Breaking News

Totalitas memaknai hari raya qurban

Oleh : Ranoval ab (aktivis dakwah islam)

Setiap tahunnya umat Islam memiliki dua hari raya besar yakni pertama Idul Fitri yang baru saja sekitar dua bulan lalu umat islam merayakannya dan kedua hari raya idul adha atau hari raya qurban. Perayaan idul fitri kerap diidentikan dengan berkunjung kerumah sanak keluarga, hal ini juga sebagai ungkapan kegembiraan setelah satu bulan penuh ramadhan berpuasa. Sedangkan idul adha pada faktanya ada sebagian umat Islam tidak begitu mendalami makna penting yang terkandung dalam Idul Adha sehingga perayaannya pun hanya berupa rutinitas shalat id dan penyembelihan qurban saja.

Jika kita pelajari lebih dalam tentang makna yang terkandung pada hari raya Idul Adha yaitu tentang ketaatan penuh, kasih sayang, keikhlasan, pengorbanan dan persatuan umat Islam. Ketaatan dan pengorbanan. Ketaatan yang dimaksud adalah senantiasa patuh terhadap semua perintah Allah SWT, meskipun untuk tersebut kita harus melakukan pengorbankan terhadap sesuatu yang paling kita cintai dan sayangi. Dan juga tentang Pengorbanan dalam artian sikap mengorbankan apa saja yang kita miliki dan cintai sebagai ketaatan kita kepada Allah SWT, namun bukan berarti Allah SWT melakukan tindakan zalim maupun keji dengan mewajibkan pengorbanan tersebut.

Kisah yang sering kita dengar saat mendekati idul adha adalah kisah dalam al qur’an (QS. As-Saffat : 102) terkait ketaatan dan pengorbanan total dalam melaksanakan perintah Allah Swt. kisah tersebut adalah kisah ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim As dan putra kesayangannya yakni Nabi Ismail As. Yang mana ketaatan dan pengorbanan tersebut tergambar saat Nabi Ibrahim a.s. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya (dengan kata lain membunuhnya, dikarenakan proses penyembelihan itu dapat menghilangkan nyawa)

Barangkali ada diantara kita yang mengangggap kisah di atas sangat luar biasa tapi tetap saja berat untuk diikuti dengan berbagai perkataan seperti “ah itukan nabi”. Bagi kita untuk meneladani kekuatan keyakinan Nabi Ibrahim As yang dengan keteguhannya dalam menjalankan perintah Tuhannya sangat baik dan dapat pula mencontoh sikap ismail muda yang saat itu belum diangkat menjadi nabi saja sudah rela mengikuti ketaatan kepada perintah Allah Swt walaupun nyawa taruhannya. Sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak totalitas dalam mengikuti teladan nabi. Sikap meneladani ini bisa kita aplikasikan saat mengorbankan waktu untuk mengkaji Islam, mengamalkan dan berdakwah walaupun ditengah kesibukan mencukupi kebutuhan hidup.

Walaupun ibadah haji dan ibadah yang berkaitan dengan idul adha sangat erat hubungan manusia dengan allah swt. Namun dapat diambil hikmah bahwa Ibadah haji mencerminkan persatuan Umat islam. Di antara pelajaran terpenting dari ibadah haji tadi adalah pesan persatuan umat. Pesan ini sangat jelas sekali, ketika  Jamaah haji akan dapat menyaksikan berkumpulnya umat Islam dari seluruh pelosok dunia untuk melakukan ibadah yang sama, bersama mengucapkan kalimat Labbaika allahumma labbaik, Laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak (HR. Muslim) , di tempat yang sama dan dengan busana ihram yang sama tanpa membedakan lagi batasan negara bangsa (nation state), perbedaan suku, dan warna kulit.

Berkumpulnya jamaah haji dari seluruh pelosok dunia seharusnya menyadarkan mereka, bahwa yang mempersatukan umat Islam hanya agama Allah (Islam). Tak ada faktor pemersatu lainnya yang lebih penting baik itu suku, warna kulit, bangsa ataupun negara bangsa (nation state). Dan yang dapa tmenjadi pemersatu semua itu adalah kesatuan kepemimpinan, yaitu umat islam diseluruh didunia memiliki pemimpin yang satu. Terkait masalah waktu idul fitri dan idul adha yang seharusnya umat islam kompak, namun tidak adanya kesatuan kepemimpinan yang tunggal bagi seluruh umat islam menjadikan perbedaan disana-sini. Dengan kesatuan kepemimpinan inilah Rasulullah SAW juga telah menetapkan bahwa pelaksanaan manasik haji (seperti wukuf di Arafah, thawaf ifadlah, bermalam di Muzdalifah, melempar jumrah), harus ditetapkan berdasarkan ru’yat penduduk Mekah saja, bukan berdasarkan ru’yat penduduk Madinah, penduduk Najd, atau penduduk negeri-negeri Islam lainnya.

Wallahu’alam

Leave a Reply