Breaking News

Reportase OBSESI November : Komunisme dan Liberalisme Ancaman Nyata Bagi Negeri Ini

Komunisme adalah sebuah paham yang menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi (modal, tanah, tenaga kerja) yang mempunyai tujuan terwujudnya masyarakat yang makmur, masyarakat komunis tanpa kelas dan semua orang sama.

Demikian disampaikan oleh Ir. Muhammad Abduh, MT., saat menyampaikan materinya dalam kegiatan Obrolan Seputar Islam (OBSESI) terkini di Masjid Raya Mujahidin bertajuk Komunisme dan Liberalisme Ancaman Nyata Bagi Negeri ini pada Ahad  (18/11) lalu. OBSESI merupakan kegiatan rutin bulanan yang diselenggarakan Lembaga Kajian Inhadul Fikri. Selain menghadirkan Ir. Muhammad Abduh, juga hadir pemateri lainnya, H.M. Ali Nasrun, SE,. M.Ec, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan, dan Direktur Pamong Institute Wilayah Kalbar, Muhammad Kurniawan, S.STP,M.Sc.

Muhammad Abduh melanjutkan menurut ideologi komunis, kepentingan-kepentingan individu tunduk kepada kehendak partai, negara dan bangsa (kolektif). Komunisme memiliki ciri-ciri di antaranya meniadakan tuha (ateis), tidak menghargai manusia sebagai individu, mengajarkan teori pertentangan kelas, dan memiliki doktrin tevolusi terus menerus.

“Hal-hal tersebut sangat berbahaya. Mengakibatkan penderitaan berkepanjangan yang disebabkan oleh penguasa,” terang Muhammad Abduh.

Sementara narasumber lainnya, H.M. Ali Nasrun, SE,. M.Ec menyampaikan materi mengenai kegagalan sistem ekonomi liberal kapitalis. Dalam kesempatan kali itu Ali Nasrun menyampaikan fakta-fakta kegagalan ekonomi Liberal Kapitalis, diantaranya Depresi ekonomi USA, Eropa dan dunia tahun 1930-an. Peningkatan produksi karena melimpahnya modal dari penjualan saham, daya beli menurun karena pendapatan buruh dipotong pembelian saham, mengakibatkan kelebihan supply, deflasi, kerugian perusahaan, penurunan produksi, dan akhirnya PHK.

Masa penjajahan di Indonesia. Pedagang dan pengusaha penjajah dan non pribumi memperoleh keuntungan, namun kesejahteraan rakyat pribumi tidak meningkat sebanding. Lebih terasa seperti pemerasan pada pribumi (ketidak-adilan). Pola usaha ekstraktif eksploitatip terhadap sumber daya.

Masa Orde Lama, mulai tahun 1950 ( aplikasi KMB) diterapkan demokrasi liberal, termasuk ekonomi liberal. Ketidak-berdayaan pemerintah berakibat “berkuasanya” pengusaha kaya dalam perekonomian. Perekonomian berdasarkan mekanime pasar. Pelaku ekonomi pribumi dikalahkan oleh pengusaha non pribumi. Perekonomian memburuk, inflasi membumbung, ketimpangan ekonomi melebar, pribumi melarat. Pemerintah mendorong pengusaha pribumi dengan berbagai fasilitas, namun “dibeli” oleh pengusaha asing, sehingga disebut “Ali Baba”. Perusahaan atas nama Ali yang pribumi tetapi pelakunya usahanya oleh Baba yang orang asing.

Kegagalan ini menurut Ali Nasrun terus belanjut hingga terjadi krisis ekonomi dunia tahun 70an, 20 tahun kemudian, badai krisis melanda Asia Tenggara termasuk melanda Indonesia. Ali Nasrun menyampaikan data Sejak 1998 Indonesia gamang, peralihan dari sistem sentralisasi menjadi desentralisasi dengan otonomi daerahnya. Peran pemerintah dalam bidang ekonomi semakin tidak jelas dan tidak terukur.  Pihak kapitalis dan asing semakin punya peluang, apalagi sudah dibuka oleh IMF. Peran BUMN diperkecil. Proteksi diminimalkan. Subsidi dikurangi. APBN defisit. Neraca Pembayaran defisit. Indeks Gini 0,389 (BPS Maret 2018). Pengangguran 5,13% (BPS Februari 2018). Kemiskinan 9,28 % (BPS Maret 2018). Utang luar negeri 359,8 Milyar USD ( BI kuartal 3 2018) atau 34 % PDB.

Di tengah bahanya komunisme dan fakta-fakta kegagalan sistem kapitalis liberal, kita harus memiliki pilihan yang menjadi solusi bagi kehidupan ini. Demikian disampaikan oleh narasumber selanjutnya Muhammad Kurniawan. Menurutnya, Secara empiris: Kapitalisme/liberalisme dan komunisme justru banyak menimbulkan mudharat. Sedangkan secara  historis Islam telah mewarnai sejarah dunia dengan peradaban gemilang: sejahtera, aman, menaungi perbedaan, dan peradaban tinggi.

Islam, menurut Kurniawan mampu menjawab tantangan dari segala zaman termasuk zaman ini. Globalisasi, Sharing Economy, Industri 4.0, Kesenjangan yg semakin menganga, siklus krisis ekonomi 5 tahunan mampu dijawab oleh Islam.

Islam memiliki sistem ekonomi yang khas yang terbukti telah diterapkan selama 14 abad. Selain itu, seistem ekonomi ini juga ditunjang dengan sistem pemerintahan yang khas pula. Efek dari diterapkanya Islam secara menyeluruha adalah kesejahteraan, rahmat yang terjadi bagi seluruh alam ini.

Di bagian akhir, Kurniawan juga mengajak para peserta yang hadir untuk ikut berjuang demi tegaknya sistem Islam yang betul-betul adil di bawah institusi bernama Khilafah Islamiyah. (PY)

Leave a Reply