Breaking News

Tidak Bisa Untuk Tidak Ikhlas (Terwujudnya Manthiqul Ihsas dan Ihsasul Fikriy)

Oleh : W. Irvandi

Para pengemban dakwah yang ikhlas seringkali menghadapi berbagai cobaan dan godaan di dalam setiap perjuangan dakwahnya. Namun itu semua dapat mereka lalui dikarenakan sudah mengkristalnya pemikiran islam di dalam diri mereka sehingga mereka menjadi pribadi yang ikhlas.

Dalam kitab at-Takattul al-Hizbiy  telah dijelaskan bahwa suatu pemikiran ketika belum mengkristal maka belum ada suasana di dalam dirinya, yakni suasana tertunjuki pada ideologi islam. Akan tetapi, apabila pemikiran itu hasil dari manthiq al-ihsâs, yakni pemahaman yang muncul  dari kesadaran yang bersifat penginderaan (al-idrâk al-hissiy), maka ia akan mewujudkan penginderaan bersifat pemikiran (ihsas al-fikriy) yakni mewujudkan penginderaan yang jelas hasil dari pemikiran yang mendalam.

Hasilnya adalah pemikiran itu akan menyinari orang yang mengembannya dan menjadikannya seorang yang ikhlas, sampai-sampai ketika dia ingin untuk tidak menjadi seorang yang ikhlas, ia tidak bisa dan tidak mampu.

Berarti seseorang perlu mewujudkan manthiqul ihsas yaitu pemahaman yang diwujudkan dari kesadaran ketika mengindera sesuatu. Kemudian ia mampu menjadikan penginderaan tersebut hasil dari pemikiran yang mendalam yaitu ihsasul fikri.

Di dalam kitab Mafâhîm Hizbut Tahrir, dijelaskan juga hendaknya pemahaman dan pemikiran itu keduanya merupakan hasil dari penginderaan bukan dari asumsi-asumsi. Dan hendaknya penginderaan terhadap fakta itu berpengaruh di dalam otak, bersamaan dengan informasi awal akan mewujudkan pemikiran. Inilah yang merealisasikan kedalaman dalam berpikir dan merealisasikan hasilnya dalam perbuatan.

Sesungguhnya manthiq al-ihsâs itu berarti seseorang mengambil pemikiran/pemahaman setelah penginderaannya secara langsung terhadap fakta dan menelaahnya, bukan melalui jalan talaqqiy (menerima) dan talqin (pengajaran/instruksi) yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Hal ini berarti pemikiran yang bersandar pada penginderaan secara langsung dan akan lebih kuat serta lebih kokoh sebab berhubungan dengan penginderaan secara langsung.

Misalnya kesadaran seseorang tentang sejauh mana kemerosotan dan keterbelakangan yang menimpa Afrika. Apabila kemerosotan tersebut diperoleh melalui informasi, maka akan berbeda jauh tatkala ia melakukan kunjungan ke Afrika dan menelaah langsung fakta yang ada di sana. Melalui penelaahan secara langsung akan sampai kepada kesimpulan terhadap Afrika, yakni dalam kondisi terbelakang dan mundur.

Adapun ihsâs al-fikriy (penginderaan intelektual) adalah penginderaan terhadap fakta namun terlebih dahulu memiliki pemikiran mendalam terkait fakta tersebut sebelum menginderanya. Maka penginderaan dan pemahamannya tanpa diragukan lagi akan lebih kuat dan lebih kokoh dari penginderaannya yang murni. Ihsâs ash-sharf (penginderaan murni) adalah mengindera fakta tanpa memiliki pemikiran yang berkaitan dengan fakta itu.

Misalnya, pemahaman seseorang terhadap fakta Afrika. Apabila diawali dengan memiliki pengetahuan dahulu tentang makna kemerosotan, dan memiliki pengetahuan tentang perbedaan antara kemerosotan dan kebangkitan maka seseorang tersebut pemahamannya akan lebih kuat daripada sebelum ia mengetahui makna kemerosotan dan kebangkitan.

Penginderaannya tentang betapa mengerikannya eksploitasi Barat terhadap Afrika dan perampokan Barat terhadap kekayaan Afrika menjadi lebih kuat setelah ia mengetahui secara pemikiran mendalam mengenai politik negara-negara Barat terhadap Afrika. Penginderaannya itu jauh lebih kuat daripada penginderaannya tentang eksploitasi sebelum adanya pengetahuan tentang politik barat.

Karena itu, para pengemban dakwah di Afrika mengindera merosotnya masyarakat di sana dan betapa mengerikannya eksploitasi negeri mereka. Penginderaan mereka jauh lebih banyak dan lebih kuat dari orang lain karena pemahaman mereka terhadap makna kemerosotan dan penelaahan mereka terhadap politik negara-negara imperialis terhadap negeri mereka dan pengetahuan mereka terhadap kerakusan negara-negara ini. Sedangkan orang lain, penginderaan mereka terhadap hal itu adalah lebih lemah, bahkan sebagian dari mereka tidak memperhatikannya.

Pemikiran transformatif yang dicapai oleh partai ideologis terjadi melalui manthiq al-ihsâs dan akan mewujudkan ihsâs al-fikriy yang akan menjadikan para pengembannya memandang fakta dan menginderanya secara benar dan jujur. Oleh karena itu, pemikiran ini tanpa diragukan lagi akan menjadi pemahaman-pemahaman yang benar pada pemiliknya.

Akhirnya para pengemban dakwah tidak berhenti pada batas informasi-informasi teori, namun juga memahami hakikat-hakikat suatu peristiwa. Sehingga dia tidak mampu kecuali menjadi orang yang ikhlas dan jujur seperti pemikiran yang diembannya. Dia tidak mampu menipu dirinya sendiri dan membisikinya bahwa faktanya berbeda dengan apa yang dilihat. Dan dia akan memandang fakta menurut hakikatnya, serta mengetahui solusi menurut hakikatnya. Sehingga ia tidak kuasa kecuali menjadi seorang yang ikhlas, selama masih mengemban pemikiran ini.

Jadi bagi para pengemban dakwah teruslah memahami pemikiran islam dengan mengkaji islam dan teruslah mengindera fakta/peristiwa yang terjadi secara langsung bukan dari asumsi atau khayalan untuk mewujudkan ihsasul fikriy. Wallahu’alam

Sumber : http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_41993

Leave a Reply