Silaturahmi Rajab 1443 H Pontianak : Ambruknya Kapitalisme Tegaknya Peradaban Islam

Pontianak-Bertepatan dengan bulan Rajab, acara silaturahmi Rajab 1443 H pada 20 Februari 2022 lalu di Pontianak yang mengusung tema “Ambruknya Kapitalisme Tegaknya Peradaban Islam” telah dilaksanakan yang mengundang beberapa tokoh dan intelektual dan asatidz.

Acara ini mengingatkan tentang runtuhnya Khilafah 101 tahun yang lalu. Namun keruntuhan itu bukan untuk diratapi dan tidak juga untuk dibiarkan sebagai peristiwa sejarah belaka, namun harus dipahami bahwa Khilafah merupakan suatu sistem pemerintahan yang diwajibkan oleh Allah SWT untuk diterapkan dan diperjuangkan.

Ketika umat Islam tanpa Khilafah maka akan mengalami berbagai kemunduran dan penjajahan baik secara politik, ekonomi dan sosial. Termasuk yang baru-baru saja terjadi yaitu pelecehan terhadap wanita Muslim di India. Padahal Khilafah adalah perisai, yang berfungsi untuk mengatur urusan masyarakat dengan menerapkan syariah serta mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Acara Silaturahmi Rajab 1443H ini diadakan dalam berbagai sesi pemaparan materi dan diskusi.

Pada sesi pertama disampaikan materi tentang kegemilangan peradaban Islam oleh ustadz Pay. Beliau menyampaikan banyak pengakuan yang harus diakui bagaimana peran Islam dalam peradaban dan kemajuan dunia.

Bahkan tidak sedikit pengakuan tersebut datang dari dunia Barat. Peradaban Islam telah menciptakan negara adidaya (superstate) yang wilayahnya terbentang luas, dengan ratusan warga dengan berbagai perbedaan agama, suku maupun ras, namun Khilafah tetap memberikan jaminan kehidupan yang sangat luar biasa.

Hal ini pula sebagaimana yang telah dicontohkan baginda Rasulullah saw ketika berada di Madinah. Rasulullah tidak hanya sebagai nabi tetapi juga sebagai pemimpin negara, yaitu melakukan tugas-tugas kenegaraan, misalnya mengangkat gubernur, hakim, mengatur pasukan dan ekspedisi perang, membentuk baitul mal untuk pengelolaan keuangan sehingga urusan masyarakat diatur untuk mencapai kesejahteraan.

Para Khulafaurrasyidin juga mencontoh Rasulullah. Di masa Khalifah Umar ibn al Khattab dibangun pabrik roti untuk memfasilitasi kebutuhan pangan warga. Bahkan dimasa Umar bin Abdul Aziz tidak ada warga yang berhak menerima zakat, karena sudah berkecukupan.

Khilafah tidak hanya memberikan kesejahteraan warganya namun juga memberi banyak sumbangsih pada negara lain. Keunggulan sains dan teknologi diraih, tatkala Eropa dalam kegelapan. Tidak ada satu era tanpa terinspirasi dari kejayaan Islam. Itulah warisan Islam untuk dunia.

Materi kedua bertemakan pro dan kontra terkait khilafah disampaikan oleh Ustad Abu Abyaz. Banyak argumen yang menentang Khilafah, namun terjawab dengan penjelasan Al-quran Surah Al-Maidah ayat 44, 45, 47 & 49.

Di dalam ayat tersebut menjelaskan tentang kewajiban menjalankan pemerintahan berdasarkan hukum-hukum Allah. Siapa yang tidak mau berhukum dengan hukum Allah maka termasuk orang kafir, zalim dan fasik.

Khilafah juga yang menegakkan hudud, menjaga perbatasan, memungut zakat, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Kewajiban ini tidak akan dapat ditegakkan tanpa adanya Khilafah karena wewenang tersebut adalah wewenang negara, dan juga hanya negara yang mampu melaksanakannya.

Ada juga yang kontra dengan menyatakan bahwa Khilafah sebagai ancaman kebhinekaan. Padahal akidah Islam telah mendorong umat Islam untuk berdakwah kepada non Muslim, namun tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam. Hal ini berbeda dengan peradaban selain Islam ketika berkuasa misalnya seperti di Andalusia ketika Islam diterapkan, rukun sejahtera, beberapa agama hidup berdampingan. Namun saat Ratu Isabel berkuasa, penduduk dipaksa untuk masuk agamanya.

Ada juga yang menyatakan Khilafah tidak sesuai dengan zaman. Termasuk tuduhan Islam otoriter bertidak semaunya. Padahal Khilafah tidak seperti itu. Khalifah yang dipilih umat harus sesuai hukum syara. Ketika Khalifah menyimpang maka bisa dimakzulkan dan diberhentikan.

Materi ketiga disampaikan oleh Ustadz M.Abduh. Beliau memaparkan tentang bagaimana metode menegakkan kembali peradaban Islam. Hal ini sudah dicontohkan oleh baginda Rasulullah saw, tinggal dikaji dan  dipahami.

Ada tiga tahapan dakwah yang dilakukan Rasulullah saw dan para sahabat. Tahapan pertama adalah membina individu, hal ini dilakukan Rasul dan para sahabat mengkaji Islam di Darul Arqom. Selanjutnya tahapan berinteraksi dengan masyarakat yaitu ketika Allah memerintahkan untuk dakwah terang-terangan Tahapan ini untuk membentuk opini umum, dan mencari nushroh, namun tetap melakukan pembinaan kepada masyarakat.

Tholabun nushroh atau mencari pertolongan dakwah dilakukan ketika Rasulullah sampai datang ke Thaif dan dilempari batu. Sampai akhirnya bertemu suku mayoritas di Madinah, akhirnya terjadi bai’at aqobah pertama dan kedua dari suku Aus dan Khazraj yang dikenal sebagai kaum anshor. Metode inilah yang dipilih untuk memperjuangkan Khilafah. Tanpa melakukan aktivitas kekerasan. Oleh karena itu sudah seharusnya kita tidak berpaling  dari apa yang dilakukan Rasulullah saw.

Wallahu a’lam bishowab