Breaking News

21 Agustus Sebagian Warga Selenggarakan Sholat Idul Adha di Pontianak

Perayaan Idul Adha di Indonesia tahun ini terjadi perbedaan dengan jamaah yang sedang melaksanan ibadah haji di Mekah. Pemerintah Saudi Arabia sebagai otoritas pelaksana ibadah haji menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H jatuh pada tanggal 12 Agustus 2018 yang artinya 10 Dzulhijjah akan terjadi pada tanggal 21 Agustus 2018. Sementara itu pemerintah Indonesia menetapkan 1 Dzulhijjah 1439 jatuh pada tanggal 13 agustus yang artinya 10 Dzulhijjah akan terjadi pada rabu, 22 Agustus.


Akibat dari peredaran tanggal ini berpengaruh pula bagi jamaah yang berada di tanah air. Sebagian jamaah merayakan idul adha bersamaan dengan perayaan Idul Adha di Mekah. DI banyak tempat diselenggarakan sholat i’d termasuk di Pontianak. Salah satu penyelenggaraan sholat Idul Adha di Kota Pontianak berlangsung di lapangan ruko jalan sepakat II. Sejak pukul enam pagi kaum muslimin di daerah sepakat II sudah terlihat antusias mempersiapkan ibadah sholat i’d. Yang bertugas sebagai Imam pada sholat i’d tersebut adalah ustadz Muhammad Kurniawan dan Khatib diamanahi kepada Ustadz Anang Hermawan.

Ustadz Anang yang naik ke atas podium seusai sholat berkali-kali melantunkan takbir sebelum memulai khutbah. Tema khutbah yang disampaikan adalah Haji dan Kurban: Ketaatan, Perjuangan, dan Pengorbanan. Dalam khutbahnya, ustadz Anang menyampaikan fakta bahwa di tengah kebahagiaan perayaan hari raya, Tanah air kita juga sedang dirundung banyak penderitaan. Saat yang sama. Rakyat terus ditimpa nestapa. Kemiskinan. Pengangguran. Harga-harga kebutuhan pokok yang terus melonjak. Utang negara yang terus menumpuk. Juga aneka persoalan lainnya. Ironisnya, semua derita rakyat itu terjadi di tengah keberlimpahan kekayaan alam negeri ini. Pada kesempatan itu Ustadz Anang mengingatkan umat Islam untuk tak pernah berjuang meskipun harus berkorban. Khutbah ini juga diisi dengan ajakan mengingat kembali khutbah Rasulullah Saw saat melakukan haji wada di Mekah.

Beberapa poin penting dari isi khutbah Rasulullah SAW tersebut di antaranya kita diingatkan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dengan non Arab. Semua suku ras di dunia ini sama, di hadapan Allah yang dilihat hanya taqwa. Kedua, agar kita senantiasa menjaga darah, harta, dan kehormatan. Tidak merampas harta orang lain. Tidak boleh saling menumpahkan darah dan terlarang untuk saling menilai kehormatan orang lain.

Pada saat haji wada tersebut Rasulullah juga memerintahkan umatnya untuk meninggalkan riba. Namun sayang apa yang diperintahkan Rasulullah 14 abad lalu tersebut malah dilanggar dan masih digunakan hingga hari ini. Riba telah meliputi hampir seluruh umat manusia. Hal keempat, kita juga diperintahkan untuk menjaga kehormatan wanita. Kelima senantiasa menjaga tali persaudaraan. Keenam untuk saling menasihati. Termasuk menasihati penguasa apabila penguasa tersebut berbuat zalim atau melanggar syariat yang lain. Ketujuh kita diwajibkan untuk senantiasa berpegang teguh pada tali Allah.

Berulang-ulang Khatib memekikkan takbir kemudian melanjutkan khutbahnya. Katanya, sayang sekali hampir semua yang sudah diprintahkan Rasulullah tersebut kita langgar. Banyak perkara halal diharamkan dan sebaliknya sesuatu yang haram dihalalkan. Tak jarang semua itu dilegalkan lewat undang-undang. Lewat mekanisme demokrasi yang dibangga-banggakan.

Karena itu pula, pada momen penting Idul Adha ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah. Dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim as. Dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT. Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna. Bahkan dengan kadar yang istimewa. Oleh Baginda Rasulullah saw. Bukan hanya cinta. Bukan hanya taat. Bahkan beliau pun siap mengorbankan segalanya. Semata-mata demi meraih ridha-Nya. Bukan hanya waktu. Bukan hanya tenaga. Bukan hanya harta dan keluarga. Bahkan nyawa sekalipun beliau pertaruhkan demi tegaknya agama Allah SWT ini.
Cinta, ketaatan dan pengorbanan Rasulullah saw. ini lalu diwarisi oleh para Sahabat beliau. Juga generasi setelah mereka sepanjang masa Kekhilafahan Islam. Saat Khilafah mengemban Islam ke seluruh penjuru bumi. Atas jasa dan pengorbanan merekalah Islam bisa sampai ke berbagai negeri. Termasuk di Bumi Nusantara ini. – PY

Leave a Reply