Breaking News

Runtuhnya Pemikiran Sosialisme–Komunisme Yang Berbahaya

Oleh : W.Irvandi

Sosialisme muncul sebagai bentuk penolakan terhadap kapitalisme pada abad ke-19. Pada satu sisi, industri telah mendorong perkembangan kapitalisme dengan tumbuhnya barang dan jasa. Akan tetapi mengakibatkan juga munculnya kesenjangan yang begitu lebar sehingga merugikan kaum buruh. Upah kerja rendah, jam kerja yang panjang serta eksploitasi anak dan wanita. Bahkan keamanan kerja dan kesejahteraan kaum buruh tidak diperhatikan.

Disinilah Karl Marx (1818-1883) dari Jerman tampil dengan mengecam ekonomi kapitalistik dan menawarkan perubahan secara radikal (baca : revolusioner) bukan dengan tambal sulam. Teori perubahan sosialnya disebut dengan istilah Sosialisme Ilmiah (Scientific Socialism). Dalam menyusun teori tersebut Marx banyak dipengaruhi oleh filsuf Jerman, Hegel (1770-1831), terutama tentang dialektika. Kemudian Marx dan Engels menerbitan karangan yang masyhur adalah Manifesto Komunis dan Das Kapital.

Marx menggunakan filsafat dialektika sebagai pisau analisa sosial dalam menjelaskan kebobrokan sistem kapitalisme yaitu adanya kontradiksi-kontradiksi di dalam sistem tersebut yang muncul dari individu tanpa melihat konsekuensi keadilan sosial dan kemakmuran masyarakat secara keseluruhan. Memaksimalkan kepentingan individu diikuti oleh kontraksi ekonomi dan pengangguran. Para pekerja semakin miskin, dan kesenjangan antar kelas muncul yang akhirnya memicu suatu revolusi sosialis tanpa kelas yang berlandaskan pada persamaan dan solidaritas.

Untuk melandasi teori sosialnya, Marx merumuskan teori mengenai dialektika materialisme (dialectical materialism), kemudian teori ini untuk menganalisa sejarah perkembagan masyarakat, yang ia sebut dengan materialisme historis (historical materialism). Berdasarkan materialisme sejarah, bahwasanya kapitalisme akan runtuh oleh revolusi yang digerakkan kaum proletar (buruh), untuk mewujudkan masyarakat sosialis-komunis.

Salah satu konsep pokok yang membangun sosialisme-komunisme adalah konsep alienasi. Alienasi ini menyebabkan seseorang atau lebih akan menjadi terpisah, asing atau diasingkan dari orang lain. Menurut Marx, kapitalisme akan menyebabkan individu menjadi terpisah dari dirinya sendiri, keluarga, teman dan pekerjaannya. Sehingga tidak lagi menjadi individu yang utuh. Misalnya seorang buruh sudah menjual tenaga, keahlian dan waktunya kepada orang lain yaitu pemilik modal. Pemilik modal menguasai/memiliki buruh, sehingga berhak untuk membeli sebagian besar dari kehidupan buruh akibat panjangnya waktu kerja. Akhirnya buruh tidak memiliki arti diri yang utuh, menjadi teralienasi disebut juga sebagai manusia kapitalisme. Kondisi inilah yang hendak dirubah oleh Marx.

Konsep dasar berikutnya adalah filsafat materialisme. Marx menyatakan bahwa teori harus selalu dikaitkan dengan dunia nyata (materi), dan sebaliknya. Perubahan yang terjadi pada masyarakat lebih banyak disebabkan oleh perubahan faktor ekonomi. Masyarakat berevolusi sejalan dengan evolusinya alat-alat produksi. Dengan mengkaitkan pada materi, maka pandangan ini adalah pandangan ilmiah, karena materi tunduk pada analisa-analisa ilmiah. Begitu juga dalam hal hubungan ekonomi, sejarah serta perubahan masyarakat yang tunduk pada analisa ilmiah. Pada evolusi masyarakat diterangkan dalam dialektika sejarah dan didasari oleh konsep tentang dialektika materialisme.

Dasar pijakan paham sosialisme-komunisme, merhaenisme adalah filsafat materialisme. Bahwasanya alam, manusia dan kehidupan adalah materi. Materi adalah asal dari sesuatu. Evolusi materi akan menghasilkan/mengeksistensikan materi lain. Dengan kata lain materi tercipta karena proses dialektika (kontradiksi-kontradiksi) dalam materi. Misalnya proses pembuahan antara sperma (thesa) dan ovum (antithesa), jika tidak terjadi dialektika, maka tidak akan terwujud materi lain, namun jika ber-sinthesa maka akan menjadi zygot, dan secara bersamaan sperma dan ovum akan lenyap.

Tentu pandangan ini sangat bertentangan dengan islam. Islam memandang bahwa dibalik alam, kehidupan dan manusia ada yang menciptakan sekaligus mengatur yakni Al-Khaliq Al-Mudabbir. Memang benar bahwa materi ada terjadi interaksi. Namun interaksi antar materi tidak otomatis akan mewujudkan materi lain, dan tidak sepenuhnya melenyapkan materi awal sebelumnya. Misalnya air (H2O) adalah interaksi antara oksigen dengan hidrogen. Interaksi antar oksigen dan hidrogen tidak akan langsung menghasilkan air, akan tetapi perlu adanya aturan yang memaksa (sunnatullah) untuk terwujudnya air yaitu sejalan dengan hukum perbandingan 1 : 2 (baca: interaksi satu atom oksigen dan dua atom hidrogen). Dan peristiwa ini tidak akan menghilangkan oksigen dan hidrogen, tapi dapat muncul kembali dengan cara memutus ikatan hidrogen dan oksigen tadi.

Pertanyaannya, bagaimana kemunculan aturan ini, dan siapa yang menciptakan perbandingan 1:2? Kenapa harus 1:2? Apakah tidak bisa perbandingan 3:4? Apakah juga aturan ini muncul dengan tiba-tiba? Inilah pertanyaan yang mustahil dijawab dengan jawaban “kebetulan” atau “tiba-tiba”, namun mutlak dijawab adanya Al-Khaliq al-Mudabbir (Sang Pencipta dan Pengatur). Disinilah terbukti eksistensi Al-Khaliq Al-Mudabbir adalah suatu keniscayaan terhadap eksistensi alam, manusia dan kehidupan. Dengan demikian adanya suatu materi yang memiliki keterbatasan dan perlu kepada suatu aturan. Dan materi tersebut perlu kepada sesuatu yang tidak bergantung/memerlukan kepada yang lain bahkan sesuatu itulah tempat bersandarnya segala sesuatu. Dialah Allah swt.

Leave a Reply