Breaking News

Tokoh Tritagonis

oleh : Zawanah Filzatun Nafisah (Relawan Opini)

Anda mungkin sering mendengar tokoh antagonis? Begitu juga protagonis, bukan? Keduanya akan selalu asimetris dalam drama. Dari drama keluarga cemara hingga drama korea, kedua tokoh berbeda ini saling ingin mendominasi dan menjadi daya tarik bagi penonton. Namun ada satu tokoh yang kadang diharap tak dimunculkan agar drama makin banyak berseri, namun perannya sangat penting dalam alur cerita yakni tokoh tritagonis. Posisinya netral, bahkan menjadi tokoh yang dipercayai mengakhiri problematika antara tokoh antagonis begitupun protagonis.

Panggung sandiwara negeri ini sudah dalam kisah klimaks. Tokoh antagonis (yang secara umum bersifat buruk) mendatangi tokoh protagonis (yang secara umum bersifat baik) berkali-kali dan penuh intervensi. Lucunya, tokoh protagonis tidak tahu yang mengunjunginya adalah tokoh antagonis. Disambut dengan penghormatan yang sangat apik dan berkelas.

5 Agustus lalu Presiden Joko Widodo menerima kunjungan menteri luar negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo. Untuk meyakinkan strategic partnership antara Indonesia dan Amerika yang dibangun sejak 2015. Presiden mengatakan ia yakin Indonesia dan Amerika dapat mengembangkan hubungan perdagangan yang saling menguntungkan karena produk-produk yang dihasilkan kedua negara tidak saling berkompetisi, tapi saling melengkapi.[i] Ada 53% produk Indonesia dengan GSP (Generalized System of Preferences/ bebas tarif masuk AS) dan produk itu sangat dibutuhkan di AS. Berdasarkan data BPS hingga Mei 2018, produk ekspor non migas ke AS dengan GSP tercatat sebanyak 10,91 persen dari total ekspor atau setara dengan nominal US$ 7,43 miliar. Oleh karena itu indonesia sangat berharap AS tidak menghapus GSP tersebut.

Tak lupa dibahas juga Asean Games 2018 yang diselenggarakan di Indonesia menjadi bagian komitmen Indonesia untuk mendukung terciptanya perdamaian di Semenanjung Korea. Sedihnya, indonesia menyampaikan harapannya kepada AS agar berkontribusi atas perdamaian dunia termasuk tetap berpendirian bahwa two state solution merupakan satu-satunya opsi bagi kemajuan Pelestina. Ya Allah, bagaimana kita bisa berharap pada pelaku kejahatan itu sendiri? Kejahatan itu berhenti tidak dengan retorika rayuan kita, tapi perlawanan!

Disinilah tokoh ketiga yakni Khalifah akan saya perjuangkan masuk panggung. Kisah untuk tokoh ketiga dimulai dari gegap gempitanya kesadaran politik umat Islam akan kepemimpinan seorang muslim dengan Islam sebagai landasan kebijakannya. Memang akan lama karena yang mau ditopang dulu adalah kesadaran penonton akan kehadiran tokoh ketiga, tokoh tritagonis.

Skenario bakunya sudah dicontohkan Rasulullah SAW yakni dengan dakwah Islam. Delta perkembangan dakwah yang signifikan akan menuai konsensus bersama umat demi penegakan khilafah dengan penuh kesadaran. Sekaligus sikap meninggalkan pengaturan sistem kapitalisme, sekulerisme dan sosialisme yang selama ini subur namun mengancurkan darat dan lautan. Tanpa perlu kudeta, tanpa teror, tidak mengulur dan menyembunyikan maksud perjuangan dengan perbaikan bidang ekonomi atau terkait akhlaq semata. Disisi lain ini menumbuhkan aspek politik islam (siyasah al islamiyah) sesuai metode (thariqoh) Rasulullah SAW. Tokoh antagonis yang berlaga dipanggung, dapat diturunkan penonton dengan dakwah politik pada ‘dalang’ sang simpul cerita untuk menghadirkan tokoh tritagonis bernama Khalifah dengan sistem Khilafahnya.

Mari kita lihat, bagaimana harapan itu bisa terwujud. Skematika Politik Luar Negeri yang dilakukan Khalifah akan terikat Al Qur’an dan As Sunnah. Dua perkara yang akan diperhatikan terlebih dahulu yakni pertama, aspek politik dan turunannya diantaranya perjanjian, kesepakatan damai, gencatan senjata, pelaksanaan berbagai perundingan, tukar menukar duta, pengiriman berbagai utusan dan delegasi serta pendirian berbagai kedutaan dan konsulat. Kedua, aspek ekonomi dan sejenisnya seperti : pertanian, perdagangan, pos, telekomunikasi komunikasi nirkabel dan satelit dan lain-lain.

Berikutnya, kedua aspek diatas bisa dilakukan atau tidak dilakukan dengan negara lain sangat tegas bersadarkan pemetaan status negara lain tersebut. Pertama, jika negara itu menjajah/menduduki wilayah Islam, terlibat secara aktif memerangi umat Islam maka ditetapkan berdasarkan kebijakan Harbi Fi’lan (perang riil). Tidak boleh ada hubungan diplomatik maupun ekonomi antara Khilafah dengan negara-negara musuh ini. Warga negara mereka tidak diizinkan memasuki wilayah Daulah Khilafah. Meski tengah terjadi gencatan senjata yang bersifat temporer, negara-negara itu tetap diperlakukan sebagai Harbi Fi’lan. Hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara tersebut tetap tidak dilakukan. Hal ini untuk perlindungan maksimal bagi warga negara baik muslim dan non muslim yang hidup dalam Khilafah Islam yang harus dijaga eksistensinya dengan jihad.

Kedua, jika negara-negara Kafir yang lain namun tidak menduduki wilayah Islam, atau tidak sedang memerangi umat Islam, akan tetapi mereka mempunyai niat menduduki wilayah Islam. Khilafah tidak menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara Kafir seperti ini. Tapi warga negara-negara tersebut diizinkan memasuki wilayah Daulah Khilafah dengan visa sekali jalan (single entry). Dipandang ini sebagai peluang dakwah negara agar mereka kemudian mau hidup bersama dan tunduk dalam naungan Khilafah Islam.

Ketiga, jika negara-negara Kafir selain kedua kategori di atas. Terhadap negara-negara seperti ini, Khilafah diizinkan membuat perjanjian. Sambil terus mengamati skenario politik internasional, Khilafah diperbolehkan menerima atau menolak perjanjian demi kepentingan dakwah Islam. Di samping itu, perjanjian diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara Kafir jenis ini harus dilakukan sesuai dengan syariah Islam. Daulah Khilafah yang menguasai sumber daya minyak, gas dan aneka mineral yang melimpah serta memiliki kekuatan militer yang tangguh, kedudukan yang strategis di dunia, visi politik yang cemerlang, pemahaman tentang situasi politik internasional yang mendalam serta umat yang dinamis, akan mampu menghindari isolasi politik internasional dan terus berupaya meraih kedudukan sebagai negara terkemuka di dunia.

Sungguh, dakwah dan jihad dilakukan tokoh tritagonis dengan sangat bijaksana. Melakukan penyebaran islam, tingginya daya integrasi dan melindungi yang lemah seperti yang dialami daerah konflik. Kalau ada istilah bahwa pahlawan adalah yang berhasil menumpas kejahatan, maka Khalifah adalah pahlawan yang tidak hanya bisa menumpas kejahatan, namun dengan dakwahnya bisa menjadikan yang jahat menjadi baik bahkan bisa mendapatkan rahmat dari Allah Subhanahu wataa’ala. Firman-Nya dalam Al Quran Surat Al Anbiya’ ayat 107:

 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

 

-Malang, 1 September 2018-

[i] www.presidenri.go.id

Leave a Reply