijakan luar negeri selalu menjadi perpanjangan dari politik domestik dan perpecahan di dalam negeri memperumit kebijakan AS saat ini terhadap Rusia-Ukraina.

Kedua, sehubungan dengan yang pertama, melonjaknya harga energi dan kurangnya ekspor gandum dari Ukraina dan Rusia ke pasar dunia telah meningkatkan tekanan pada pemerintahan saat ini di mana beberapa aset AS di seluruh dunia berada di bawah ancaman atau menolak untuk sepenuhnya bersekutu dengan AS.

Ketiga, dengan kebijakan terhadap Rusia, banyak agen AS telah menemukan celah untuk melemahkan Biden, dalam upaya, untuk melukai posisinya dan menemukan master yang cocok untuk menggantikan Biden yang lebih ramah terhadap mereka.

Meskipun sebagian besar tujuan Amerika, pada saat ini, telah membuahkan hasil; namun, bagi Amerika untuk melakukan transisi dengan lancar dan menstabilkan tujuan politiknya dari perang Ukraina akan sangat sulit.

Dan inilah alasannya. Jika Amerika dapat memanfaatkan Rusia di Ukraina dan entah bagaimana mampu melakukan tawar-menawar dengan Kremlin di mana kedua negara akan berkolaborasi untuk menahan China, tidak akan lama bagi Ukraina menyimpulkan bahwa Amerika sekarang bekerja dengan negara yang membantai ribuan orang wanita Ukraina yang tidak bersalah, anak-anak dan pria.

Kesimpulan seperti itu akan menimbulkan skeptisisme di antara orang Ukraina tentang sifat asli Amerika. Tidak akan lama, sampai kesimpulan seperti itu menyebar ke tetangga Ukraina dan negara-negara lain seperti Prancis yang dapat memanfaatkannya untuk agendanya sendiri.

Hal ini juga akan merusak peringkat persetujuan Biden di mana 80 juta pemilih Trump dari republik dan partai republik itu sendiri akan mengintensifkan kampanye mereka untuk menyalibkan Biden tentang kebijakan tanpa arah seperti itu, menuduh Biden merusak kebesaran Amerika.

Kaum republikan selanjutnya akan memanfaatkan kesalahan Biden untuk melemahkan Partai Demokrat dan menggantikan Biden dengan Mike Pence—yang menjadi saingan Trump—atau Trump sendiri.

Saat ini, Biden telah berjuang untuk meloloskan RUU tentang kesehatan dan pendidikan, dan beberapa kesepakatan lainnya, yang semuanya dihalangi oleh faksi republik di kongres dan senat.

Faktanya, bahkan beberapa demokrat berusaha menghentikan Biden dari memberikan konsesi kepada penjaga nasional Iran, yang menunjukkan bahwa politisi demokratis mulai menemukan pengkhianatan yang ada antara Iran-Amerika atau mengeksploitasi posisi rapuh Biden untuk keuntungan diri sendiri, atau adalah republikan yang menyamar ditanam di Partai Demokrat, karena ini bukan pertama kalinya di mana demokrat tertentu telah membentuk kesepakatan rahasia dengan rekan-rekan republik mereka.

Bulan lalu, bantuan $ 13,6 miliar Biden ke Ukraina ditolak oleh senat republik sementara, pada saat yang sama, kaum republikan mendorong Biden untuk meningkatkan upayanya untuk menyelamatkan Ukraina.

Salah satu tujuan membuat perang di Ukraina adalah bahwa pemerintahan Biden ingin menggunakan perang untuk menyatukan pemerintah dan meningkatkan jumlah jajak pendapat Biden. Namun, perpecahan tetap ada di dalam pemerintahan di mana banyak republiken semakin mempercepat perpecahan untuk mengamankan kepentingan mereka dan mengurangi kredibilitas Biden.

Juga, sponsor besar minyak-terutama republikan- telah mengeksploitasi perang untuk memanfaatkan posisi rapuh Biden dalam rangka meningkatkan kendali mereka di Gedung Putih.

Perusahaan besar minyak juga mengeksploitasi krisis Ukraina untuk meningkatkan keuntungan keuntungan pemegang sahamnya; Joe Biden menyebutkan bahwa perusahaan minyak yang harus disalahkan atas tingginya harga karena penolakan mereka untuk mengebor dan memompa lebih banyak minyak dan gas.

Sebagai gantinya, perusahaan besar minyak menyalahkan Biden atas peraturan yang lebih ketat tentang lingkungan, yang menghalangi perusahaan untuk mengebor lebih banyak minyak dan gas.

Selanjutnya, perusahaan besar minyak membenarkan sikap mereka dengan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki sarana untuk mengebor minyak dan gas dalam jumlah besar saat ini.

Padahal ini tidak benar karena perusahaan besar minyak membutuhkan biaya miliaran untuk memproduksi teknologi pengeboran; karenanya, adalah sia-sia jika nilai keseluruhan minyak dan gas yang diekstraksi lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diinvestasikan dalam memproduksi teknologi itu sendiri.

Kenyataan menggambarkan bahwa perusahaan besar minyak menguntungkan Trump atau calon penggantinya Mike Pence, di mana di bawah pemerintahan Trump agenda iklim dihapuskan dari meja kebijakan.

Di bawah era Trump, AS memutuskan untuk menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris karena elit yang mendanai kepresidenannya adalah Koch bersaudara dan perusahaan minyak besar yang sangat tidak menyukai peraturan iklim, yang menghambat keuntungan minyak mereka, dibandingkan dengan Biden, yang didanai terutama oleh Silicon Valley-tech Corporations.

Karena kemajuan AI, perusahaan tradisional Amerika tidak ingin menyerahkan kekuasaan kepada kapitalis teknologi AS yang baru; sehingga terjadi pergulatan antara keduanya dimana kedua partai politik menjalankan kebijakan yang berbeda dari tuannya, yang telah menciptakan kesenjangan yang transparan.

Lebih buruk lagi, penolakan perusahaan besar minyak untuk menyamakan harga dan dominasinya yang tumbuh di tengah perang memaksa Biden untuk menghindarkan beberapa sektor energi Rusia dari sanksi. Ini merusak posisi Biden di mana di satu sisi dia mendukung Ukraina sementara di sisi lain, dia membantu membunuh mereka.

Beberapa hari lalu, demokrat mengumumkan rencana memerangi perusahaan besar minyak untuk menurunkan harga energi. Sungguh ironis bahwa Biden berharap untuk menyatukan negara dan memulihkan kekompakan politik di Washington, tetapi situasinya menuju ke arah yang berlawanan.

Adapun republik dan dermawannya seperti rencana perusahaan besar minyak untuk melemahkan demokrat dan membuka jalan bagi “penyelamat” republik. Selain itu, yang pertama juga menggambarkan bahwa perusahaan besar minyak dan industri militer lebih cerdik secara politik dibandingkan dengan perusahaan teknologi yang prematur.

Negara-negara seperti Arab Saudi dan entitas Yahudi telah menemukan pertempuran domestik di Amerika dan memutuskan juga untuk melemahkan Biden karena sikapnya yang pro-Iran saat ini.

Alasan mengapa Arab Saudi menolak permintaan Amerika untuk meningkatkan produksi minyak adalah karena kritik Amerika terhadap keseluruhan perilaku kebijakan Mohammad Bin Salman (MBS) dan sikap pro-Iran dari AS.

Dengan demikian, satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan kerajaan MBS dari kebangkitan Iran adalah Trump atau pemimpin republik lainnya. Selain itu, beberapa dekade yang lalu Aramco dimiliki oleh perusahaan besar minyak dan hingga hari ini Aramco mempekerjakan 40.000 orang Amerika mulai dari eksekutif, ahli geologi, dan penasihat yang memiliki riwayat bekerja di perusahaan besar minyak di masa lalu!

Sejak saat itu, tidak mengherankan mengapa Arab Saudi disejajarkan dengan posisi perusahaan besar minyak konservatif/besar daripada kaum demokrat dan kapitalis teknologi.

Arab Saudi tidak berputar ke arah China, karena tidak setuju dengan kenyataan karena China tidak akan mampu menggantikan keuntungan Amerika kepada agennya, Arab Saudi. Alasan mengapa Arab Saudi dengan bebas membunuh Muslim Yaman adalah karena pasokan Amerika, pelatihan, dan perlindungan Amerika dari institusi global tatanan liberal.

Cina tidak dapat menggantikan yang pertama; dengan demikian, Riyadh tidak akan berporos ke China. Itu akan tetap menjadi agen Amerika, melainkan ingin melihat master saat ini diganti dengan yang lebih menguntungkan. Selain itu, kesepakatan komersial tidak akan ada perkembangan signifikan lainnya dalam hubungan Saudi-China.

Adapun India, itu adalah sekutu penting Amerika untuk menahan China. Partai BJP pro-Amerika mampu mengkonsolidasikan kekuatannya di dalam kongres India karena pertikaian bendera palsu Kargil dan neokonservatif yang sangat meningkatkan dukungan mereka kepada partai BJP. India sadar bahwa itu memainkan peran kunci dalam rencana kelulusan Amerika untuk menahan China; namun, India selama dua tahun telah menderita dari protes para petani – yang didominasi Sikh – yang telah menyoroti banyak kebijakan Mohdi yang tidak konsisten.

Karena sejauh ini, Mohdi telah mendorong sikap anti-Muslim, yang tidak membantu negara dalam hal apapun bentuk atau bentuk sebaliknya itu telah membuat India jauh lebih buruk dan tidak stabil. Oleh karena itu, Mohdi berkepentingan untuk mengkonsolidasikan posisinya dengan membantu sektor pertanian ekonomi India untuk menyembunyikan kekurangannya.

Karena ekonomi industri India terutama berfungsi pada minyak dan gas dan karena ada kekurangan gandum di seluruh dunia, Mohdi memutuskan untuk menggantikan kekurangan gandum Rusia dan Ukraina di pasar internasional untuk membantu meningkatkan keuntungan petani India.

Baru-baru ini, para petani di India menuai manfaat dari ekspor gandum ke seluruh dunia. Untuk alasan ini, Mohdi telah membeli gas Rusia yang murah untuk membantu meningkatkan efisiensi industri pertanian di India, yang akan membantunya mempertahankan posisinya dalam kekuasaan dan membuat konstituennya senang.

Terakhir, India menghemat lebih banyak dolar dalam cadangannya dengan mengekspor gandum dan dengan membeli energi Rusia dalam bentuk puing-puing Amerika, bagaimanapun, mulai menjadi tidak sabar karena sikap Biden terhadap Rusia sedang dirusak di mana sekutu penting menentang posisi Amerika di Rusia.

Untuk saat ini, Amerika secara tidak langsung mengutuk perilaku India; namun, AS akan secara bertahap mengubah arahnya menjadi konfrontatif terhadap India di masa mendatang.

Terakhir, masalah paling vital adalah dunia Arab, di mana lima negara musim semi Arab sangat bergantung pada impor gandum dari Rusia dan Ukraina; dengan demikian, perang di Ukraina memiliki dampak yang parah pada dunia Arab meningkatkan kemungkinan musim semi Arab kedua.

Sisi Mesir saat ini tampaknya berjalan di atas es tipis. Sisi sudah menyusun rencana untuk mengundang pinjaman IMF ke Mesir karena investor asing telah menarik diri dari negara itu karena krisis Ukraina, yang juga menyebabkan dolar keluar dari Mesir.

Oleh karena itu, Sisi harus menemukan cara untuk mendapatkan kembali dolar untuk dapat membeli komoditas internasional dan juga untuk membayar utang yang ada kepada IMF, yang juga dalam dolar. Bulan lalu, karena kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat, rezim sebagai imbalannya memutuskan untuk memperbaiki harga roti, sektor ekonomi yang bahkan tidak disubsidi, solusi sementara, yang akan benar-benar membawa implikasi lebih lanjut bagi publik.

Orang-orang di Mesir sudah mulai melihat perbedaan dan kebodohan rezim Sisi di mana banyak yang menggambarkan ketidakpuasan belaka terhadap pemerintahan Sisi. Laporan terbaru menyoroti bahwa tekanan berat telah meningkat pada rezim, yang, sebagai imbalannya, telah menyebabkan rezim melarang pertemuan publik untuk mencegah pemberontakan.

“Pemerintah Mesir paranoid terhadap pertemuan apa pun, termasuk pertemuan keagamaan,” kata Essam Telaima, seorang peneliti agama Mesir dan mantan imam yang ditunjuk pemerintah. “Pembatasan itu terutama ditujukan untuk mencegah protes anti-pemerintah,” katanya kepada Middle East Eye.

Kesimpulannya, politik dalam negeri AS memiliki dampak besar pada kebijakan luar negerinya. Lebih jauh lagi, Amerika belum mempertimbangkan semua risiko politik. Jika Amerika berhasil melawan Rusia atau tidak, reputasi politik Amerika di dalam dan luar negeri akan dikebiri.

Jika Amerika kalah, maka itu akan sangat mengurangi keunggulan Amerika di Eropa; jika Amerika menang, maka itu akan menciptakan komplikasi di masa depan yang mengungkap sifat asli dan keandalan Amerika sebagai sekutu. Selanjutnya, di masa mendatang, Biden dan Partai Demokrat akan terus menghadapi perang salib republik terlepas dari hasil yang dicapai pemerintahan saat ini di Ukraina.

Polarisasi politik dalam negeri AS telah menciptakan banyak hambatan bagi pemerintahan Biden untuk menjalankan kebijakannya dengan baik terhadap Ukraina-Rusia; sebaliknya, ia telah melahirkan serangkaian implikasi baru. Perpecahan di dalam Amerika benar-benar dapat menyebabkan kebuntuan kebijakan luar negeri AS dari kemajuan, atau bahkan, memicu peristiwa bencana seperti Musim Semi Arab 2.0, yang benar-benar akan mengakibatkan ketidakstabilan arsitektur Amerika di Timur Tengah, sesuatu yang tidak dapat dipulihkan.

Perselisihan internal di Amerika disebabkan oleh dogma utilitarian sekuler di mana beberapa individu dan kelompok kecil yang kuat di dalam pemerintahan saling berpolitik satu sama lain berdasarkan premis tentang apa yang diinginkan dan apa yang tidak diinginkan daripada premis tentang apa yang benar dan salah.

Akar penyebab memudarnya kekuatan Amerika dan meningkatnya kehancuran kehidupan orang-orang yang tidak bersalah di seluruh dunia. Hanya pemulihan tatanan politik yang benar – Khilafah berdasarkan metode Nabi (saw) – yang akan mampu menyebarkan keadilan, perdamaian, dan memenuhi kebutuhan organik dan naluri rakyat dengan cara yang benar, seperti yang diperintahkan oleh Sang Pencipta, yaitu Allah. (swt).

Allah (swt) berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah, Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya Kebatilan pasti akan lenyap.” [17:81].

Sumber : https://hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/2017-01-28-14-59-33/articles/politics/23081.html