Breaking News

ULAMA DAN PENGUASA

Oleh W.Irvandi (intelektual muslim)

Umat Islam tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati, ketentraman dan rasa aman, kemuliaan, serta kekuatan yang sempurna di dunia, melainkan ketika berada di bawah naungan sistem dan hukum-hukum islam. Keberadaan penguasa muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, yang berpedoman kepada kitabullah dan Sunnah rasul-Nya, yang menjaga ulama dan hubungan baik dengannya lah yang akan menghadirkan ketenangan bagi umat islam.

Para penguasa tersebut hadir di masjid-masjid bersama rakyat, pintu-pintu mereka terbuka lebar, tamu-tamu yang datang dimuliakan, para ulama di hormati dan para ahli fiqih diagungkan. Para penguasa pada masa itu mau mendengarkan nasehat dan peringatan, menerima kritikan dan pengingkaran dari para ulama dan para ahli fiqih.

Sebagian ahli sejarah juga menyebutkan berbagai peristiwa  seputar kezaliman dan buruknya penerapan sistem hukum islam yang dilakukan penguasa. Namun dengan sigap para ulama pun bangkit melaksanakan kewajiban syariah atas diri mereka, mengingkari kezaliman yang dilakukan penguasa dan berjuang untuk menghilangkan keburukan.

Hal ini semata-mata karena ingan menjalankan sabda rasulullah : “Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang dizalimi’. Kami bertanya : ‘wahai rasulullah, kami bisa menolong orang yang dianiaya, lalu bagaimana kami bisa menolong orang-orang yang zalim?’. Beliau berkata :’Engkau mencegahnya dari perbuatan zalim, itulah bentuk pertolongan baginya.” (HR Tirmidzi)

Tidak pernah ada seorang penguasa pun yang lolos dari kritikan dan pengingkaran para ulama, walaupun penguasa itu sudah menerapkan islam, mengurusi urusan umat dan menjalankan kewajibannya. Meski begitu, ada juga sebagian penguasa yang merasa sempit dadanya atau pengingkaran yang dilontarkan oleh para ulama, dan tidak suka dengan sikap para ulama terhadap mereka. Hal itu dilakukan dalam rangka menjaga kewibawaan pemerintah dan kecintaan mereka kepada kekuasaan, atau bisa juga karena kelalaian mereka terhadap Allah swt.

Oleh karenanya, para penguasa yang satu zaman dengan para ulama yang baik, dan bagaimana sikap para ulama itu terhadap mereka, telah menghasilkan kebaikan yang banyak bagi Islam, dan karunia agung bagi kaum Muslim tatkala mereka menjadikan islam sebagai hukum. Walaupun ada sebagiannya dijumpai keburukan dalam penerapan (hukum) islam, namun para ulama segera bangkit dan bersikap tegas dan keras atas buruknya penerapan tersebut. Para ulama tidak pernah mengenal kata menyerah. Malahan diantara mereka ada yang harus menanggung berbagai resiko dalam rangka menjalankan kewajiban yang Allah bebankan kepada ulama, pejuang syariah, dan pegiat amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini sejalan dengan firman Allah

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama” (TQS Fathir [35] : 28)

Namun kebaikan yang diharapkan hari ini mungkin tidak kunjung datang dikarenakan ulama banyak yang dizalimi. Para penguasa yang buruk memiliki kebiasaan menyiksa orang yang berbeda pendapat dan bertolak belakang dengan mereka. Orang-orang yang menentang pemikiran mereka yang batil, orang-orang yang tidak sejalan dengan keinginan dan hawa nafsunya maka tidak akan segan menjatuhkan hukuman yang menghinakan kepada mereka.

Rasulullah bersabda : “DI tengah manusia itu ada dua kelompok. Jika mereka baik maka baik pula seluruh manusia. Dan jika mereka rusak maka rusak pula seluruh manusia. Mereka itu adalah ulama dan penguasa. (HR Abu Nu’aim)

Jika para ulama dan penguasa tidak seperti yang diharapkan maka akan rusaklah kondisi masyarakat. Para penguasa akan memuaskan hawa nafsunya untuk meraih apapun yang diinginkan walupun bertentangan dengan islam. Membungkam siapa saja yang melawan, rantai dan jerujinya menjadi senjata mereka. Begitu juga apabila ulama tidak bereaksi, diam seribu bahasa, tidak melakukan penentangan, tidak melakukan perubahan dan tidak memberikan nasehat atau peringatan maka wajar saja kerusakan melanda seluruh negeri. Sampai-sampai sudah tidak ada lagi faedahnya ucapan, nasehat dan petunjuk.

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata : ”Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab : “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (TQS. Al-A’araf [7] : 164)

Kerusakan telah meliputi seluruh permukaan bumi dengan beragam jenis bentuknya. Ada para ulama bergabung dengan penguasa dan menjalin kasih sayang dalam rangka menjamin suara ulama tersebut tetap terjaga walaupun melemahkan mareka. Ada juga ulama yang mengenakan baju kebatilan dengan berhiaskan kebenaran, membuat indah para penguasa yang bertindak zalim. Mereka telah menjual agama dengan secuil harta dunia yang fana. Sebagian ulama ada juga menjalin kerjasama dengan penguasa dalam rangka menegakkan kebenaran, menyebarkan kebaikan, dengan jalan menguasai jabatan peradilan dan pegawai negara. Mereka yang mengingkari kezaliman penguasa maka akan selamatlah dirinya.

Rasulullah saw  bersabda :

“Akan ada para umara (penguasa) yang memerintah kalian dengan apa yang mereka sendiri tidak kerjakan. Barangsiapa membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan termasuk golonganku, dan aku bukan termasuk golongannya, dan ia tidak akan mendatangi telaga al-haudl (di surga)” (HR Ahmad)

Semua itu bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena mereka (baik para ulama maupun penguasa) adalah manusia biasa, bukan malaikat. Manusia bisa salah, manusia bisa berbuat dosa. Mereka adalah anak cucu Adam. Namun sebaik-baiknya manusia adalah dia yang mau bertobat dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sudah diperbuat.

“Setiap anak cucu Adam pernah berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertobat” (HR Ibnu Majah)

Leave a Reply