Breaking News

WAJIB MENGUBAH KEMUNKARAN

Oleh : W.Irvandi

Allah dan Rasulullah telah menurunkan syariah islam untuk orang-orang yang beriman. Dan diperintahkan kepada setiap orang beriman itu untuk menyembah Allah Swt. Bersamaan juga dengan perintah untuk berbuat baik kepada orangtua, dan juga diperintahkan untuk saling menasihati dan berdakwah mengubah kemungkaran menjadi kondisi yang sejalan dengan ajaran Islam.

Salah satu di antaranya perintah tersebut didalam hadits.

:عن أبي سعيد الخدري قال: سمعت رسول الله صل الله عليه وسلم يقول
من رأى منكم منكرا، فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu : saya mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya, dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Dalam hadits di atas terdapat perintah secara tegas untuk berdakwah. Yaitu Kemungkaran harus diubah menjadi ma’ruf. Kemudian Rasulullah Saw juga menjelaskan bahwa mengubah kemungkaran itu ada tingkatan-tingkatannya. Tingkatan pertama kita harus mengubahnya dengan tangan, yaitu kekuasaan kita. Dalam hal ini merubah kemungkaran di suatu masyarakat adalah dengan sarana kekuasaan berarti wewenangnya penguasa. Oleh karena itu, penguasa dan pemimpin idealnya adalah orang-orang yang cenderung kepada kebaikan dan kebenaran, sehingga ketika melihat kemungkaran, mereka tergerak untuk memperbaikinya, bukan memperkeruh suasana dengan berbuat kemungkaran. Atau bahkan menjadi pelaku kemungkaran itu sendiri. Tahapan ini dipandang paling efektif dalam mengubah kemungkaran, karena yang bergerak adalah aparat dan kebijakan.

Tingkatan selanjutnya, jika tidak mampu mengubah dengan tangan, maka dengan lisannya. Itulah dakwah dengan lisan yaitu dengan ceramah dan nasihat. Hal ini sangat banyak dilakukan para dai, hanya memang tidak terlihat secara jelas efektivitasnya dalam merubah kemungkaran. Penyebabnya bisa dari banyak faktor, di antaranya yang perlu menjadi bahan introspeksi para dai adalah faktor “keikhlasan” dan “keteladanan”.

Tingkatan terakhir dalam hadits di atas adalah mengubah dengan hati, dengan mengingkari dalam hati bahwa yang mungkar tetaplah mungkar sambil berdoa kepada Allah Swt. agar kondisi segera berubah. Tahap ini dipandang sebagai indikator iman yang paling lemah, karena tidak mampu melakukan dengan kekuasaan dan tidak pula dengan lisannya. Hadits di atas menyiratkan perlunya kekuatan yang dimiliki oleh umat Islam supaya dapat mengubah kondisi melalui kekuasaannya.

Dalam konteks yang ketiga ini Rasulullah juga mengingatkan :

 إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءٌ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهمْ ، فَلَيْسُ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ حَوْضِي ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Akan ada setelahku nanti para pemimpin yang berdusta. Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kedhaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telagaku (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (penguasa dusta) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kedhaliman mereka, maka dia adalah bagian dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telagaku (di hari kiamat).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Bahwa posisi yang ketiga ini tidak pernah membenarkan dan menyetujui kemunkaran, apalagi kemungkaran dari penguasa. Dan bukan malahan menjadi penolong dan pendukung para penguasa yang berbuat kemungkaran. Keberadaan penguasa yang taat kepada Allah akan melahirkan undang-undang berdasarkan alquran dan assunah yang baik dan layak untuk semua pihak, ditunjang oleh para penegak hukum yang berpihak dan memiliki komitmen yang tinggi kepada kebenaran. Di samping itu, karena pemerintah juga manusia yang memiliki kecenderungan korup dan khilaf, maka perlu adanya keberanian rakyat untuk “menasihati” penguasa sebagai kekuatan kontrol.

Agar kondisi kemungkaran hari ini bisa kita hindari maka ketika tingkatan untuk mengatasi kemungkaran harus dijalankan. Hal ini dapat terwujud jika para penguasa dan pemimpinnya cenderung dan peduli kepada perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Para dai menyampaikan dengan penuh keikhlasan dan keberanian, dan adanya masyarakat yang selalu menolak kemungkaran yang ada dan tidak akan menolong atau membenarkan berbagai kebohongan penguasa. Oleh karenanya diperlukan kesadaran para penguasa untuk menerima semua masukan dan saran dari rakyat. Pemandangan seperti itulah kira-kira yang terjadi pada saat Umar bin Khattab dinobatkan sebagai pemimpin. Beliau berkhutbah dengan tegas, “Aku telah dipilih menjadi pemimpin kalian padahal aku bukanlah yang terbaik dari kalian. Oleh karena itu, jika aku berada di atas jalan yang benar maka dukunglah, namun jika aku sedang menyimpang dari kebenaran maka ingatkanlah…”

Leave a Reply