Breaking News

PONTIANAK GELAR PERINGATAN PENAKLUKAN KONSTANTINOPEL

Ma’had Inhadul Fikri Pontianak menggelar kegiatan Peringatan Penaklukan Konstantinopel pada rabu (15/1) lalu. Kegiatan ini berlangsung tanpa kendala dan menarik minat para jamaah untuk hadir.

Ini merupakan agenda yang diselenggarakan dalam rangka kembali mengingatkan seluruh kaum muslimin, khususnya di Pontianak, tentang keagungan Islam. Bahwa pada masa lalu, Islam pernah berjaya menaungi 2/3 dunia. Salah satu bentuk kejayaan itu adalah dengan ditaklukkannya kota Konstantinopel oleh pasukan dan pemimpin terbaik, Muhammad Al Fatih.

Acara ini menghadirkan empat narasumber. Ust Wandra Irvandi yang tampil pada kesempatan pertama menyampaikan tentang betapa pentingnya mengingat kembali kejayaan yang pernah diraih pada masa lalu. Karena bagaimanapun juga, kaum muslimin adalah umat terbaik. Sedangkan kondisi pada saat ini, menurut ust Wandra, kondisi kaum muslimin bertolak belakang. Miskin, terbelakang, bodoh, bahkan kerap menjadi objek penindasan.

Kebangkitan umat Islam adalah keniscayaan karena itu merupakan kabar gembira dari Rasul dan sudah dijanjikan Allah SWT. Untuk itu, Ustadz Wandra mengajak segenap hadirin untuk ikut bersama-sama menyongsong kebangkitan itu dengan berjuang mengemban dakwah Islam secara bersungguh-sungguh.

Narasumber kedua adalah Andi Septiandi. Pemuda penggemar sosok Muhammad Alfatih ini begitu bersamangat menceritakan sejarah sang penakluk Konstantinopel.

Mulai dari Alfatih kecil yang didik oleh syeikh Syamsuddin hingga cita-cita besarnya mewujudkan apa yang pernah disampaikan Rasulullah, bahwa sang penakluk itu bukan orang lain tapi dirinya sendiri.

Andi juga mengisahkan betapa heroilnya Muhammad Alfatih menembus benteng Konstantinopel yang selama 1300 tahun tak pernah mampu ditembus musuh.

Yang menarik dari materi yang disampaikan Andi adalah audience tidak hanya diajak dengan nostalgia tentang penaklukan Konstantinopel tetapi juga diingatkan tentang satu tugas mulia lainnya.

“Bahwa selain Konstantinopel masih ada satu kota lagi yaitu Roma,” ujar Andi, “Penaklukan Kota Roma ini hanya bisa diwujudkan dengan pasukan terbaik yang berada dalam naungan sistem pemerintahan Islam bernama Khilafah Islamiyah,” katanya.

Berikutnya, para jamaah yang hadir diajak untuk masuk lagi ke waktu yang lebih jauh oleh narasumber ketiga, Pay Jarot Sujarwo.

Pada kesempatan kali itu, Pay Jarot mengajak hadirin untuk menyelami sejarah bangsa Turki yang kemudian memeluk Islam dan menjadi pembela Islam.

Cerita yang disampaikan Pay Jarot menyinggung tentang Bani Saljuk juga kelahiran Usman putra Ertugrul. “Dari nama Utsman inilah nantinya nama khilafah Utsmaniyah dinisbatkan.

Menurut Pay Jarot, Muhammad Al Fatih memang istimewa. Tetapi sesungguhnya keistimewaan Islam ini tidak hanya berlaku di era Muhammad Al Fatih saja, melainkan sudah terpola sejak Rasulullah mengajarkan Islam kepada para sahabat.

Dari rahim Islam lahir pahlawan-pahlawan yang ikhlas. Nama-nama besar yang disandang tanpa kesombongan. Satu hal yang pasti, dari Islam lahir sistem sempurna yang diridhai Allah swt.

Acara yang berlangsung penuh semangat ini tak hanya bercerita tentang nostalgia masa lalu, tetapi juga ajakan untuk menjemput kegemilangan masa depan. Hal tersebut diutarakan oleh narasumber terakhir, Ustadz Muhammad Nunung Binarto Aji.

Menurut Ustadz Nunung, yang dilakukan Muhammad Alfatih adalah amal sholeh yang sangat bisa dilakukan oleh setiap kaum muslim yang taat. Seharusnya ketaatan itu yang kita bangun hari ini.

Ustadz Nunung mengingatkan bahwa Roma akan takluk. Sebelum takluknya Roma akan dimulai dengan tegaknya kembali khilafah yang mengikuti metode kenabian. Dan semua itu hanya bisa terwujud oleh orang-orang taat yang sudah menyerahkan hidupnya hanya untuk kejayaan Islam.

Sebelum zuhur kegiatan berakhir. Para peserta antusias mengantri untuk berfoto di backdrop yang sudah disediakan panitia. Antusiasme yang sama terhadap janji Allah dan kabar gembira Rasulullah. Antusiasme menyambut kemenangan.

Leave a Reply