Breaking News

Telaah : Bisnis Perang di Afghanistan, Corporate State Raih Keuntungan?

Dikutip dari BBC.com (16/8) pengeluaran AS di Afghanistan antara 2010 hingga 2012, ketika AS memiliki lebih dari 100.000 tentara di negara tersebut, menurut angka pemerintah AS biaya perang meningkat menjadi hampir $100 miliar per tahun. Pada 2018 pengeluaran tahunan sekitar $45 miliar menurut sumber dari seorang pejabat senior Pentagon yang menyatakan pada Kongres AS tahun itu dikarenakan lebih berkonsentrasi pada pelatihan pasukan Afghanistan.

Menurut Departemen Pertahanan AS, total pengeluaran militer di Afghanistan (dari Oktober 2001 hingga September 2019) telah mencapai $778 miliar. Selain itu, departemen luar negeri AS – bersama dengan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) dan lembaga pemerintah lainnya – menghabiskan $44 miliar untuk proyek-proyek rekonstruksi. Hal ini menjadikan total biaya – berdasarkan data resmi – menjadi $822 miliar antara 2001 dan 2019 yang digunakan AS sebagai basis untuk operasi terkait Afghanistan hal ini merupakan biaya yang sangat besar sekali.

Sedangkan menurut sebuah studi Brown University pada 2019, telah melihat pengeluaran perang di Afghanistan dan Pakistan, AS telah menghabiskan sekitar $978 miliar (perkiraan mereka juga termasuk uang yang dialokasikan untuk tahun fiskal 2020). Inggris dan Jerman – yang memiliki jumlah pasukan terbesar di Afghanistan setelah AS – masing-masing menghabiskan sekitar $30 miliar dan $19 miliar selama perang. Meskipun menarik hampir semua pasukan mereka, AS dan NATO telah menjanjikan total $4 miliar per tahun hingga 2024 untuk mendanai pasukan Afghanistan sendiri. Sejauh tahun ini, NATO telah mengirim pasokan dan peralatan senilai $72 juta ke Afghanistan. (BBC.com, 16/8/2021)

Sumber Daya Alam Melimpah

Mengapa AS dan sekutunya rela menghabiskan sumber daya yang besar di sana? Tidak hanya kepentingan politik untuk memukul lawan-lawannya, termasuk mencegah bangkitnya Islam politik, tidak menutup kemungkian terdapat motif ekonomi dibalik penguasaan AS. Padahal Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia.

Meskipun demikian, ternyata negara yang terkurung daratan di Asia Selatan dan Asia Tengah ini memiliki kekayaan mineral besar yang belum dimanfaatkan, yang mungkin saja bisa menjadikannya negara paling kaya. Pada 2010, pejabat militer dan ahli geologi AS mengungkap bahwa negara yang terletak di persimpangan Asia Tengah dan Selatan tersebut memiliki cadangan mineral senilai hampir US$1 triliun. (CNNIndonesia.com, 19/8/2021)

Cadangan mineral yang berada di tanah Afghanistan berupa besi, tembaga, emas, dan mineral tanah jarang yang tersebar di seluruh provinsi. Namun, yang paling utama adalah Afghanistan memiliki cadangan lithium terbesar di dunia. Seperti diketahui, lithium adalah komponen penting baterai dan teknologi lain yang saat ini masih langka.

Kebutuhan akan logam mineral seperti tembaga dan lithium untuk bahan baku untuk memproduksi berbagai produk teknologi non-fosil seperti panel surya dan kendaraan listrik mengalami kenaikan permintaan. Sebuah laporan oleh Pemerintah Afghanistan pada tahun 2017 memperkirakan bahwa kekayaan mineral baru di negara itu mungkin mencapai 3 triliun dollar AS, termasuk bahan bakar fosil. (Kompas.com, 20/08/2021)

Sementara itu, dikutip dari CNN, Rod Schoover, seorang ilmuwan dari Ecological Futures Grou mengatakan, dari letak geografisnya, Afghanistan sudah tentu kaya akan mineral tambang. “Afghanistan tentu saja merupakan salah satu daerah yang kaya akan logam mulia, tetapi juga logam yang diperlukan untuk memenuhi ekonomi yang muncul di abad ke-21,” ujarnya.

Afghanisthan di dalam Cengkeraman Negara Kapitalis

Duta Besar Rusia di Kabul, Dmitry Zhirnov, menyatakan Taliban membuka peluang bagi partisipasi negaranya untuk mengembangkan sumber daya alam Afghanistan. Hal ini membuka bagi siapa saja untuk bersama-sama mengeruk kekayaan sumber daya alam yang ada di Afghanistan.

Sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu (15/8), “Taliban membuka peluang bagi partisipasi kami di di Afghanistan (dalam membangun) perekonomian, termasuk mengembangkan sumber daya alam,” kata Zhirnov kepada saluran YouTube Soloviev Live menurut laporan kantor berita TASS.

Saat negara-negara Barat masih menganggap Taliban sebagai organisasi teroris, tak demikian halnya dengan China dan Rusia. Kedua negara itu kemungkinan akan menjalin kerja sama bisnis dengan pemerintah baru tersebut. Sebagai produsen hampir setengah dari barang-barang industri yang beredar di seluruh dunia, China sangat haus akan bahan baku mineral. Bahkan, sejauh ini Beijing sudah menjadi investor asing terbesar di Afghanistan.

Setelah negara itu dikuasai Taliban, China tampaknya akan memimpin investasi asing di sana. “Kontrol Taliban datang pada saat ada krisis pasokan untuk mineral ini di masa mendatang dan China membutuhkannya,” ujar Michael Tanchum, seorang pakar senior dari Austrian Institute for European and Security Policy.

“China sudah dalam posisi di Afghanistan untuk menambang mineral ini,” kata dia lagi. Salah satu raksasa pertambangan raksasa Asia, Metallurgical Corporation of China (MCC), telah memiliki konsesi 30 tahun untuk menambang tembaga di provinsi Logar yang tandus di Afghanistan.

Dikutip dari suatu laporan yang dikutip melalui The Intercept, bahwa $10.000 yang sudah diinvestasikan dalam saham pertahanan ketika perang afghanistan dimulai, saat sekarang nilai saham tersebut sudah berharga berkisar $100.000. Artinya patut dipertanyakan apakah Perang Afghanistan gagal? Ternyata bagi lima kontraktor pertahanan teratas dan pemegang sahamnya tidak gagal melainkan meraih keuntungan.

Berarti jika kita membeli $10.000 saham yang dibagi rata di antara lima kontraktor pertahanan teratas Amerika pada tanggal 18 September 2001 — hari di saat Presiden George W. Bush menandatangani Otorisasi Penggunaan Kekuatan Militer sebagai tanggapan atas serangan teroris 9/11 — dan dengan setia menginvestasikan kembali semua dividen, nilai saham saat ini akan bernilai $97,295.

Ini adalah pengembalian yang jauh lebih besar daripada yang tersedia di pasar saham secara keseluruhan selama periode yang sama. $10.000 yang diinvestasikan dalam dana indeks S&P 500 pada tanggal 18 September 2001, sekarang akan bernilai $61.613. Artinya, saham pertahanan mengungguli pasar saham secara keseluruhan sebesar 58% selama Perang Afghanistan. Selain itu, mengingat bahwa lima kontraktor pertahanan terbesar – Boeing, Raytheon, Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan General Dynamics – tentu saja merupakan bagian dari S&P 500.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa tidak benar untuk menyimpulkan bahwa pengambilalihan langsung oleh Taliban atas Afghanistan setelah kepergian AS berarti bahwa Perang Afghanistan telah gagal. Sebaliknya, dari sudut pandang beberapa orang paling berkuasa di AS, ini mungkin merupakan keberhasilan yang luar biasa. Khususnya, dewan direksi dari kelima kontraktor pertahanan termasuk di ataranya merupakan pensiunan perwira militer tingkat atas.

Beberapa komentator membahas dinamika ini dalam film dokumenter 2005 “Why We Fight,” tentang peringatan yang dikeluarkan Presiden Dwight Eisenhower tentang kompleks industri militer. Mantan kontraktor CIA dan akademisi Chalmers Johnson menyatakan, “Saya jamin, ketika perang menjadi begitu menguntungkan, Anda akan melihat lebih banyak lagi.” Seorang pensiunan letnan kolonel Angkatan Udara mengatakan, “Orang Amerika yang memiliki putra atau putri yang akan dikerahkan … mereka melihat biaya-manfaat, dan mereka berkata, ‘Saya tidak berpikir itu bagus.’ Tapi ketika politisi yang memahami kontrak, kontrak masa depan, ketika mereka melihat perang, mereka memiliki analisis biaya-manfaat yang berbeda.”

Ini adalah hasil khusus untuk kontraktor terkait sejak September 2001. Semua kecuali Boeing menerima sebagian besar pendapatan mereka dari pemerintah AS. Berikut lima kontraktor yang mendapatkan keuntungan besar.[1]

NoNama Perusahaan kontraktor Total PengembalianPengembalian TahunanNilai saham tahun 2001Nilai saham sekarang
1Boeing

 

974,97%12,67 %$10.000$107.588,47

 

Dewan DireksiEdmund P. Giambastiani Jr. (mantan wakil ketua, Kepala Staf Gabungan), Stayce D. Harris (mantan inspektur jenderal, Angkatan Udara), John M. Richardson (mantan kepala operasi Angkatan Laut)
2Raytheon331,49 %7,62 %$10.000$43.166.92
Dewan DireksiEllen Pawlikowski (pensiunan jenderal Angkatan Udara), James Winnefeld Jr. (pensiunan laksamana Angkatan Laut), Robert Work (mantan wakil menteri pertahanan)
3Lockheed Martin1.235,60 %13,90 %$10,000$133.559.21
Dewan DireksiDewan termasuk: Bruce Carlson (pensiunan jenderal Angkatan Udara), Joseph Dunford Jr. (pensiunan jenderal Korps Marinir)
4General Dynamics625,37 %10,46 %

 

$10.000$72.515.58
Dewan DireksiRudy deLeon (mantan wakil menteri pertahanan), Cecil Haney (pensiunan laksamana Angkatan Laut), James Mattis (mantan sekretaris pertahanan dan mantan jenderal Korps Marinir), Peter Wall (pensiunan jenderal Inggris)

 

5Northrop Grumman1.196,14%13,73 %$10,000$129,644,84
Dewan DireksiGary Roughead (pensiunan laksamana Angkatan Laut), Mark Welsh III (pensiunan jenderal Angkatan Udara)

 

Bagi S&P 500 total pengembalian: 516,67 persen, pengembalian tahunan: 9,56 persen, $10.000 pembelian saham 2001 hari ini: $61.613.06. Sedangkan untuk keranjang lima saham kontraktor teratas, total pengembalian: 872,94 persen, $10.000 pembelian saham 2001 ($2.000 setiap saham) hari ini: $97,294.80.

Semua perhitungan pengembalian saham dilakukan dengan kalkulator DRIP Saluran Dividen untuk periode dari 18 September 2001 hingga 15 Agustus 2021. Perhitungan tersebut mencerminkan pengembalian kotor dari pajak dan biaya apa pun dan tidak disesuaikan dengan inflasi.

Alhasil, umat Islam dan negeri-negeri Muslim masih dijajah secara politik dan ekonomi. Kapitalis dengan corporate maupun corporate state-nya menjarah sumber daya alam negeri muslim dengan leluasa. Ide Kapitalis yang berasas pada paham sekulerisme masih mencengkeram dunia dan menimbulkan kesengsaraan. Afghnistan masih jauh dari kemengan Islam, justru bagi sebagian pihak ini merupakan keuntungan khususnya bagi corporate state. Saatnya Islam bangkit dan mengambil alih kepemimpinan dunia dengan tetap meniti thoriqoh dakwah Rasulullah saw.[]

[1] https://theintercept.com/2021/08/16/afghanistan-war-defense-stocks/