Breaking News

Proses Hijrah Nabi saw dari Mekah ke Madinah-1

Bagian Pertama

Disarikan dari Sîrah an-Nabawiyah Ibnu Hisyam dan beberapa kitab sirah lainnya.

Alasan dan latar belakang hijrah para sahabat dan Nabi saw dari Mekah ke Madinah bukan karena rasa takut, melarikan menyelamatkan diri dari siksaan kaum kafir Quraisy. Tetapi alasan dan latar belakang hijrah tersebut adalah telah siapnya Yatsrib (Madinah) untuk dakwah tahap selanjutnya yaitu penegakan institusi masyarakat Islami dalam Daulah Islamiyah dan untuk menerapkan syariah Islam.

Hal itu dapat dipahami dengan jelas dari jalannya sirah dakwah Rasul saw dan para sahabat. Singkatnya setelah tahun kesedihan dengan wafatnya paman Nabi saw Abu Thalib dan isteri Beliau Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid, maka penganiayaan, serangan bahkan siksaan Quraisy terhadap dakwah dan kepada Nabi saw para sahabat makin meningkat secara drastis. Hingga terjadi pemboikotan terhadap Nabi saw dan Bani Hasyim oleh Quraisy. Hingga pemboikotan berakhir, Rasul saw dan para sahabat tetap bersabar menanggung semua itu dan terus melanjutkan dakwah. Berikutnya terjadi peristiwa Isra’ Mikraj.

Di tengah halangan dan rintangan perlakuan kasar dan buruk dari penduduk Mekah, Rasulullah diperintahkan oleh Allah untuk melakukan thalabun nushrah mencari pertolongan.  Diriwayatkan dari ‘Aliy bin Abiy Thalib, ia berkata : “ketika Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah, aku dan Abu Bakar bersama Beliau keluar ke Mina”. Riwayat serupa juga diriwayatka oleh Ibnu Katsir dari ‘Aliy bin Abiy Thalib.  Dalam mencari nushrah itu Rasulullah tidak pernah berkompromi apalagi berserikat dengan pemerintahan atau sistem selain Sslam.  Ibnu Syihab az-Zuhriy meriwayatkan bahwa Rasulullah mendatangi secara pribadi Bani Kindah, tetapi mereka menolak.  Beliau juga mendatangi Bani Kilab, dan mereka menolak.  Beliau mendatangi Bani Hanifah meminta nushrah dan kekuatan kepada mereka, tetapi tidak ada orang arab yang lebih keji penolakannya terhadap Beliau kecuali Bani Hanifah.  Beliau juga mendatangi Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, mendo’akan mereka kepada Allah dan meminta kepada mereka.  Lalu seorang laki-laki dari mereka bernama Bahirah bin Firas berkata “ demi Allah, seandainya aku mengabulkan pemuda quraisy ini, sungguh orang arab akan murka”  kemudian ia berkata :” apa pendapatmu, jika kami membai’atmu atas urusan engkau, kemudian Allah memenangkanmu atas orang yang menyelisihimu, apakah kami akan diberi kekuasaan setelah engkau ?”  Rasulullah menjawab:” urusan itu (kekuasaan) hanya milik Allah yang Ia berikan kepada siapa yang Ia kehendaki”.  Bahirah berkata :” apakah kami hendak menyerahan leher-leher kami  kepada orang arab, dan engkau tidak, sedangkan jika Allah memenangkan kamu, urusan (kekuasaan) itu bukan untuk kami, Kami tidak butuh urusanmu”.

Kabilah-kabilah yang pernah didatangi oleh Rasulullah adalah sebagi berikut : 1. Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, 2. Bani Muharif bin Khashfah, 3. Bani Fazarah, 4. Ghassan, 5. Bani Murah, 6. Bani Hanifah, 7. Bani Sulaim, 8. Bani ‘Abbas, 9. Bani Nadlar, 10. Bani Baka’, 11. Bani Kindah, 12. Bani Kilab, 13. Bani Harits bin Ka’ab, 14. Bani  ‘Adzrah, 15. Bani Hadlramah. 16. Bani Syaiban dan 17. Bani Hamdan.

Hingga terjadi kedatangan rombongan haji dari kabilah Khazraj dari Yatsrib pada tahun ke-11 kenabian, lalu mereka menerima dakwah Rasulullah dan setelah musim haji mereka kembali ke Yatsrib mendakwahkan Islam.  Lalu pada musim haji setahun berikutnya (tahun ke-12 kenabian) mereka datang berjumlah dua belas orang, sepuluh orang dari suku Khazraj, dan dua orang dari suku Aws dan mereka berbai’at kepada Rasul dengan Bai’at Aqabah I.  Setelah itu mereka kembali dengan disertai oleh Mush’ab bin Umair yang diutus khusus oleh Rasul memenuhi permintaan mereka dan bersama-sama mendakwahkan Islam kepada penduduk Yatsrib hingga tersebar Islam, pemikiran Islam dan perasaan Islam secara meluas ditengah-tengah penduduk Yatsrib.

Mush’ab bin Umair juga mendapat misi khusus yaitu menyiapkan Yatsrib untuk memberikan nushrah dan membangun masyarakat Islami, menegakkan Daulah dan menerapkan syariah Islam. Lalu pada tahun ke-13 kenabian, penduduk Yatsrib bersepakat memilih tujuh puluh lima orang (dua orang diantaranya wanita) sebagai rombongan berhaji dan melakukan Bai’at ‘Aqabah II yang menandakan penyerahan kekuasaan dan mereka siap melindungi Islam dan Rasulullah dengan apa saja yang mereka miliki.

Suasana Madinah menjelang Baiat Aqabah II menunjukkan kesiapan Madinah untuk membangun masyarakat Islami, sebab sudah terbentuk opini umum di Madinah tentang Islam. Para tokoh Madinah bermuktamar, berkumpul dan memutuskan untuk menjumpai Rasul saw di musim haji tahun itu (tahun ke-13 kenabian). Sebanyak 72 orang tokoh laki-laki dan 2 orang wanita pun berangka ke Mekah dan bertemu dengan Rasul saw di bukit Aqabah pada pertengahan hari Tasyriq dan terjadilah Baiat Aqabah II, yang oleh sejarahwan disebut Baiat Perang (Bai’at ‘alâ al-Harb), yang hakikatnya merupakan Baiat penyerahan kekuasaan kepada Rasul saw dan pengangkatan Beliau menjadi penguasa. Hal itu terbukti, begitu Rasul saw sampai di Madinah, Beliau langsung bertindak dan menjalankan peran kepala negara tanpa ada pengangkatan baru.

Jabir bin Abdullah ra menceritakan suasana Madinah menjelang Baiat Aqabah II. Dalam hadits riwayat imam Ahmad hadis no. 14456 dan riwayat Ibnu Hibban hadis no. 2674, Jabir bin Adullah ra menuturkan:

مَكَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ، يَتْبَعُ النَّاسَ فِي مَنَازِلِهِمْ بعُكَاظٍ وَمَجَنَّةَ، وَفِي الْمَوَاسِمِ بِمِنًى، يَقُولُ: «مَنْ يُؤْوِينِي؟ مَنْ يَنْصُرُنِي حَتَّى أُبَلِّغَ رِسَالَةَ رَبِّي، وَلَهُ الْجَنَّةُ؟» حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، أَوْ مِنْ مِصْرَ – كَذَا قَالَ – فَيَأْتِيهِ قَوْمُهُ، فَيَقُولُونَ: احْذَرْ غُلَامَ قُرَيْشٍ، لَا يَفْتِنُكَ، وَيَمْشِي بَيْنَ رِجَالِهِمْ، وَهُمْ يُشِيرُونَ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ، حَتَّى بَعَثَنَا اللَّهُ لَهُ مِنْ يَثْرِبَ، فَآوَيْنَاهُ، وَصَدَّقْنَاهُ، فَيَخْرُجُ الرَّجُلُ مِنَّا فَيُؤْمِنُ بِهِ، وَيُقْرِئُهُ الْقُرْآنَ، فَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ فَيُسْلِمُونَ بِإِسْلَامِهِ، حَتَّى لَمْ يَبْقَ دَارٌ مِنْ دُورِ الْأَنْصَارِ إِلَّا وَفِيهَا رَهْطٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، يُظْهِرُونَ الْإِسْلَامَ، ثُمَّ ائْتَمَرُوا جَمِيعًا (ثُمَّ إِنَّا اجْتَمَعْنَا -في روايو ابن حبان)، فَقُلْنَا: حَتَّى مَتَى نَتْرُكُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطْرَدُ فِي جِبَالِ مَكَّةَ وَيَخَافُ؟ فَرَحَلَ إِلَيْهِ مِنَّا سَبْعُونَ رَجُلًا حَتَّى قَدِمُوا عَلَيْهِ فِي الْمَوْسِمِ، فَوَاعَدْنَاهُ شِعْبَ الْعَقَبَةِ، فَاجْتَمَعْنَا عِنْدَهُ مِنْ رَجُلٍ وَرَجُلَيْنِ حَتَّى تَوَافَيْنَا …

Rasulullah saw berdiam di Mekah 10 tahun, mengikuti orang-orang di rumah-rumah mereka di (pasar) ‘Ukazh dan Majannah dan di musim-musim haji di Mina, beliau berkata: “siapa yang mau melindungiku? Siapa yang mau menolongku hingga aku menyapaikan risalah Rabbku dan untuknya surga?” Sampai seorang laki-laki keluar dari Yaman atau Mesir lalu dia datang kepada kaumnya dan kaumnya berkata: “hati-hati dengan seorang anak Quraisy, jangan sampai dia menimpakan fitnah padamu, dan Beliau berjalan di antara orang-orang mereka dan mereka menunjuk beliau dengan telunjuk mereka, sampai Allah mengutus kepada beliau orang dari Yatsrib dan mendukung beliau, membenarkan beliau. Lalu orang dari kami keluar dan mengimani beliau, membacakan al-Quran, dan dia kembali kepada keluarganya lalu keluarganya masuk Islam dengan keislamannya. Sampai tidak tersisa satu rumah pun dari rumah-rumah Anshar kecuali di dalamnya ada sekelompok orang muslim, mereka menampakkan Islam. Kemudian mereka bermuktamar (kemudian kami berkumpul – dalam riwayat Ibnu Hibban). Kami berkata: “sampai kapan kita membiarkan Rasulullah saw terusir di celah-celah bukit Mekah dan ditakut-takuti? Maka 70-an orang dari kami melakukan perjalanan menemui Beliau sampai mereka datang kepada Beliau di musim haji, lalu kami berjanji bertemu di celah bukti ‘Aqabah, maka kami seorang, demi dua orang berkumpul kepada beliau sampai kami semuanya terpenuhi ….. (selanjutnya terjadi Baiat Aqabah II).

Riwayat Ibnu Hibban juga diriwayatkan oleh al-hafizh al-Haytsami (w. 807 H) di Mawârid azh-Zhumân ilâ Zawâid Ibni Hibbân no. 1686, al-hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi (w. 748 H) di Târîkh al-Islâm bab al-‘Aqabah ats-Tsaniyah dan di Siyar al-A’lâm an-Nubula’ bab al-‘Aqabah ats-Tsaniyah.

Setelah Baiat Aqabah II, Rasul saw mengizinkan dan menyuruh para sahabat untk berhijrah ke Madinah. Ada yang berhijrah sendiri, ada yang berbarengan, ada yang sembunyi-sembunyi dan ada yang terang-terangan seperti yang dilakukan Umar bin al-Khaththab ra. Sedangkan Rasul saw sendiri belum berhijrah menungguh wahyu yang memerintahkan Beliau berhijrah. Abu Bakar ra dan Ali bin Abiy  Thalib ra juga belum Rasul izinkan berhijrah. Hingga terjadilah proses hijrah Rasul saw yang diawali dengan adanya pertemuan para tokoh Quraisy di Dâr an-Nadwah setelah mereka mengetahui hijrahnya para sahabat ke Madinah. Mereka merasakan hal itu akan menjadi ancaman ke depan. Maka mereka berkumpul untuk membahasnya dan memutuskan tindaka yang akan mereka ambil, khususnya terhadap Rasul saw.

Bersambung bagian kedua