Breaking News

Sistem Moneter Islam pada Nilai Tukar Mata Uang Indonesia

Oleh : Wandra Irvandi, (Intelektual Muslim)

Nilai tukar Rupiah terpuruk ke titik terendah dalam 20 tahun terhadap Dolar AS. Ini dipicu investor yang melepas aset pasar negara berkembang seiring penurunan mata uang Peso Argentina. Rupiah sempat melemah hingga menyentuh 14.840 bahkan 15.095 terhadap Dolar AS hingga sekarang. Ini merupakan posisi terendah Rupiah terhadap dolar sejak Juli 1998, setelah krisis keuangan melanda Asia.[i]

Problem terbesar yang dihadapi oleh perekonomian yang tidak terselesaikan sampai sekarang adalah pergolakan perekonomian dan perubahan-perubahan nilai harga mata uang. Dalam sejarah moneter, awal munculnya inflasi adalah mulai diberlakukannya dan beredarnya mata uang dinar dan dirham campuran (tidak murni) serta fulus sebagai mata uang pokok. Kemudian dimasa sekarang fenomena inflasi semakin bertambah dengan diterapkannya mata uang kertas.

Beberapa diantara penyebab bisa terjadinya penurunan nilai mata uang diantaranya,

Pertama,  adanya tingkat inflasi yang berbeda antara dua negara. Umumnya pada suatu negara yang memiliki tingkat inflasi  rendah memiliki nilai tukar uang lebih kuat dibanding negara yang memiliki inflasi tinggi. Hal ini akibat daya beli mata uang tersebut akan menjadi lebih besar dibanding negara lain.

Kedua, perbedaan suku tingkat bunga antara dua negara. Kaitan antara suku bunga, inflasi dan nilai tukar sangat erat. Bank sentral suatu negara dapat mengubah tingkat suku bunga. Adanya suku bunga yang lebih tinggi akan mengakibatkan tingginya permintaan mata uang negara tersebut.

Ketiga, kondisi kestabilan ekonomi dan politik. Bila suatu negara aman dalam segi politik maupun ekonomi,  tentunya akan menjadi lebih mudah bagi investor untuk menanam modal di negara tersebut.

Keempat, neraca anggaran. Suatu neraca perdagangan antara dua negara terdiri dari seluruh hasil pembayaran jual beli barang dan jasa. Disebut dengan neraca perdagangan defisit, kalau suatu negara lebih banyak membayar ke negara yang menjadi partner dagangnya dibanding dengan pembayaran dari hasil perolehan negara yang bermitra dagang.

Kelima, ratio harga ekspor dan harga impor, Bila terjadi harga ekspor yang meningkat lebih cepat dibanding harga impor, maka nilai mata uang negara tersebut menjadi lebih kuat. Adanya permintaan baik barang dan jasa dari negara tersebut naik yang berarti adanya permintaan mata uang negara tersebut menjadi tinggi. Namun sebaliknya bila harga impor yang naik dibanding harga ekspor.

Keenam, Hutang publik (public debt). Neraca anggaran domestik suatu negara digunakan juga untuk membiayai proyek-proyek untuk kepentingan publik dan pemerintahan. Jika anggaran defisit maka public debt membengkak. Public debt yang tinggi akan menyebabkan naiknya inflasi. Defisit anggaran bisa ditutup dengan menjual bond pemerintah atau mencetak uang. Keadaan bisa memburuk bila hutang yang besar menyebabkan negara tersebut default (gagal bayar) sehingga peringkat hutangnya turun. Public debt yang tinggi jelas akan cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut.

Dari beberapa kendala tersebut, poin kedua yang paling riskan yaitu suku bunga dikarenakan termasuk dari riba. Hal ini juga dituding sebagai penyebab utama melemahkan rupiah adanya ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve alias bank sentral Amerika Serikat.

Berkenaan dengan nilai tukar mata uang berarti berkaitan dengan sistem moneter. Sitem moneter dalam islam terdiri dari : pertama, Mata Uang. Mata uang yang digunakan dalam kebijakan moneter adalah kebijakan moneter yang berpijak pada standar emas dan perak secara bersamaan. Artinya, uangnya harus berupa emas dan perak, baik yang secara hakiki dipergunakan dalam pertukaran, maupun dalam pertukarannya mempergunakan uang kertas, dengan cadangan emas dan perak, di tempat-tempat tertentu. Inflasi terjadi apabila ditemukannya emas begitu besar, atau ada bencana alam yang menyebabkan kas negara terkuras.

Kedua, Pasar Uang, Pada pasar uang, adakalanya pertukaran mata uang tersebut merupakan pertukaran mata uang dengan mata uang lain yang sejenis, seperti pertukaran emas dengan emas, perak dengan perak. Adakalanya pertukaran mata uang yang berbeda jenisnya, seperti pertukaran emas dengan perak, atau perak dengan emas.Syarat dalam pertukaran mata uang dengan mata uang lain yang sejenis adalah sama persis (berat dan jenisnya) dan sama sekali tidak boleh ada tambahan sedikitpun. Sebab tindakan seperti ini merupakan riba, dan hukumnya haram, seperti pertukaran emas dengan emas yang lain atau yang tidak sejenis, termasuk pertukaran antara uang kertas yang nilainya bisa ditukar menjadi emas dengan emas. Dalam sistem moneter islam yang tidak menerapkan suku bunga atau riba inilah yang akan menjaga kestabilan mata uang sebagaimana sudah pernah dipraktikkan jauh sebelumnya.

Wallahu’alam

[i] https://www.merdeka.com/uang/nilai-tukar-rupiah-tembus-rp-14800-per-usd-terendah-sejak-krisis-1998.html

Leave a Reply