Breaking News

Proses Hijrah Nabi saw dari Mekah ke Madinah-2

Bagian Kedua

Proses Hijrah Rasul saw

Pada tanggal 26 Shafar tahun ke-14 kenabian (1 Hijriyah) tokoh-tokoh Quraisy berkumpul di Dâr an-Nadwah (rumah Qushayyi bin Kilab yang mana Quraisy tidak memutuskan perkara kecuali di situ) untuk membahas masalah itu. Hari itu disebut Yawm az-Zam’ah. Di antara tokoh Quraisy yang berkumpul: dari Bani Abdu Syamsin: ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Abu Sufyan bin Harb; dari Bani Nawfal bin Abdi Manaf: Thu’aimah bin ‘Adiy, Jubair bin Muth’im dan al-Harits bin ‘Amir bin Nawfal; dari Bani Abdu ad-Dâr bin Qushayyi: an-Nadhru bin al-Harits bin Kildah; dari Bani Asad bin Abdu al-‘Uza: Abu al-Bahtariy bin Hisyam, Zam;ah bin al-Aswad bin al-Muthallib dan Hakim bin Hizam; dari Bani Mahzum: Abu Jahl bin Hisyam; dari Bani Sahmin: Nubaih bin al-Hajaj dan Munabbih bin al-Hajaj; dari Bani Jumahin: Umayyah bin Khalaf, dan lainnya yang bersama mereka dan orang lain yang tidak dihitung termasuk Quraisy.

Mereka memutuskan agar setiap kabilah mengutus pemuda terbaiknya dan bersama-sama mereka akan membunuh Muhammad saw. Hal itu agar Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas sebab semua kabilah terlibat.

Pada hari itu, Jibril as mewahyukan kepada Rasul saw telah diizinkan untuk berhijrah. Rasul saw pergi ke rumah Abu Bakar pada waktu yang tidak biasanya dan memberitahu Abu Bakar bahwa telah diizinkan berhijrah dan Abu Bakar akan menjadi teman hijrah beliau. Beliau berdua menyusun rencana. Beliau menyewa penunjuk jalan Abdullah bin Arqath (Abdullah bin Uraiqith) dari Bani ad-Duali bin Bakar, ibunya seorang wanita dari Bani Shahmu bin Amru. Dia masih musyrik. Abu Bakar menyerahkan untanya dan unta Rasul agar kepada Abdullah bin Arqath (Abdullah bin Uraiqith) agar dibawa menemui beliau berdua nantinya.

Pada malam harinya, malam 27 Shafar 1 H, para pemuda Quraisy yang sudah dipilih berkumpul di depan rumah Rasul saw menunggu kesempatan beliau tidur untuk menghabisi beliau. Rasul saw menyuruh Ali bin Abiy Thalib untuk tidur di pembaringan beliau dan berselimutkan selimut al-hadhrami yang biasa beliau pakai. Rasul saw keluar dari rumah seraya menaburkan debu di kepala setiap orang yang mengepung rumah Beliau. Ini digambarkan dalam QS Yasin: 9. Mereka tidak melihat Rasul saw keluar meninggalkan rumah beliau.

Pada malam 27 Shafar tahun ke-14 kenabian (1 Hijriyah), Rasul saw bersama Abu Bakar menuju ke arah selatan Mekah ke Gua Tsur sekira lima mil dari Mekah. Abu Bakar masuk lebih dahulu untuk memastikan keamanan Rasul saw. Peristiwa itu digambarkan dalam QS at-Taubah: 40.

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (TQS at-Tawbah [9]: 40).

Rasul saw dan Abu Bakar berdiam di Gua Tsur selama tiga malam. Selama itu, Abdullah bin Abu Bakar di siang hari berada di Mekah bersama orang-orang Quraisy mendengarkan berita tentang mereka, lalu sore hari menuju Gua Tsur memberitahukan keadaan kepada Rasul saw Abu Bakar serta membawa makanan dan keperluan. Abdullah bin Abu Bakar berada di Gua Tsur selama malam. Amir bin Fuhairah, maula Abu Bakar menggembalakan domba ke sekitar Gua Tsur dan malam harinya memerah susu doba untuk minum Rasul saw Abu Bakar. Pagi hari Abdullah pulang ke Mekah dan Amir bin Fuhairah menggembalakan domba di belakang  Abdullah untuk menghapus jejaknya.

Orang-orang Quraisy sempat memeriksa Gua Tsur hingga di mulut gua. Allah mengirimkan tentaranya dan menolong Rasul. Orang-orang Quraisy menyimpulkan tidak ada orang di dalam gua ketika mereka melihat rumah laba-laba menutup mulut gua dan ada burung Merpati yang mengerami telur di mulut gua. Mereka berpikir, jika ada orang yang masuk niscaya sarang laba-laba itu rusak dan Merpati itu tidak akan mengerami di situ.

Pada 1 Rabiul Awwal tahun ke-14 kenabian (1 Hijriyah), Abdullah bin Arqath (Abdullah bin Uraiqith) membawa unta Rasul, unta Abu Bakar dan untanya sendiri dan bertemu dengan Rasul saw dan Abu Bakar di Gua Tsur. Asma’ binti Abu Bakar datang membawa bekal. Ia membagi dua selendang ikat pinggangnya, yang satu untuk mengikat bekal ke Unta dan yang satu dia pakai kembali. Karena itu, ia disebut Dzatu Nithaqatayn (Pemilik Dua Selendang). Hari itu perjalanan hijrah dimulai. Amir bin Fuhairah membonceng Abu Bakar untuk melayani selama perjalanan.

Di perjalanan Rasul dan Abu Bakar singgah di kemah Ummu Ma’bad binti Ka’ab, seorang wanita dari Bani Ka’ab dari Khuza’ah. Rasul saw memerah susu domba milik Ummu Ma’bad untuk diminum.

Suraqah bin Malik bin Ju’syum sempat menyusul Rasul saw dan Abu Bakar. Awalnya ia ingin mendapatkan hadiah 100 ekor unta yang dijanjikan Quraisy untuk orang yang bisa mengembalikan Rasul ke Mekah. Kuda Suraqah tersungkur tiga kali, dan dia tahu tidak boleh mencelakai Rasul saw. Dia meminta kepada Rasul agar membuat tulisan sebagai bukti untuknya. Abu Bakar menuliskan sesuai perintah Rasul saw di sepotong tulang. Menurut riwayat Ibnu Hisyam, pada waktu Fathu Mekah, Suraqah menyatakan keislamannya.

Rute hijrah Nabi saw menurut riwayat Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq: dari Gua Tsur ke as-Sahil  (Pantai) sampai memotong jalan di dekat Usfan, ke Amaj, ke Qudaid, ke al-Kharar, ke Tsaniyatu al-Marrah, ke Liqfa (Lafta), ke Madlajah Liqfi, ke Madlajah Mahaj (Madlajah Mijaj), ke Marjih Mahaj, ke Dzi al-Ghadhwayn (Dzi al-Ghudhwayn), ke Dzi Kasyri, ke al-Jadajid, ke al-Ajrad, ke Dza Salamin, ke Madlijah Ti’hin, ke al-‘Ababid (al-‘Ababib), ke al-Fajah, ke al-‘Arja. Lalu di sini Aws bin Hujrin seorang laki-laki dari Aslam membawa Rasul saw dengan untanya ke Madinah dan dia juga mengutus Mas’ud bin Hunaidah, hamba sahayanya untuk menemani Rasul saw. Dari al-‘Araj lanjut ke Tsaniyatu al-‘Air (Tsaniyatu al-Ghair), lalu ke Bathnu Ri`min kemudian ke Quba’. Rasul saw dan Abu Bakar tiba di Quba’ di perkampungan Bani Amru bin ‘Awf pada Senin, 8 Rabiul ‘Awwal 1 Hijriyah (Ibnu Hisyam mengatakan 12 Rabiul Awwal) di waktu Dhuha ketika matahari sudah terasa terik.

Beliau tinggal di Quba selama empat hari. Beliau berdiam di rumah Kultsum bin Hidmin, salah seorang Bani ‘Ubaid saudara Bani Amru bin ‘Awf. Dikatakan beliau tinggal dirumah Sa’ad bin Khaytsamah. Yang menyebutkan, beliau tinggal di rumah Kultsum bin Hidmin mengatakan, “tidak lain Rasululalh saw jika keluar dari rumah Kultsum bin Hidmin, beliau duduk untuk bertemu orang-orang d rumah Sa’ad bin Khaytsamah.

Beliau tinggal di Quba hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. Selama itu beliau bersama orang-orang membangun masjid di Quba. Rasul saw orang pertama yang meletakkan batu untuk membangun masjid itu di bagian kiblatnya, di susul Abu Bakar lalu orang-orang. Ini merupakan masjid pertama yang dibangun.

Pada hari Jumat 12 Rabiul Awwal 1 H beliau bertolak dari Quba ke Madinah. Beliau melakukan shalat Jumat di Bani Salim bin ‘Awf. Beliau shalat di masjid di lembah Wadi Zanuna. Ini adalah Shalat Jumat pertama yang dipimpin oleh Rasul saw.

Beliau tiba di Yatsrib (Madinah) pada Jumat, 12 Rabiul Awwal 1 hijriyah. Setiba di Madinah semua orang ingin agar Rasul saw tinggal di rumahnya. Beliau lalu membiarkan unta bagal beliau berjalan dan di mana unta itu menderum maka di situlah beliau akan tinggal. Unta beliau akhirnya menderum di marbad (tanah tempat menjemur kurma) milik Sahal bin Amru dan Suhail bin Amru, dua orang anak yatim yang ada dalam tanggungjawab Mu’adz bin ‘Afra dari Bani Malik bin an-Najar. Di tempat itu lalu dibangun masjid yang dikenal dengan Masjid an-Nabawi. Selama pembangunan masjid dan tempat tinggal Beliau, Beliau tinggal di rumah Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Anshari.

Berikutnya, Rasul saw mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan mereka sedemikian kuat hingga seperti persaudaraan karena ikatan darah. Orang-orang Anshar membagi hartanya kepada saudaranya dari Muhajirin.

Rasul saw juga membuat Kitab (Perjanjian) yang mengatur interaksi di masyarakat Madinah, termasuk orang-orang musyrik dan Yahudi di dalam kota Madinah. Kitab atau perjanjian itu disebut Watsîqah al-Madînah (Piagam Madinah). Yahudi Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraizah awalnya menolak ikut serta dalam perjanjian itu. Namun akhirnya mereka bersedia dan dibuatkan perjanjian tersendiri yang mirip dengan Watsîqah al-Madînah itu.

Tiga hal penting tersebut, yakni pembangunan Masjid an-Nabawai, mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar dan penandatanganan Piagam Madinah, merupakah tiga pilar penting bagi Daulah Islamiyah di Madinah yang Rasul saw menjadi pemimpin dan penguasanya.[] (red)