Breaking News

RUPIAH MENUJU CHAOS YANG TAK DIIDAMKAN

Oleh : Zawanah Filzatun Nafisah[i]

 Nilai rupiah melemah semakin tajam. Tantangan hidup akan makin terasa kejam. Bagaimana bahtera negeri ini tetap berlayar membawa kami?

Bagi yang suka teori sosial klasik abad ke 18 pasti tak asing dengan Georg Simmel, penulis “Philosofy of money”. Simmel menganalisis adanya dampak uang terhadap dunia batin manusia dan kebudayaan obyektif secara keseluruhan. Sangat erat kaitannya dengan pertukaran milik, kerakusan, ekstravaganza, sinisme, kebebasan individu, gaya hidup, kebudayaan, nilai kepribadian, dan sebagainya.

Delapan abad sebelum Simmel, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali atau yang kita kenal Imam Al Ghazali telah mengatakan dalam bukunya Kîmiyâ’ al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi), “Berbagai bidang profesi, perdagangan, jasa, dan lain-lain bermunculan di dunia ini yang semakin memperumit keadaan dan menimbulkan kekacauan sosial. Apa pasal? Karena manusia lupa bahwa kebutuhan mereka sebenarnya hanya tiga, yaitu pakaian, makanan, dan tempat tinggal, yang semuanya semata-mata dibutuhkan agar jasad dapat menjadi tunggangan yang layak bagi jiwa dalam perjalanannya ke alam berikutnya”.

Kedua teori diatas memiliki titik temu yang sama yakni, adanya dampak perekonomian dan keuangan terhadap batin manusia, kebudayaan dan menimbulkan kekacauan sosial. Ketika individu hubbuddunya atau mencintai dunia melebihi kecintaannya pada Allah dengan segala aturan-Nya. Ketika masyarakat mengabaikan hukum-hukum muamalah yang seharusnya dan menepikan dakwah yang mencegah kemungkaran, ketika negara (daulah) pun tidak menerapkan syariat Islam dalam mengatur ekonomi atas warga negaranya, maka tidak mustahil batin manusia kian resah, budaya makin hilang arah, perputaran roda ekonomi rakyat hingga negara pun menjadi kacau bahkan hanya tinggal pasrah saja itupun kalau tidak berujung pada bunuh diri.

Menarik pernyataan Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S. Pane bahwa pelemahan rupiah memang tidak berdampak langsung pada tingkat kejahatan. Namun pengaruh perekonomian masyarakat dapat menjadi salah satu pemicu tindakan kejahatan masyarakat. Aparat Kepolisian pun harus bekerja lebih keras untuk menjaga keamanan masyarakat dari potensi meningkatnya kejahatan yang dipicu oleh motif ekonomi.

Secara kausalitas, setiap peristiwa terjadi pun pasti ada penyebabnya. Suatu peristiwa terjadi pasti ada yang memicunya. Jika ekonomi sudah makin sulit, maka banyak aspek lainnya yang ikut terganggu. Sehingga kita harus benar-benar mengetahui sumber masalahnya.

Chaos atau kekacauan disebabkan dari sistem ekonomi kapitalisme yang sedang diusung mayoritas negara. Chaos merupakan sebuah kondisi di mana struktur maupun sistem yang berjalan di masyarakat mengalami kekacauan karena berbagai faktor yang bersifat politis, misalkan pergantian ke era reformasi yang menjadi pembuka kotak ‘pandora’ kebebasan berekonomi. Berarti ada yang rusak dari sistem ekonomi kapitalisme ini yang tidak dapat lagi kita pertahankan.

Alternatif sistem terbaik sebagai penggantinya yakni sistem ekonomi Islam dimana Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman sistem telah terbukti paling stabil yakni nilai alat tukar dan perekonomian berbasis dinar dan dirham yang mengandung logam mulia. Terjaminnya kestabilan ekonomi, akan mengurangi kerentanan dampak sosial pada masyarakat. Detailnya lagi misalkan sistem ekonomi islam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok (makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan dan lain-lain) yakni  distribusi kekayaan dengan mekanisme ekonomi dan nonekonomi, untuk meminimalisir dampak labilnya ekonomi pada kehidupan sosial.

Pada mekanisme ekonomi islam akan dipastikan oleh negara pada setiap laki-laki dewasa tidak meninggalkan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga. Dilakukan pencegahan penimbunan barang atau harta benda yang semestinya dapat dijualbelikan, pencegahan monopoli dan penipuan dengan tegas. Belum lagi adanya tindakan tegas pada perjudian, riba, korupsi, pemberian suap dan hadiah kepada penguasa serta pemanfaatan secara optimal hasil dari kepemilikan umum untuk kepentingan warga negara baik muslim maupun nonmuslim. Semuanya itu dilakukan agar terwujudnya kemudahan dan keberkahan dalam bertransaksi barang dan jasa,

Pada mekanisme nonekonomi diantaranya adalah zakat. Adanya kewajiban orang kaya membayar zakat sesuai ketentuannya. Kemudian negara menyalurkannya kepada delapan golongan, yang sebagian besarnya adalah orang-orang miskin dan membutuhkan harta dari zakat tersebut. Kampanye membayar infak dan sedekah disunnahkan, tanpa mengharap pengembalian. Demikian pula terhadap hibah, hadiah, dan wasiat termasuk pembagian harta waris. Negara juga bisa memberikan tanah secara cuma-cuma untuk dikelola kepada warganya. Dalam fikih, kebijakan itu dikenal dengan iqthâ’.

Kesejahteraan dan kebahagiaan hidup hanya ada ketika kita menjadikan Syariah Islam sebagai aturan hidup, tidak terkecuali dalam bidang ekonomi oleh negara. Maka dari itu, mari kita songsong terbitnya fajar kejayaan Islam dengan kepemimpinan Khilafah, sebagai pelaksana sistem ekonomi islam yang tidak hanya sebagai stabilizer perekonomian namun juga kebahagiaan dan rahmat yang dirasakan seluruh manusia.

Do’a kami, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“. (Terjemahan QS. Al Baqoroh: 201)

09/09/2018

[i] Penulis adalah Member Komunitas Pena Langit

Leave a Reply